Komisi Disiplin PSSI akan memberikan hukuman berat kepada pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi. (istimewa)
JawaPos.com — Umar Husein akhirnya buka suara terkait insiden tendangan horor yang mengguncang Liga 4 Jawa Timur. Ketua Komite Disiplin PSSI itu menegaskan pihaknya menyiapkan tindakan keras terhadap Muhammad Hilmi, pemain Putra Jaya Kabupaten Pasuruan yang melakukan pelanggaran brutal.
Insiden tersebut terjadi dalam laga Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung. Pertandingan berlangsung di Stadion Gelora Bangkalan pada Senin (5/1/2026) pukul 13.00 WIB.
Laga itu merupakan bagian dari Grup CC Liga 4 PSSI Jawa Timur putaran 32 besar. Putra Jaya tampil dengan jersey kuning, sementara Perseta mengenakan seragam hijau.
Pertandingan yang awalnya berjalan normal berubah mencekam setelah terjadi pelanggaran serius. Momen tersebut terekam jelas melalui siaran langsung di kanal YouTube PSSI Jawa Timur.
Insiden bermula saat Firman Nugraha, pemain Perseta 1970 Tulungagung, berusaha merebut bola. Secara tiba-tiba, Muhammad Hilmi menendang dengan brutal dan sengaja tepat mengenai dada Firman.
Firman langsung terjatuh dan ambruk di lapangan akibat tendangan keras tersebut. Wasit tanpa ragu mencabut kartu merah untuk Muhammad Hilmi yang mengenakan nomor punggung 23.
Situasi sempat memanas setelah pemain Perseta tidak terima dengan tindakan itu. Beberapa pemain mengejar Hilmi yang kemudian diarahkan rekan setimnya untuk segera keluar lapangan demi menghindari bentrok fisik.
Firman Nugraha harus mendapatkan penanganan medis serius. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya aman usai menerima tendangan berbahaya.
Insiden ini pun langsung menyita perhatian publik sepak bola Jawa Timur. Banyak pihak menyoroti aspek keselamatan pemain yang kembali terancam di level kompetisi daerah.
Menanggapi kejadian tersebut, Umar Husein memberikan pernyataan tegas. Ia menekankan isu keselamatan atlet menjadi prinsip utama dalam seluruh cabang olahraga, termasuk sepak bola.
“Ya, jadi isu tentang keselamatan atlet ini tidak hanya monopoli keluarga sepak bola. Jadi semua olahraga itu harus menjamin keselamatan atletnya,” ujar Umar Husin dari rilis yang diterima JawaPos.com, Selasa (6/1/2025).
Ia menjelaskan pertandingan bisa ditunda, dibatalkan, bahkan ditutup jika mengancam keselamatan atlet dan pihak terkait.
Menurutnya, ketentuan itu diatur jelas dalam Undang-Undang Keolahragaan Nasional Nomor 11 Tahun 2022.
“Jadi pertandingan bisa ditunda, bisa dibatalkan, bisa ditutup kalau mengancam keselamatan atlet dan pihak-pihak yang terlibat,” lanjutnya. Umar menegaskan atlet yang sakit atau cedera tidak boleh dipaksa untuk bermain.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
