Lini depan Persebaya Surabaya harusnya bisa jadi pekerjaan staf pelatih jika tak ingin terlempar dari 3 besar papan atas Liga 1. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Persebaya Surabaya harus puas berbagi angka dengan PSIS Semarang dalam laga pekan ke-27 Liga 1 Indonesia 2024/2025. Gol dramatis Septian David Maulana di menit 90+4 memupus harapan Green Force meraih kemenangan di kandang sendiri.
Hasil imbang 1-1 di Stadion Gelora Bung Tomo membuat Persebaya Surabaya gagal naik ke peringkat kedua klasemen. Dewa United tetap bertahan di posisi runner-up, sementara Persebaya Surabaya tertahan di peringkat ketiga dengan koleksi 48 poin.
Padahal, jika dilihat dari permainan, Persebaya Surabaya seharusnya bisa menang dengan margin lebih besar. Banyak peluang tercipta, tetapi efektivitas penyelesaian akhir menjadi masalah utama skuad asuhan Paul Munster.
Salah satu fakta mencolok adalah nilai expected goals (xG) Persebaya Surabaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan PSIS. Persebaya Surabaya mencatatkan xG sebesar 3,83, sementara PSIS hanya 1,06 sepanjang laga.
Angka tersebut menunjukkan Persebaya Surabaya seharusnya bisa mencetak tiga gol lebih. Namun, penyelesaian yang kurang klinis membuat mereka hanya mampu mencetak satu gol.
Banyaknya peluang yang terbuang membuat lini serang Persebaya Surabaya patut mendapat evaluasi serius. Paul Munster perlu mencari solusi agar ketajaman lini depan kembali meningkat.
Fakta menarik berikutnya, meski mendominasi peluang, Persebaya Surabaya justru kalah dalam penguasaan bola. Green Force hanya mencatatkan 47% penguasaan bola, sementara PSIS lebih unggul dengan 53%.
Situasi ini membuat PSIS mampu mengendalikan permainan di beberapa momen krusial. Terbukti, mereka mampu mencetak gol penyama kedudukan di detik-detik akhir laga.
Persebaya Surabaya harus lebih pintar dalam menjaga ritme permainan agar tidak mudah ditekan lawan. Penguasaan bola yang minim membuat mereka rentan kehilangan kontrol di lapangan.
Fakta terakhir dari sisi pertahanan, Persebaya Surabaya juga cukup kerepotan menghadapi serangan balik PSIS. Kiper Persebaya Surabaya hanya melakukan tiga penyelamatan sepanjang laga.
Sebaliknya, kiper PSIS tampil lebih sibuk dengan mencatatkan lima penyelamatan penting. Ini menjadi bukti lini depan Persebaya Surabaya sebenarnya cukup agresif tetapi kurang efektif.
Frustrasi terlihat jelas dari para pemain depan Persebaya Surabaya yang gagal memanfaatkan peluang emas. Jika situasi ini terus berlanjut, posisi Persebaya Surabaya di tiga besar bisa terancam.
Paul Munster perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelesaian akhir timnya. Selain itu, lini tengah juga harus lebih kreatif dalam menciptakan peluang berkualitas.
Persebaya Surabaya memiliki potensi besar untuk bersaing di papan atas Liga 1, tetapi inkonsistensi menjadi kendala utama. Ketajaman lini depan dan soliditas pertahanan harus menjadi prioritas pembenahan.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
