
Makan Konate saat memperkuat Persebaya Surabaya. Kini dia dikabarkan memperkuat tim Liga 2 Indonesia 2024/2025. (Persebaya.id)
JawaPos.com — Makan Konate, sosok gelandang serang asing yang pernah mengantarkan Persebaya Surabaya meraih gelar Piala Gubernur Jawa Timur 2020, kini tengah menghadapi fase baru dalam kariernya. Pemain asal Mali ini, yang pernah menjadi salah satu bintang di kompetisi Liga 1 Indonesia, kini dikabarkan bergabung dengan klub Liga 2 Indonesia, Persikabo 1973. Langkah mengejutkan ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan penggemar sepak bola Indonesia.
Sebelumnya, nama Makan Konate selalu lekat dengan klub-klub besar di Liga 1 Indonesia . Dalam perjalanan kariernya di Indonesia, ia pernah memperkuat beberapa klub papan atas seperti Persib Bandung, Arema FC, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta. Di setiap klub yang dibelanya, Konate selalu menjadi sosok sentral yang memegang peran penting dalam mengatur ritme permainan tim. Kemampuan teknisnya sebagai playmaker dan visi bermainnya yang luar biasa membuatnya menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di lapangan.
Sejak pertama kali datang ke Indonesia, Konate tak hanya dikenal karena kemampuannya di lapangan, tetapi juga karena rekam jejak prestasi yang mengesankan. Bersama Persib Bandung, ia berhasil membawa tim tersebut meraih dua gelar bergengsi, yakni juara Liga Super Indonesia (ISL) 2014 dan Piala Presiden 2015. Tak hanya di Persib, kiprahnya di Arema FC juga cukup gemilang. Pada tahun 2019, Konate sukses membawa Arema FC meraih Piala Presiden, trofi yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain asing terbaik di kompetisi Indonesia.
Namun, yang tak kalah membanggakan bagi penggemar Persebaya Surabaya adalah ketika Konate sempat mempersembahkan gelar Piala Gubernur Jawa Timur 2020 untuk Green Force. Meskipun masa baktinya di Persebaya Surabaya terbilang singkat, kontribusinya di turnamen tersebut sangat berarti. Bersama Persebaya Surabaya, Konate menunjukkan kualitasnya sebagai pemain kelas dunia yang mampu memimpin tim dalam situasi sulit.
Setelah melalui berbagai momen puncak dalam kariernya, Konate kini dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Di usianya yang masih 32 tahun, usia emas bagi seorang pesepak bola, Konate memutuskan untuk turun kasta dan bergabung dengan Persikabo 1973, klub yang baru saja terdegradasi dari Liga 1 Indonesia ke Liga 2 Indonesia. Langkah ini tentunya mengejutkan banyak pihak, mengingat status Konate sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di Indonesia.
Kepindahan Konate ke Persikabo 1973 disebut-sebut tak lepas dari peran Djajang Nurjaman, pelatih yang sangat berjasa dalam karier Konate. Djajang Nurjaman adalah sosok yang pertama kali membawa Konate ke Persib Bandung pada tahun 2013. Di bawah asuhan Djajang, Konate tampil impresif dan menjadi pemain kunci dalam keberhasilan Persib menjuarai Liga Super Indonesia 2014. Kini, keduanya kembali dipertemukan di Persikabo 1973, dan publik sepak bola Indonesia tentu penasaran apakah Konate masih bisa mengulangi kesuksesan masa lalunya bersama Djajang.
Meski masih berada di usia yang ideal, penurunan karier Konate tampak jelas dalam beberapa musim terakhir. Pada paruh pertama musim Liga 1 Indonesia 2023/2024, ia hanya bermain 15 pertandingan bersama Barito Putera, dengan catatan dua gol dan satu assist. Setelah itu, Barito Putera memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya, membuat Konate menganggur selama beberapa waktu. Situasi ini mungkin menjadi alasan utama mengapa Konate dikabarkan memutuskan untuk menerima tawaran dari Persikabo 1973 meski harus bermain di kasta kedua.
Sebelum bergabung dengan Barito Putera, Konate sempat memperkuat RANS Nusantara FC di musim 2022/2023, di mana ia mencatatkan 33 pertandingan dengan torehan delapan gol dan tiga assist. Di musim sebelumnya, ia bermain untuk Persija Jakarta, mencetak tujuh gol dalam 14 pertandingan.
Meski statistik Konate masih cukup baik, jelas terlihat bahwa performanya sudah tidak seprima beberapa tahun sebelumnya. Pemain yang pernah menjadi mesin gol di Arema FC dengan 34 gol dalam 61 pertandingan tersebut kini harus berjuang kembali menemukan performa terbaiknya di Liga 2 Indonesia bersama Persikabo 1973.
Satu hal yang menarik adalah peran Djajang Nurjaman dalam kepindahan Konate ke Persikabo. Djajang adalah pelatih yang sangat memahami karakter Konate, dan keduanya pernah meraih kesuksesan bersama di Persib Bandung. Pengalaman dan kebersamaan mereka di masa lalu menjadi faktor penting dalam keputusan Konate untuk menerima tantangan baru di Liga 2 Indonesia. Djajang diharapkan dapat memaksimalkan potensi Konate dan membawa Persikabo kembali ke Liga 1 Indonesia.
Kombinasi antara Djajang dan Konate bisa menjadi kunci sukses Persikabo 1973 di Liga 2 Indonesia ini. Meskipun Liga 2 Indonesia memiliki level kompetisi yang berbeda dengan Liga 1 Indonesia, pengalaman dan kualitas yang dimiliki Konate bisa menjadi pembeda di lapangan. Djajang, yang juga dikenal sebagai pelatih berpengalaman di kancah sepak bola Indonesia, akan berusaha keras untuk mengembalikan Persikabo ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Meski langkahnya menuju Liga 2 Indonesia dianggap sebagai kemunduran, kepindahan Konate ke Persikabo 1973 bisa menjadi titik balik dalam kariernya. Dengan usia yang masih 32 tahun, Konate memiliki peluang untuk kembali ke puncak performa jika ia mampu tampil konsisten dan membawa Persikabo berprestasi. Liga 2 Indonesia, meskipun berada di level yang lebih rendah, masih menghadirkan tantangan tersendiri bagi Konate.
Keberadaan Konate di Liga 2 Indonesia tentu akan menjadi perhatian para penggemar sepak bola, tidak hanya dari kalangan suporter Persikabo, tetapi juga dari penggemar klub-klub yang pernah dibelanya seperti Persib, Arema, dan Persebaya Surabaya. Mereka tentu berharap melihat sosok Konate yang dulu dikenal sebagai pemain yang selalu memberikan kontribusi maksimal di setiap klub yang ia bela.
Langkah Makan Konate bergabung dengan Persikabo 1973 di Liga 2 Indonesia memang mengejutkan, namun juga menarik untuk disimak. Sosok yang pernah mengantarkan Persebaya Surabaya juara Piala Gubernur Jatim 2020 ini masih memiliki peluang untuk mengukir cerita sukses baru. Dengan bantuan Djajang Nurjaman, Konate diharapkan bisa membawa Persikabo kembali ke Liga 1 Indonesia dan menambah prestasi dalam kariernya. Akankah Konate mampu menghadapi tantangan di Liga 2 Indonesia dan mengulang kesuksesan masa lalunya? Layak dinantikan.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
