
Bernardo Tavares bersama mantan pemainnya Yance Sayuri. (Instagram @yansayuri11)
JawaPos.com — Sisi lain Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, mulai terlihat sejak resmi ditunjuk memimpin Green Force di Super League 2025/2026. Sosok yang dikenal keras, disiplin, dan berani bersuara di lapangan ternyata menyimpan sisi lembut sebagai family man yang sangat menjunjung nilai kebersamaan.
Di pinggir lapangan, Bernardo Tavares identik dengan instruksi tegas, tuntutan tinggi, dan disiplin tanpa kompromi. Namun, jauh dari sorotan stadion, ia adalah pribadi yang mengaku sulit menjalani hidup terlalu lama jauh dari keluarga.
Bernardo Tavares memiliki nama lengkap Fernando José Bernardo Tavares dan lahir di Proença-a-Nova, Portugal, pada 2 Mei 1980.
Di usia 45 tahun, ia mengantongi lisensi UEFA Pro Licence dan dikenal mengusung filosofi permainan 4-3-3 Defending yang menekankan keseimbangan dan kerja kolektif.
“Sejujurnya, hari itu terasa normal karena kami latihan tanggal 1 dan setelah itu ada pertandingan,” katanya. Ia merayakannya sederhana bersama dua asisten asal Portugal.
“Kami makan malam, tapi pukul 22.30 sudah kembali ke hotel dan bahkan tidak menunggu pergantian tahun,” ujar Bernardo. “Saya rasa saat tengah malam tiba, saya sudah tertidur.”
Jarak dengan keluarga tetap menjadi beban emosional yang ia rasakan hingga kini. Ia tak menutupi siapa orang-orang terpenting dalam hidupnya.
Baca Juga: Bernardo Tavares Akrab dengan Klub Penunggak Gaji! Pelatih Baru Persebaya Surabaya Tahan Banting
“Orang-orang terdekat saya tentu saja keluarga,” ucap Bernardo. “Orang tua, paman, bibi, saudara perempuan, istri, dan anak-anak saya, merekalah yang paling dekat dengan saya.”
Ketika berada jauh dari rumah, hubungan dengan staf kepelatihan menjadi sangat berarti. Kebersamaan dalam tekanan membuat relasi profesional berkembang menjadi ikatan personal.
“Salah satu asisten sudah bekerja bersama saya selama bertahun-tahun, kami seperti keluarga karena melewati begitu banyak perjuangan bersama,” katanya. Banyak momen penting akhirnya dilewati bersama rekan kerja.
Bernardo menegaskan ia tak hanya mencari orang yang kompeten secara teknis. Nilai kemanusiaan menjadi syarat penting dalam tim yang ia pimpin.
“Orang-orang yang bekerja dengan saya bukan hanya profesional yang baik, tetapi juga manusia yang baik,” ujarnya. Baginya, kualitas pribadi tak bisa dipisahkan dari kinerja.
“Bagi saya, menjadi profesional saja tidak cukup,” kata Bernardo. “Saat kita jauh dari negara sendiri, kita harus punya sisi kemanusiaan dan saling membantu.”
Ia menilai saling mendukung menjadi kunci bertahan di lingkungan yang sangat berbeda. Adaptasi budaya tak akan berhasil tanpa empati dan solidaritas.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
