
DEGRADASI: Bhayangkara FC, klub yang menaungi Radja Nainggolan resmi terdegradasi ke Liga 2. (Bhayangkara FC)
JawaPos.com — Bhayangkara FC, sebuah nama yang kini memunculkan kesan nostalgia bagi penggemar sepak bola Tanah Air. Klub ini, yang pernah bermarkas di Surabaya, telah menorehkan sejarah panjang dalam dunia sepak bola Indonesia. Namun, bagaimana perjalanan mereka dari Kota Pahlawan hingga turun kasta di Liga 1? Mari kita telusuri bersama.
Sejarah Bhayangkara FC bisa dibilang dimulai dari dualisme Persebaya Surabaya pada awal 2010-an. Saat itu, Persebaya Surabaya terpecah menjadi dua entitas yang berbeda, dengan masing-masing klaim keberadaan dan identitas.
Persebaya Surabaya yang bermain di kompetisi PT Liga Indonesia memutuskan untuk mogok berkompetisi pada musim 2010/2011, setelah merasa diperlakukan tidak adil dan akhirnya didegradasi dari Liga Super Indonesia (LSI), yang kini dikenal sebagai Liga 1.
Para petinggi Persebaya yang tidak ingin kehilangan eksistensi klub kemudian berkumpul di markas mereka di Jalan Karanggayam, Surabaya. Mereka berembuk untuk mencari solusi agar Persebaya tetap dapat berkompetisi di bawah naungan PT Liga Indonesia.
Pada saat yang sama, muncul kompetisi alternatif yang dikenal sebagai Liga Premier Indonesia (LPI) atau Indonesian Premier League (IPL), yang digagas oleh pengusaha minyak terkenal, almarhum Arifin Panigoro.
Persebaya 1927, sebagai salah satu klub yang bergabung dalam LPI, berhasil meraih kesuksesan dengan menjadi juara putaran pertama. Namun, kompetisi ini tidak berlanjut, dan situasi semakin rumit dengan munculnya konflik antara PSSI dan Menpora yang berujung pada penghentian kompetisi resmi pada 2015.
Ada dua tim bernama Persebaya, satu bermain di LPI dan yang lainnya tampil di Divisi Utama. Persebaya yang berkompetisi di Divisi Utama adalah asal mula terbentuknya Bhayangkara FC. Pembentukan Persebaya di Divisi Utama dimungkinkan oleh intervensi Wisnu Wardhana dan La Nyalla Mattalitti. Mereka mengakuisisi Persikubar Kutai Barat dan memindahkannya ke Surabaya dengan mengubah namanya menjadi Persebaya Surabaya di bawah kepemilikan PT. Mitra Muda Inti Berlian (MMIB).
Di tengah gejolak ini, muncul permasalahan terkait kepemilikan merek dan logo klub. Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia (PI), yang bermain di IPL/LPI, telah mendaftarkan merek dan logo mereka ke Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) pada 2013. Sementara itu, Persebaya yang bermain di bawah PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB), juga menggunakan logo Persebaya, baru mendaftarkan merek dan logo mereka pada 2015.
Dalam ketegangan antara dua entitas ini, perdebatan hukum pun mengemuka. Akhirnya, keputusan diambil untuk melarang Persebaya yang bermain di kompetisi resmi PSSI menggunakan nama Persebaya, sehingga mereka akhirnya mengadopsi nama Persebaya United yang kemudian berubah nama menjadi Bonek FC. Namun, masalah tidak berhenti di situ, karena nama ini pun memicu kontroversi dengan suporter Bonek yang tidak setuju nama klub mereka diambil dari nama suporter.
Dari sinilah, perjalanan nama klub ini terus berlanjut, dengan berbagai perubahan identitas yang mencakup Bonek FC dan Surabaya United, sebelum akhirnya bergabung dengan PS Polri dan menjadi Bhayangkara Surabaya United (BSU). Ketika format kompetisi berubah menjadi Liga 1, nama BSU kembali berubah menjadi Bhayangkara FC.
Bhayangkara FC, dengan basis di Jakarta Selatan, menjadi salah satu kekuatan di Liga 1 dengan memenangkan gelar juara pada musim sebelumnya. Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Meskipun dihuni oleh pemain-pemain potensial seperti Radja Nainggolan, Matias Mier, dan Dendy Sulistyawan, musim 2023/2024 membawa tantangan baru bagi Bhayangkara FC.
Sekarang, Bhayangkara FC yang sempat berganti nama lagi menjadi Bhayangkara Presisi Indonesia FC harus menghadapi kenyataan pahit dari degradasi. Perjalanan panjang mereka dari Kutai Barat hingga Jakarta kini menghadapi babak baru, di mana mereka harus menerima kenyataan dan mempersiapkan diri untuk tantangan baru di Liga 2 musim depan.
Dari akuisisi Persikubar Kutai Barat hingga perjalanan panjang Bhayangkara FC, kisah ini menjadi cerminan dari kompleksitas dan dinamika dunia sepak bola Indonesia. Meskipun terdegradasi, memori dan asal-usul lahirnya klub ini tetap terpatri dalam hati penikmat sepak bola Indonesia bahwa ada salah satu momen unik di Liga Indonesia ketika terciptanya sebuah klub bernama Bhayangkara Presisi Indonesia FC.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
