Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Maret 2025 | 19.25 WIB

FIFA Ibaratkan Perjuangan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026 Bak Film Lawas Era 1980-an, Ungkit Sejarah 1938 dan Singgung Pemain Diaspora

Timnas Hindia Belanda saat beraksi di Piala Dunia 1938. (Dok: FIFA) - Image

Timnas Hindia Belanda saat beraksi di Piala Dunia 1938. (Dok: FIFA)

JawaPos.com - Perjuangan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026 mendapatkan sorotan khusus dari induk olahraga sepak bola dunia (FIFA). Skuad Garuda sekarang diibaratkan seperti film lawas era tahun 1980-an, Back to The Future yang dianggap tengah berupaya kembali ke kejayaan seperti masa lampau, tepatnya pada 1938. 

Timnas Indonesia terus merajut asa tampil di Piala Dunia 2026. Garuda sampai saat ini berjuang di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dan masih punya peluang untuk lolos otomatis dari jalur tersebut.

Timnas Indonesia kini berada di peringkat keempat klasemen sementara Grup C dengan sembilan angka. Jay Idzes dan kolega cuma terpaut empat angka dari Australia, yang berada di posisi kedua dan satu angka dari Arab Saudi di urutan tiga.

Nah untuk lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia wajib menjadi runner-up grup C. Asa itu masih ada andai Garuda berhasil menyapu bersih dua laga sisa pada Juni, masing-masing melawan Tiongkok dan Jepang. 

Di sisi lain, nasib Timnas Indonesia juga bergantung pada tim lain. Garuda harus berharap Australia dan Arab Saudi terpeleset di dua pertandingan sisa sehingga mereka bisa naik ke posisi dua.

Andai itu terwujud, Timnas Indonesia bisa mengulangi kesuksesan 87 tahun lalu. Tepatnya pada 1938, di mana mereka berhasil menjadi negara Asia pertama yang berlaga di Piala Dunia. Tapi saat itu namanya masih tim Hindia Belanda, belum Indonesia.

Kisah perjuangan Timnas Indonesia saat ini pun disorot oleh FIFA. Induk sepak bola dunia itu membuat sebuah artikel yang menunjukkan ada beberapa kesamaan yang tampak antara Timnas Indonesia sekarang dengan tahun 1938 dan menganggap Garuda sekarang seperti karakter Marty McFly dalam film hit tahun 1980-an, Back to the Future.

"Seperti karakter Marty McFly dalam film hit tahun 1980-an, Back to the Future, tim nasional Indonesia tampaknya meninjau kembali masa lalu dan mengambil pelajaran untuk menulis babak baru yang berani untuk masa depan," tulis FIFA dalam artikelnya, 26 Maret lalu.

"Pada tahun 1938, Indonesia, yang saat itu dikenal sebagai Hindia Belanda, membuat sejarah sebagai tim Asia pertama yang tampil di final Piala Dunia FIFA," tambah laporan itu.

Kesamaan yang dimaksud oleh FIFA tersebut adalah komposisi skuad. Timnas Indonesia sekarang banyak diperkuat oleh pemain Belanda yang memiliki garis keturunan Indonesia, dan dipadukan dengan talenta lokal asli.

Materi pemain Timnas Indonesia sekarang dianggap FIFA sama seperti edisi 1938. Saat itu tim Hindia Belanda juga diperkuat oleh pemain keturunan Belanda, pesepak bola keturunan Tionghoa-Indonesia dan penduduk asli Indonesia.

"Seperti DeLorean dalam Back to the Future, yang membawa Marty McFly ke masa lalu untuk mengoreksi arah sejarah, tim nasional Indonesia tampaknya kembali terhubung dengan akar mereka dengan mengandalkan sekali lagi perpaduan dinamis antara warisan dan bakat lokal untuk meningkatkan permainan mereka ke tingkat berikutnya," tulis FIFA dalam artikelnya.

"Pemain naturalisasi seperti Romeny, Jay Idzes, Thom Haye, dan Mees Hilgers, bersama dengan bakat lokal seperti Marselino Ferdinan dan Rizky Ridho, kini menjadi bagian dari generasi baru yang berjuang untuk mengembalikan tempat Indonesia di panggung dunia," tambah artikel tersebut.

Pada Piala Dunia 1938, Timnas Indonesia diperkuat oleh pemain-pemain berdarah Belanda seperti Dorst, J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS Soerabaja), Teilherber (Djocoja Djogjakarta), G.H.V.L. Faulhaber (Djocoja Djogjakarta), dan G. Van den Burgh (SVV Semarang).

Lalu ada juga pemain keturunan Tionghoa-Indonesia seperti  Mo Heng Tan (HCTNH Malang), Frans G. Hu Kon (Sparta Bandung), Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), dan Tan See Han (HBS Soerabaja). Serta talenta lokal asli seperti Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia), dan Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja). 

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore