BERJIBAKU: Pemain SSB Gapura Talenta (jersei putih hijau) saat mengikuti festival di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu. (Dok. Gapura Talenta)
JawaPos.com - PSSI tengah berupaya menransformasi kualitas sepak bola nasional. Perbaikan itu tidak dapat diukur dari kondisi liga atau tim nasional saja. Namun, harus diawali dari pembinaan usia dini, yakni dimulai dari sekolah sepak bola (SSB).
Minggu pagi (13/10), puluhan anak-anak berjersei oranye terlihat antusias berlatih sepak bola di Stadion mini Gapura. Bersebelahan dengan lintasan rel kereta atau KRL, stadion mini itu berada di Desa Cibunar, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor.
Anak-anak tersebut tergabung dalam SSB Gapura atau Gapura Soccer School Indonesia (GSSI). Mereka terlihat antusias mendengarkan instruksi pelatih. Baik untuk instruksi latihan passing, menggiring bola, maupun game plan. Umar berusaha menangkap bola. Pemain cilik yang masih duduk di kelas TK B atau berusia 5 tahun itu sudah dikenalkan ayahnya dengan sepak bola.
Terlihat lucu memang. Berposisi sebagai kiper, Umay terlihat kerepotan menangkap bola. Sesekali bola lepas dan gol. Umay tersenyum aja. Acong, sang pelatih berusaha menyemangati Umay untuk fokus lihat tendangan bola dari pemain lain.
"Setiap latihan selalu ada sesi game. Supaya anak-anak happy dan kakinya tidak kaku dengan bola. Kalau belajar dribble dan passing saja membosankan. Kalau ada game mereka merasa seru. Layaknya bermain bola," cerita Acong yang sudah mengantongi lisensi D nasional itu.
Gapura Soccer School Indonesia merupakan SSB yang memiliki kecabangan tingkatan pendidikan sepak bola. Gapura Talenta untuk siswa usia di bawah 10 tahun. Lalu ada Gapura Academy, pembinaan untuk siswa usia 11-14 tahun. Gapura FC merupakan untuk pembinaan usia di atas 17 tahun. Selama ini Gapura FC itu dipakai untuk Liga 3.
Kepala SSB Gapura Muchlis mengatakan, SSB yang dipimpinnya itu baru berusia 10 tahun Desember tahun ini. Meski baru akan satu dekade, Gapura hadir tidak hanya sekadar SSB yang melatih sang anak bisa mengelola si kulit bundar. Bahkan diarahkan untuk ke profesional. Di antaranya rutin mengikuti sejumlah pertandingan. Baik yang berkonsep festival, turnament, Piala Soeratin, ataupun liga.
"Bahkan Gapura ini juga ada kelompok yang sudah bisa bertanding di Liga 3. Hanya saja untuk Liga 3 butuh biaya yang cukup besar. Kalau soal prestasi masih berproses," ungkap Muchlis mengakui.
Kendati begitu, sambung Muchlis, target utama Gapura adalah untuk memberikan pembinaan dari usia dini untuk sepak bola. Makanya, siswa yang belajar mulai dari umur lima tahun hingga 15 tahun. "Bahkan ada siswa kami yang berusia 4 tahun," sebut pelatih yang juga guru di salah satu SD di Parung Panjang itu.
Pembinaan itu cukup membuahkan hasil membanggakan. Beberapa pemain dari Gapura selalu ikut seleksi atau trial di klub-klub profesianal. Baik di Liga 1, Liga 2, maupun di Liga 3. Saat ini ada alumni Gapura sudah bermain di level nasional, yakni di Liga 1. Yaitu Mario Jardel yang saat ini tergabung di Persita Tangerang. Sebelumnya Mario Jardel menjadi bagian dari Persib Bandung.
Mario Jardel sampai ke Persib Bandung karena ikut trial. Kala itu Mario Jardel dengan beberapa pemain Gapura usia di atas 17 tahun datang Persib Bandung mengikuti trial. Setelah mengikuti sejumlah tahapan di Persib, akhirnya hanya Mario Jardel yang lolos. "Itulah debut pertama Mario di klub Liga 1 yang mulai berproses dari Gapura Academy," ungkap Muchlis penuh bangga. Setelah dari Persib itu baru Mario berlabuh ke Persita Tangerang.
Muchlis berusaha terus untuk menempa siswanya untuk giat latihan. Dia berharap kelak nanti akan lahir pemain nasional dari GSSI. "Semua itu bermula dari mimpi dan disertai dengan proses latihan dan latihan," ungkap.
Ada yang menarik dari Gapura. Meski memiliki banyak kelompok umur siswa, tetapi pengelolaannya masih secara swadaya. Setiap anak-anak dari Gapura ikut pertandingan atau festival, para orang tua urunan untuk membiayai buah hatinya berlaga di lapangan. "Iya begitu kondisinya. Kami tidak ada sponsor besar. Sponsor kami hanya para orang tua," ujar Ketua Komite SSB Gapura Alfi Taufik Sukur.
Komite SSB merupakan kumpulan orang tua siswa SSB. Sepertinya halnya komite di sekolah pada umumnya, di Gapura juga terdapat Komite yang isinya para orang tua siswa. Mereka semuanya berpikir dalam pengelolaan, operasional klub atau SSB, dan operasional untuk setiap ada event pertandingan. "Kami hanya berangkat dari semangat dan hobi. Jadi, setiap pertandingan kami urunan," ujarnya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
