Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 September 2024 | 03.33 WIB

Stadion Utama Gelora Bung Karno, Lebih dari Sekadar Proyek Pembangunan Infrastruktur Olahraga

Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (Pexels.com/Tom Fisk) - Image

Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (Pexels.com/Tom Fisk)

JawaPos.com – Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) adalah salah satu fasilitas olahraga milik Indonesia yang memiliki historisitas panjang. Pembangunan stadion tersebut melibatkan dinamika politik, baik nasional maupun internasional.

Penggagas utama dari wacana pembangunan SUGBK adalah Presiden pertama RI, Soekarno. Semua itu berawal saat Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games 1962.

Pada 1952, Federasi Asian Games (Asian Games Federation) menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Fakta itu membuat Indonesia membutuhkan kompleks olahraga bertaraf internasional.

Alasan itu pula yang membuat Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No.113/1959 tentang Dewan Asian Games Indonesia (DAGI). Lembaga ini dipimpin oleh Menteri Penerangan Maladi.

Awalnya, Presiden Soekarno memilih daerah Karet-Setiabudi atau Pejompongan sebagai lokasi pembangunan Gelora Bung Karno (GBK). Namun, Ir. Friedrich Silaban menolak usulan tersebut karena akan memacetkan lalu lintas pusat kota.

Arsitek Masjid Istiqlal tersebut mengusulkan daerah Senayan, dekat dengan kota satelit Kebayoran Baru. Akhirnya, Sukarno menyetujui usulan Silaban soal area Senayan.

Untuk membangun Stadion tersebut, Presiden Soekarno mengajukan pinjaman lunak kepada Uni Soviet (kini Rusia). Dan, Nikita Kruschev selaku pemimpin Uni Soviet memberikan pinjaman kepada Indonesia dengan bunga lunak. Nominal kredit lunak dari Uni Soviet sebesar USD12,5 juta.

Konstruksi stadion GBK mulai dibangun pada 8 Februari 1960 dan selesai pada 21 Juli 1962. Pembangunan kompleks olahraga ini terbilang cepat dan selesai tepat waktu sesuai dengan agenda Asian Games di Jakarta pada 1962.

Meski arsitek utama dari pembangunan stadion GBK adalah Friedrich Silaban, tetapi Soekarno sebagai seorang arsitek juga berperan penting dalam pembangunan gelanggang ini.

Muhammad Rizaldy, Abdul Syukur, dan Humaidi dalam “Sukarno dan Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno” (2020) mengatakan Soekarno memberikan gagasan konstruksi atap stadion berbentuk oval atau sedikit bundar agar penonton dapat dengan nyaman, terbebas dari hujan, dan panas matahari selama menonton Asian Games dan pertandingan lainnya.

Ini menunjukkan bahwa proyek pembangunan Stadion GBK bukan sekadar memenuhi syarat Asian Games Federation, melainkan mengembangkan politik mercusuar, yang menandakan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa budak lagi.

Remotivi dalam “Selama Ini Kita Tidak Nasionalis, Tapi Narsis” (2022) proyek pembangunan ini bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi membangun psikologis bangsa agar terbebas dari mental terjajah. Dengan demikian, Gelora Bung Karno adalah simbol pembebasan bangsa Indonesia dari mental budak.

Proyek ini hendak menunjukkan ke muka dunia bahwa bangsa Indonesia rasional, modern, dan cerdas. Ini merupakan tujuan utama dari gagasan nasionalisme Soekarno untuk membebaskan bangsa Indonesia dari perasaan rendah diri, meski di tengah realitas kas negara yang kosong.

Sampai sekarang SUGBK masih menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sejumlah perhelatan kelas nasional hingga internasional berlangsung di gelanggang Senayan ini. Salah satunya perhelatan baru-baru ini adalah Misa Akbar oleh Paus Fransiskus sebagai bagian dari rangkaian perjalanan apostoliknya.

Selain itu, tempat ini juga menjadi venue pertandingan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 saat Timnas Indonesia melawan Australia. 

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore