
Suporter Persebaya Surabaya menunjukkan sikap lebih dewasa dalam menanggapi provokasi suporter lawan. (persebaya.id)
JawaPos.com — Di dunia sepak bola, persaingan antarklub dan pendukungnya adalah hal yang lumrah. Namun, ada perbedaan signifikan antara persaingan sehat dan kebencian yang berlebihan.
Baru-baru ini, sebuah unggahan di akun Instagram @persebayafans27 menyoroti aksi segelintir suporter Arema FC yang menyanyikan lagu-lagu kebencian terhadap suporter Persebaya Surabaya.
Ironisnya, nyanyian itu dilontarkan ketika Arema FC menghadapi Persis Solo di ajang Piala Presiden 2024 pada sebuah acara nonton bareng, tanpa ada keterlibatan Persebaya.
Fenomena ini menimbulkan berbagai tanggapan, khususnya dari pendukung Persebaya, mereka menunjukkan sikap yang lebih dewasa dalam menghadapi provokasi tersebut.
Mendengar nyanyian kebencian, suporter Persebaya memilih merespons dengan bijak. Komentar-komentar yang muncul di unggahan tersebut menunjukkan kelas dan kedewasaan para pendukung Green Force.
Salah satu komentar berbunyi, “Musuhe sopo seng kenek pangah bonek jan bocah gabut,” yang menandakan bahwa mereka tidak merasa terganggu oleh nyanyian tersebut.
Komentar lain mengatakan, “Kok durung tobat ae yo,” mengisyaratkan bahwa perilaku negatif seperti itu seharusnya sudah ditinggalkan.
Respons lain dari netizen yang tak kalah menarik adalah, “Jiwane sakit sampek mati, viralkan ben isin saklawase. Adabpe kanjuruhan gak ngapokno ati akalle.”
Ungkapan ini mengingatkan tentang pentingnya introspeksi dan belajar dari kejadian masa lalu, seperti Tragedi Kanjuruhan untuk tidak lagi menyebarkan kebencian. Ada pula komentar yang menegaskan perbedaan kelas antara suporter Persebaya dan yang lainnya, “jarno min, bedo kelas wis ga usah direken, kelase awakdewe menuju mendunia.” Ungkapan ini mencerminkan bahwa para suporter Persebaya lebih memilih untuk fokus pada hal-hal yang lebih positif dan konstruktif.
Sikap dewasa yang ditunjukkan oleh suporter Persebaya Surabaya ini menjadi bukti bahwa sportivitas dan kedewasaan bisa berjalan seiring dengan semangat mendukung tim kesayangan. Di tengah ketatnya persaingan, tetap menjaga sikap positif adalah hal yang penting.
Dalam dunia sepak bola, rivalitas adalah bumbu yang membuat kompetisi menjadi menarik, namun harus diimbangi dengan sikap saling menghormati. Mengingat nyanyian kebencian seperti yang terjadi di Piala Presiden 2024 pada sebuah acara nonton bareng justru hanya menimbulkan gesekan dan konflik yang tidak perlu.
Sepak bola seharusnya menjadi ajang yang menyatukan, bukan memecah belah. Nyanyian kebencian bukan hanya tidak relevan, tetapi juga merusak citra sepak bola itu sendiri. Mengingat dampak dari perilaku negatif, penting bagi semua pihak, termasuk suporter, untuk bersama-sama menciptakan atmosfer yang lebih positif di stadion. Mendukung tim kesayangan dengan penuh semangat tanpa harus merendahkan lawan adalah cerminan dari sikap sportivitas yang sebenarnya.
Bonek, julukan bagi suporter Persebaya, dikenal dengan loyalitas dan semangat pantang menyerah. Namun, mereka juga menunjukkan bahwa kesetiaan kepada tim tidak harus diiringi dengan kebencian terhadap tim lain. Sikap ini mencerminkan perubahan paradigma dalam budaya dukung-mendukung di Indonesia. Alih-alih terjebak dalam siklus kebencian, Bonek lebih memilih untuk mengedepankan sikap yang lebih bijak dan positif.
Ungkapan seperti, “Gausah dikei panggung asline, wes gak level blas,” menegaskan bahwa Bonek tidak ingin terjebak dalam provokasi murahan. Mereka lebih memilih untuk fokus pada hal-hal yang lebih penting, seperti mendukung tim mereka dengan cara yang positif.
Dengan demikian, Bonek menunjukkan bahwa mereka lebih dari sekadar suporter yang fanatik; mereka adalah suporter yang bijak dan mampu menempatkan diri dengan baik.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
