Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Juli 2025 | 18.00 WIB

Histori Pergantian Nama Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Perserikatan, Galatama, Liga 1, hingga Kini Super League

Persebaya Surabaya siap jadi laga pembuka BRI Super League 2025/2026. (Media Persebaya)

JawaPos.com - Perubahan branding kompetisi Liga 1 menjadi Super League semakin menambah panjang histori pergantian nama Liga Indonesia dari masa ke masa. Sejarah baru pun dipastikan akan tercipta dengan perubahan kali ini.

Super League resmi ditetapkan sebagai nama baru Liga Indonesia mulai musim 2025/2026. Nama tersebut dipilih untuk menggantikan Liga 1 Indonesia, yang sudah digulirkan sejak 2017 dan menuntaskan tujuh musim kompetisi.

Pergantian nama Liga 1 jadi Super League termasuk dalam bagian branding baru PT Liga Indonesia Baru, yang melakukan bertransformasi menjadi I League. Keputusan serupa terjadi pada Liga 2 yang berubah menjadi Championship.

Ferry Paulus sebagai Direktur Utama PT LIB atau I League, menjelaskan bahwa pergantian nama dilakukan agar dapat menciptakan branding Liga Indonesia yang kuat. Dia menilai branding sebelumnya masih belum terlalu erat dan kuat.

"Memang dari hasil komunikasi yang kita bangun bersama dengan klub sudah beberapa kali. Jadi memang kita mau punya nama, punya brand names yang kuat. Kalau LIB ini sepertinya menurut kita dari hasil temuan-temuan dan sebagainya kurang strong," kata Ferry usai Rapat Umum Pemegang Saham, Senin (7/7).

"Makanya kita mau ini tidak lagi menjadi atau tidak berubah-ubah lagi kita tetap nama kita, brand name kita adalah I-league, Indonesia League. Kemudian Labeling kita liga utamanya adalah Super League, dan Liga 2 nya Championship," tambahnya.

Pergantian nama kompetisi sebenarnya bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Bahkan hal itu sudah terjadi sejak lama, pertama kali dilakukan di era 80-an saat kompetisi masih digelar secara amatir bernama Liga Perserikatan medio 1930-1979.

Kemudian pada 1980, level kompetisi sepak bola Indonesia mulai meningkat menjadi semi-profesional. Nama liga pun diubah jadi Liga Sepak Bola Utama atau yang lebih dikenal dengan Galatama pada 1980.

Liga Galatama berjalan cukup panjang dan beriringan dengan Liga Perserikatan. PSSI kemudian melebur kedua kompetisi itu pada 1994 untuk menjadi liga profesional dan masuk era Liga Indonesia.

Saat itu Liga Indonesia digulirkan dengan format dua wilayah. Delapan tim terbaik di tiap wilayah berhak melaju ke fase berikutnya untuk memperebutkan gelar juara.

Tapi, pada 2008, PSSI melakukan perubahan lagi dengan menerapkan format kompetisi penuh seperti di Eropa. Jadi seluruh tim akan saling berhadapan dua kali dan juara ditentukan lewat perhitungan poin dari awal hingga akhir musim.

Nama kompetisi pun saat itu mengalami perubahan. Indonesia Super League (ISL) jadi nama baru liga elite. Tapi, nama tersebut hanya berlangsung selama tiga tahun karena tiba-tiba terbentuk Indonesia Premier League (IPL) pada 2011, sekaligus menciptakan dualisme kompetisi dan dualisme PSSI.

Konflik itu berlangsung panjang hingga akhirnya PSSI kena getahnya. Indonesia disanksi berupa pembekuan oleh FIFA pada 2015 akibat adanya intervensi dari Kemenpora era Imam Nahrawi yang membekukan PSSI.

Sanksi kemudian dicabut dan PSSI melakukan branding baru untuk kompetisi sepak bola Indonesia pada 2017. Adalah Liga 1 Indonesia yang jadi branding baru dan dikelola oleh PT Liga Indonesia Baru.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore