
Photo
Jawapos.com- Bagi Barcelona dan Real Madrid, suporter tak hanya berfungsi sebagai penonton pertandingan. Mereka punya kekuasaan dahsyat. Yakni turut menentukan siapa presiden klub berikutnya, plus mempengaruhi kebijakan transfer pemain. Disebut-sebut sebagai paling sistem ideal.
DI balik sukses Barcelona dan Real Madrid, tidak ada nama pemilik modal seperti Sheikh Mansour atau Roman Abramovich sebagai penguasa. Yang paling berkuasa di kedua klub raksasa La Liga itu adalah suporter.
Ya, fans tidak hanya sekedar datang ke stadion, mengeluarkan uang untuk membeli tiket dan menonton pertandingan (lalu menggerutu apabila tim kesayangannya kalah). Mereka bisa ikut menjadi bagian dari kinerja klub dengan cara bergabung menjadi socios.
Secara harfiah, socios berarti mitra atau anggota. Dalam konteks Real dan Barca, socios adalah anggota resmi klub. Dengan menjadi socios, maka fans bisa turut menentukan hidup dan mati klub.
''Tidaklah tepat menyerahkan pengelolaan klub hanya kepada satu orang,'' ucap Presiden Real Florentino Perez, dikutip dari situs periodistas-es.com.
Selain Real dan Barca, ada dua klub lain yang juga memiliki socios dalam struktur klubnya. Yakni Athletic Bilbao dari La Liga, dan Osasuna yang kini bermain di Segunda Division.
Syarat menjadi socios tidaklah susah. Cukup membayar iuran tahunan. Dan berkewarganegaan Spanyol (ya, ini susah buat Madridista Indonesia yang ngebet kepingin menjadi socios). Barca memiliki socios terbanyak dengan 170 ribuan anggota, sedangkan Real 97 ribuan. Di Barca, per tahunnya ditarik iuran GBP 95,61 (Rp 1,96 juta). Sementara di Real GBP 101,27 (Rp 2 jutaan).
Dana iuran dari socios memungkinkan klub memiliki aliran dana segar di luar penjualan tiket dan merchandise, suntikan sponsor, dan pembagian hak siar. Minimal, dengan fresh money itu, kans klub untuk ikut kompetisi terjamin. Karena itu, meski tanpa campur tangan penyandang dana dominan, Real dan Barca tetap bersaing sebagai klub terkaya dunia 2015 versi Forbes.
Mari kita hitung secara kasar kontribusi mereka. Jika setiap socios membayar iuran sebesar GBP 101,27, maka dalam semusim Real mampu mendulang pemasukan sebesar GBP 9,82 juta (Rp 201,5 miliar). Angka itu memang hanya 2 persen saja dari income total. Sepanjang musim lalu, Real mengumpulkan GBP 467,8 juta (Rp 9,6 triliun).
Beberapa tahun lalu, Presiden UEFA Michel Platini menyebut pembiayaan dari socios ini sebagai sebuah sistem yang ideal. Dikutip Mundo Deportivo, pria yang sekarang berstatus nonaktif lantaran terlibat kasus suap Sepp Blatter itu menilai sistem kepemilikan socios bisa menjadi solusi bagi klub untuk tetap eksis.
''Socios sangatlah berkuasa, dan itu hebat. Mereka bisa mengatur pengunaan anggaran belanja supaya tidak terlalu berlebihan,'' sebut Platini. Ambil contoh, jika Perez diketahui menyelewengkan anggaran, socios bisa memintanya turun dari jabatan. ''Jika fans tidak senang dengan rencana presiden klub dalam merekrut pemain, suara mereka akan menjadi pertimbangan,'' imbuhnya.
Platini tidak menentang adanya investor asing yang menanamkan saham di sebuah klub. Hanya, dalam perjalanannya, banyak investor yang malah seringkali mengambil keputusan sendiri tanpa mempertimbangkan keputusan fans. Itu terbukti ketika saham mayoritas Manchester United dibeli keluarga Glazer lima tahun silam.
Kala itu, setiap keputusan klub sering kali tidak sejalan dengan keinginan fans. Persoalan seperti itu tidak akan terjadi jika yang memiliki saham adalah socios. ''Apa sih enaknya apabila klub dikuasai pihak ketiga seperti para investor asing itu. Saya pribadi tidak bisa menerima sistem itu,'' cibir Platini.
Di La Liga, masih banyak klub yang dikelola secara konvensional. Artinya, dimiliki oleh investor. Salah satu yang cukup fenomenal adalah Atletico Madrid. Pengusaha yang membeli 20 persen saham Los Rojiblancos pada Januari lalu itu menyuntikkan anggaran sebesar EUR 20 juta (setara dengan Rp 291.7 miliar).
Berkat injeksi dana itu, Atletico mampu berfoya-foya di bursa transfer. Total mereka menggelontorkan uang EUR 98 juta atau Rp 1,4 triliun untuk membeli pemain semacam Jackson Martinez dan Stefan Savic. Tapi, apakah sistem itu lebih bagus dari socios? No. Cukup lihat klasemen, kita akan mendapatkan gambarannya. (ren/na/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
