Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Mei 2025 | 16.50 WIB

Gaji Pemain Masih Nunggak di Liga 1 2024/2025, PT LIB: Lebih Baik dari Tahun Lalu, tapi Belum Selesai

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus, dalam konferensi pers, Kamis, (15/5/2025). (Dok. LIB)

JawaPos.com - Persoalan klasik dalam dunia sepak bola nasional, yakni penunggakan gaji pemain, kembali mencuat di gelaran BRI Liga 1 musim 2024/2025. Meski sejumlah perbaikan telah dilakukan, nyatanya masih ada klub-klub yang belum mampu memenuhi kewajiban finansial mereka secara tepat waktu.

Salah satu kasus paling menonjol terjadi di tubuh PSIS Semarang. Klub berjuluk Mahesa Jenar ini bahkan secara terbuka menjadi sorotan setelah sejumlah pemainnya menyampaikan keluhan mereka terkait gaji yang belum dibayarkan. Kondisi ini diduga turut berdampak pada performa tim di lapangan, yang berujung pada degradasi PSIS dari Liga 1 musim ini.

Selain PSIS, PSM Makassar juga disebut mengalami situasi serupa. Sang pelatih, Bernardo Tavares, beberapa kali menyampaikan keluhan secara terbuka terkait hak-hak pemain dan staf yang belum ditunaikan. Meskipun tidak secara eksplisit memberikan pernyataan resmi, Persija Jakarta juga santer diberitakan mengalami keterlambatan pembayaran gaji kepada pemainnya.

LIB Akui Masih Ada Masalah, tapi Menyebut Situasi Membaik

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus, mengakui bahwa penunggakan gaji masih terjadi di BRI Liga 1 2024/2025. Namun, ia menegaskan bahwa secara statistik, angka kasus tersebut mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya.

"Jika melihat ke belakang, masalah ini memang terus muncul. Tapi dari catatan kami, tren kasus tunggakan gaji sudah menurun cukup signifikan dalam dua musim terakhir," ujar Ferry dalam keterangan pers di Jakarta (15/5/2025).

Menurutnya, penurunan ini tak lepas dari mekanisme pencairan dana kontribusi yang lebih ketat dari LIB. Klub-klub yang tidak menyelesaikan kewajiban gaji terhadap pemain dan ofisial bisa dikenai penahanan atau pemotongan dana kontribusi yang diberikan oleh operator liga.

Dana Kontribusi Jadi Alat Kontrol Finansial Klub

Sejak musim lalu, LIB mulai menerapkan sistem pemotongan dana kontribusi untuk klub-klub yang tidak patuh terhadap kewajiban finansial.

Dana ini diberikan secara bertahap sepanjang musim dan dapat ditangguhkan jika klub kedapatan menunggak pembayaran.

“Kami sudah meningkatkan nominal kontribusi yang diberikan kepada klub. Tapi klub juga harus memenuhi syarat, termasuk pembayaran gaji. Jika tidak, maka kontribusi akan ditahan,” tegas Ferry.

Terlepas dari pernyataan PT LIB, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) terus mendesak transparansi lebih tinggi dari klub dan otoritas liga. Dalam laporan mereka sebelumnya, APPI menyebut bahwa perlindungan terhadap hak-hak pemain masih lemah, termasuk keterlambatan pelaporan dan penindakan yang lambat terhadap pelanggaran kontrak.

Dalam catatan APPI musim sebelumnya (2023/2024), sekitar 6 klub tercatat mengalami masalah finansial, dan hanya 3 yang akhirnya menyelesaikannya secara penuh setelah musim berakhir. Angka ini tampaknya memang mengalami penurunan, namun masih menyisakan kekhawatiran bahwa tidak ada jaminan kuat terhadap kesejahteraan pemain.

Masalah penunggakan gaji masih menjadi noda dalam penyelenggaraan kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Meski PT LIB mengklaim telah terjadi penurunan kasus dan memperketat kontrol melalui dana kontribusi, masih adanya klub besar seperti PSIS, PSM, dan Persija yang terdampak menunjukkan bahwa sistem yang ada masih perlu diperkuat.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore