
Pelatih Timnas Malaysia Peter Cklamovski. (@footballnoice)
JawaPos.com–Pelatih Timnas Malaysia Peter Cklamovski mengeluarkan pernyataan yang cukup mengundang perdebatan dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Astro Arena. Juru taktik asal Australia secara blak-blakan menyampaikan pandangan tentang strategi pembangunan sepak bola nasional, khususnya menanggapi tren naturalisasi yang sedang marak di kawasan Asia Tenggara.
Cklamovski menyinggung proyek naturalisasi yang gencar dilakukan PSSI untuk memperkuat Timnas Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia berhasil mendongkrak performa tim nasional mereka lewat naturalisasi para pemain keturunan yang berkarier di liga top Eropa.
Nama-nama seperti Jay Idzes (Venezia), Kevin Diks (Borussia Monchengladbach), dan sederet pemain diaspora lainnya telah menjadi tulang punggung skuad Garuda. Hasilnya pun tak main-main. Timnas Indonesia mengalami lonjakan performa, menorehkan prestasi di berbagai kelompok usia, dan bahkan masih berpeluang lolos ke Piala Dunia 2026 melalui jalur babak ketiga, keempat, atau playoff.
Pencapaian ini menjadi tolok ukur keberhasilan proyek naturalisasi PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir. Namun, menurut Cklamovski, pendekatan tersebut tidak serta-merta bisa diadopsi Malaysia.
"Proyek Indonesia tidak berarti apa-apa bagi saya, jadi saya tidak akan membicarakannya. Itu tidak relevan bagi saya," ujar Cklamovski dalam potongan wawancara yang viral di media sosial.
Pelatih berusia 46 tahun itu menekankan bahwa Malaysia memiliki tantangan dan keunikan tersendiri dalam mengembangkan sepak bola. Dia menilai bahwa solusi yang berhasil di satu negara belum tentu cocok diterapkan di negara lain.
"Kami memiliki manfaat unik dari sepak bola Malaysia, dan dengan itu kami juga memiliki tantangan unik. Kita harus memahami keduanya untuk bisa maju dengan tepat," tambah Cklamovski.
Meski saat ini Malaysia juga mulai menjajaki jalur naturalisasi seperti dengan hadirnya Hector Hevel dan Gabriel Palmero Cklamovski tetap menegaskan bahwa fokus utamanya adalah membangun fondasi sepak bola nasional berbasis potensi lokal. Malaysia belum berada di level kompetitif internasional yang diharapkan, tetapi yakin dengan proses dan kerja keras.
"Kita harus rendah hati menyadari bahwa kita masih jauh dari itu. Tapi dengan komitmen dan pembangunan yang benar, kita bisa melangkah maju," kata Cklamovski dengan nada optimistis.
Komentarnya pun menegaskan perbedaan pendekatan antara Malaysia dan Indonesia. Jika Indonesia berani mengadopsi strategi instan dengan membawa pemain diaspora, Malaysia memilih jalur panjang membina bakat lokal sambil sesekali memanfaatkan pemain keturunan yang tersedia.
Perbandingan antara dua rival Asia Tenggara ini semakin mencolok mengingat Timnas Indonesia sudah memastikan lolos ke Piala Asia 2027 sejak Juni 2024. Sementara itu, Malaysia baru akan menjalani babak ketiga Kualifikasi Piala Asia mulai Maret 2025 hingga Maret 2026, masih berjuang untuk sekadar mengamankan tiket ke turnamen tersebut.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
