Diego Mauricio (kanan) belum mampu tunjukkan taringnya di Persebaya Surabaya musim ini. (Persebaya Surabaya)
JawaPos.com — Diego Mauricio mendadak seperti hilang dari radar di Persebaya Surabaya musim ini. Penyerang yang musim lalu mencetak 9 gol dan 6 assist bersama Odisha FC itu kini baru diberi kesempatan bermain 35 menit dalam tiga pertandingan Super League 2025/2026.
Performa yang ia tunjukkan musim lalu semestinya cukup untuk membuatnya menjadi tumpuan utama di lini depan. Total 1.417 menit dalam 22 laga bersama klub India tersebut menggambarkan konsistensinya sebagai penyerang yang bisa diandalkan.
Namun realitas di Persebaya Surabaya berjalan sangat berbeda. Diego Mauricio sama sekali belum menunjukkan pengaruh signifikan dan masih kesulitan menembus rencana permainan Green Force.
Situasi ini kian membingungkan mengingat reputasinya sebagai penyerang kuat dan berpengalaman. Tenaganya seakan tidak kunjung dimaksimalkan meski Persebaya Surabaya sedang sangat membutuhkan produktivitas di kotak penalti.
Persebaya Surabaya sendiri menghabiskan Rp 38,26 miliar dalam beberapa musim terakhir untuk mendatangkan penyerang baru. Namun hasilnya selalu jauh dari harapan dan tidak satu pun mendekati ketajaman David da Silva yang pergi pada 2018.
Setiap musim selalu ada nama baru yang digadang-gadang menjadi solusi. Pada akhirnya semua berakhir dengan kekecewaan dan daftar panjang striker yang gagal memberi kontribusi berarti.
Mihailo Perovic menjadi contoh terkini dari tren serupa. Meski memiliki nilai pasar Rp 4,35 miliar, ia baru mencetak dua gol dari 12 laga dan belum menunjukkan ketajaman yang konsisten.
Diego Mauricio pun masuk dalam kategori rekrutan yang belum memberikan dampak. Meski punya nilai pasar Rp 4,78 miliar, ia baru disertakan dua kali secara minim dan belum menyumbang satu pun aksi berbahaya.
Kondisi ini membuat manajemen mulai mempertimbangkan perombakan besar di lini depan. Bursa transfer paruh musim menjadi titik penting agar masalah serangan tidak makin berlarut.
Sejak kepergian David da Silva pada 2021, Persebaya Surabaya memang belum mampu menemukan ujung tombak yang stabil. Striker yang datang selalu berstatus "harapan baru", tetapi pergi tanpa meninggalkan jejak yang memuaskan.
Pada 2019 mereka mendatangkan Manu Dzhalilov dengan nilai pasar Rp 6,08 miliar. Ia hanya bertahan satu musim dan tidak mampu mengisi lubang besar yang ditinggalkan pendahulunya.
Arsenio Valpoort kemudian datang dengan nilai pasar Rp 4,35 miliar. Ia dipaksa bermain sebagai striker murni, tetapi tampil melempem dan akhirnya dilepas hanya tiga bulan setelah direkrut.
Upaya mencari solusi dari Brasil pun tidak membawa perubahan berarti. Jose Wilkson dan Silvio Junior yang datang beruntun pada 2022 berakhir dengan kontribusi minim dan karier pendek di Surabaya.
Nama berikutnya, Paulo Victor dengan nilai Rp 3,48 miliar, juga tidak memberi perkembangan signifikan. Ia hanya bertahan sepuluh bulan dan tak pernah benar-benar menjadi tumpuan utama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022