Persebaya Surabaya siap moncer di bawah Eduardo Perez jelang Super League 2025/2026. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Sama-sama bermain dengan formasi 4-3-3, Persebaya Surabaya memasuki Super League 2025/2026 dengan identitas baru. Setelah melepas Paul Munster, Green Force menunjuk Eduardo Perez sebagai nakhoda baru, membawa nuansa sepak bola Eropa yang berbeda ke Stadion Gelora Bung Tomo.
Eduardo Perez bukan sosok asing di Indonesia, karena ia pernah menjadi asisten Luis Milla di Timnas Indonesia. Pelatih asal Madrid itu datang dengan filosofi menyerang berbasis penguasaan bola dan dinamika pergerakan pemain.
Dibanding Paul Munster yang mengandalkan permainan langsung, Eduardo justru tampil dengan pendekatan kontrol dan kesabaran dalam membangun serangan.
Meski sama-sama menyukai formasi 4-3-3 menyerang, keduanya memperagakan sepak bola dengan filosofi yang sangat bertolak belakang.
Eduardo Perez mengusung permainan berbasis penguasaan bola sebagai pondasi utamanya.
Persebaya Surabaya era dia aktif membangun serangan dari bawah dan memaksimalkan peran playmaker seperti Milos Raickovic dan Francisco Rivera untuk menjaga ritme.
Gaya ini terlihat jelas dari bagaimana bola terus dikuasai di lini tengah sebelum dieksekusi ke area depan. Setiap sentuhan pemain dimaknai sebagai bagian dari satu rangkaian penguasaan yang dijaga sebaik mungkin.
Strategi ini menjadi pintu masuk Persebaya Surabaya memainkan tiki-taka khas Spanyol.
Dengan prinsip Total Football, penguasaan bola menjadi senjata menyerang sekaligus bertahan lewat umpan-umpan pendek cepat dan kombinasi segitiga di berbagai lini.
Permainan ini menuntut konsentrasi tinggi serta kecerdasan taktis setiap pemain. Mereka wajib terus bergerak, membuka ruang, dan menjaga sirkulasi bola tetap hidup di area lawan.
Hal lain yang menonjol dari era Eduardo adalah pendekatan fluid di lini depan.
Trisula Malik Risaldi, Gali Freitas, dan Bruno Moreira tak punya posisi paten, karena mereka kerap bertukar tempat untuk menciptakan ketidakpastian bagi pertahanan lawan.
Pergerakan tanpa bola dari tiga penyerang ini membuat serangan Persebaya Surabaya tidak monoton dan lebih sulit dibaca. Skema ini menjadikan setiap pemain bisa tiba-tiba menjadi eksekutor atau kreator tergantung situasi.
Di sisi lain, era Paul Munster menghadirkan Persebaya Surabaya yang lebih pragmatis dengan pendekatan direct football.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
