Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 9 April 2024 | 01.02 WIB

Menelusuri Jejak Suwito, Sang Naga Terakhir di Skuad Persebaya Surabaya

JEJAK SANG NAGA: Menelusuri Jejak Suwito, Sang Naga Terakhir di Skuad Persebaya Surabaya. (JawaPos) - Image

JEJAK SANG NAGA: Menelusuri Jejak Suwito, Sang Naga Terakhir di Skuad Persebaya Surabaya. (JawaPos)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya, sebuah nama yang tak pernah lekang oleh waktu. Sejak lahirnya pada 1927, klub ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Indonesia.

Namun, keberadaannya bukan hanya sekadar cerita tentang gol-gol indah atau trofi yang diangkat. Persebaya Surabaya adalah cerminan dari keberagaman dan kebanggaan akan identitasnya.

Sejarah panjang Persebaya Surabaya mencatat banyak jejak yang membentuk karakternya, dan salah satu cerita yang tak boleh dilupakan adalah kisah para pemain berdarah Tionghoa yang turut meramaikan lapangan bersama Green Force. Dalam sorotan kali ini, kita akan menelusuri jejak naga di skuad Persebaya Surabaya, yang mencerminkan keberagaman dan semangat Tanah Air.

Suwito, atau yang akrab disapa Ahong, adalah salah satu sosok yang tak terlupakan dalam sejarah Persebaya Surabaya. Pemain kelahiran 4 Februari 1982 di Cokrowati, Kabupaten Tuban, Suwito memulai kisahnya sebagai seorang pemain muda yang bersemangat.

Bakatnya dalam sepak bola terlihat sejak masa kecil, dan semangatnya membawa dia berlabuh di lapangan Stadion Gelora 10 Nopember.

Masa muda Suwito diwarnai dengan perjuangan dan tekad untuk mencapai impian. Bergabung dengan klub amatir Putra Gelora, Suwito terus mengasah kemampuannya. Namun, takdir membawanya ke sebuah titik balik saat dia mendengar tentang pendaftaran Diklat Persebaya Surabaya. Tanpa ragu, Suwito mendaftar dan menjalani seleksi tanpa memiliki koneksi atau mentor yang memandu.

“Waktu itu ya masih tetap sering main bola plastik di sekolah. Pas SMA saya semakin tahu Persebaya soalnya dekat sama sekolah,” cerita Suwito, dikutip dari koran Jawa Pos edisi 27 Januari 2017.

Perjalanan Suwito di Persebaya Surabaya bukanlah tanpa liku-liku. Meski berhasil masuk skuad inti pada Kompetisi Divisi Utama Ligina musim 2002, kontraknya diputus di tengah jalan. Keputusan tersebut tak pernah disampaikan secara langsung kepadanya, dan Suwito bahkan mengetahuinya dari koran. Namun, cinta dan kebanggaannya terhadap Persebaya Surabaya tetap menggelora di hatinya.

“Saya nggak mikir ada pemain titipan atau enggak. Kalau saya nggak masuk tim, berarti saya mainnya memang kurang,” sebut arek Pacar Keling tersebut.

Meski harus mengakhiri petualangannya di lapangan pada usia yang masih muda, Suwito tetap setia pada warna kebesaran hijau Persebaya Surabaya. Dia memilih untuk berkontribusi di dunia futsal setelah pensiun dari sepak bola, namun semangat dan cintanya pada klub tetap membakar di dalam dirinya.

Bagi Suwito, atmosfer Stadion Gelora 10 Nopember tak terlupakan. Suara gemuruh para suporter, teriakan sorak yang menggetarkan, semuanya menciptakan magis tersendiri bagi pemain muda itu. Dia merasakan betapa istimewanya setiap kali menginjakkan kaki di rumput Tambaksari, sebuah pengalaman yang diidam-idamkan oleh banyak anak muda di Surabaya. “Kalau suporter sudah teriak, rasanya seperti terbang,” ujarnya.

Tidak hanya pada pertandingan resmi, bahkan saat latihan pun, suporter sudah berjubel di tribun. Suwito merasakan betapa terbangunnya semangatnya setiap kali mendengar suara-suara itu. Namun, seperti halnya sebuah pertandingan, ada kala terbangun dan ada kala harus mengakhiri babaknya.

Setelah meninggalkan dunia sepak bola, Suwito tidak melupakan warisan dan kenangan berharga yang dia raih bersama Persebaya Surabaya. Sebuah kaus berisi tanda tangan teman-teman setimnya masih disimpannya dengan baik sebagai cenderamata berharga yang menjadi saksi perjalanan hidupnya.

“Saya cinta Persebaya. Bangga pernah menjadi bagiannya,” tegas pria yang bermimpi menjadi pelatih sepak bola itu.

Kisah Suwito hanyalah salah satu dari banyak jejak naga yang terukir dalam sejarah Persebaya Surabaya. Keberagaman yang mewarnai skuad klub ini menjadi cerminan dari semangat persatuan dan kebangsaan. Para pemain dari berbagai latar belakang etnis turut memperkaya warna kebesaran Persebaya Surabaya, membuktikan bahwa sepak bola tidak mengenal batas etnis atau ras.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore