Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 April 2025 | 21.30 WIB

Menelusuri Jejak Rivalitas Aremania dan Bonek Jelang Duel Panas Arema FC vs Persebaya Surabaya

Rivalitas Aremania dan Bonek selalu jadi bumbu di laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)

 

JawaPos.com — Pertandingan Arema FC kontra Persebaya Surabaya di pekan ke-30 Liga 1 Indonesia 2024/2025 akan menyajikan rivalitas yang selalu panas, bukan hanya di lapangan tapi juga di tribun suporter. Rivalitas antara Aremania dan Bonek menjadi warna tersendiri yang membedakan duel ini dari pertandingan lain di Liga 1.

Tak berlebihan jika disebut sebagai "Derbi Jawa Timur", sebab sejarah permusuhan dua kubu ini telah berlangsung puluhan tahun lamanya.

Bahkan, bibit-bibit konflik muncul jauh sebelum Arema FC dan Persebaya Surabaya sama-sama bermain di kasta tertinggi sepak bola nasional.

Salah satu versi menyebutkan konflik bermula dari sebuah konser musik. Pada 23 Januari 1990, suasana panas pecah saat konser Kantata Takwa digelar di Tambaksari, Surabaya.

Ketegangan mulai memuncak ketika sekelompok arek Malang yang hadir di konser mendominasi area depan panggung. Mereka terus meneriakkan yel-yel Arema, membuat Bonek yang saat itu jadi tuan rumah merasa tersinggung.

Tak butuh waktu lama, bentrokan antara dua kelompok suporter pun pecah di lokasi konser. Insiden itu jadi catatan awal tawuran besar antara Aremania dan Bonek yang terus berulang dalam berbagai kesempatan.

Tahun 1992, lokasi yang sama kembali memanas. Tawuran pecah lagi di Tambaksari, memperpanjang daftar panjang kerusuhan yang melibatkan kedua suporter.

Versi lain menyebutkan rivalitas ini dipicu oleh kecemburuan Aremania terhadap dominasi pemberitaan media Jawa Timur. Saat itu, Persebaya Surabaya nyaris selalu menjadi sorotan utama meski hanya melakukan latihan biasa.

Sementara Arema yang tampil garang di berbagai laga, justru tak mendapatkan porsi pemberitaan yang sepadan. Aremania merasa dianaktirikan oleh media dan menganggap Persebaya Surabaya terlalu diistimewakan.

Perasaan tidak adil itu lama-lama berubah jadi kebencian mendalam. Dari situ muncul sentimen negatif yang membuat hubungan kedua kelompok semakin renggang.

Versi ketiga muncul dari kisah tentang arogansi sesepuh Persebaya Surabaya. Tokoh-tokoh lama seperti disebut pernah menyampaikan pernyataan yang sangat meremehkan klub-klub asal Malang.

Pernyataan seperti tim Malang tak akan pernah bisa mengalahkan tim Surabaya langsung memantik kemarahan Aremania. Meski hanya komentar, ucapan itu dianggap menampar harga diri warga Malang.

Tak hanya itu, mereka juga menyebut bermain imbang melawan Persebaya Surabaya pun adalah hal mustahil bagi Arema. Kalimat ini menyulut dendam berkepanjangan dan menjadi bahan bakar rivalitas hingga hari ini.

Ada pula versi keempat yang menyoroti kerusuhan yang terjadi di era Liga Indonesia sekitar tahun 1994. Saat itu Persema Malang berjumpa Persebaya Surabaya di Stadion Gajayana, Malang.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore