Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Maret 2024 | 20.03 WIB

Menelusuri Jejak Suhatman Imam, Legenda Semen Padang yang Pernah Melatih Persebaya Surabaya

LEGENDA: Suhatman Imam telah menorehkan sejarah di sepak bola Indonesia dengan menjadi legenda bagi Semen Padang dan Timnas Indonesia, bahkan pernah melatih Persebaya Surabaya. (Vidio.com) - Image

LEGENDA: Suhatman Imam telah menorehkan sejarah di sepak bola Indonesia dengan menjadi legenda bagi Semen Padang dan Timnas Indonesia, bahkan pernah melatih Persebaya Surabaya. (Vidio.com)

JawaPos.com — Kisah sukses Suhatman Imam, seorang legenda dalam dunia sepak bola Indonesia, menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola Tanah Air.

Perjalanan kariernya yang panjang dan beragam mencerminkan dedikasi serta kontribusinya yang besar terhadap perkembangan olahraga sepak bola di Indonesia.

Suhatman Imam, terkenal sebagai salah satu pemain terbaik Indonesia pada akhir 1970-an, awalnya bermain sepak bola untuk PSP Padang sebelum dipanggil oleh PSSI untuk bergabung dengan Timnas Indonesia dalam pertandingan Pra-Olimpiade di Jakarta pada 1975. Di Kejuaraan Asia 1977 di Bangkok, dia bahkan diamanatkan sebagai kapten tim.

Perjalanan Suhatman Imam sebagai pelatih dimulai dari keberhasilannya membawa Semen Padang meraih gelar juara di Piala Indonesia pada 1992. Prestasi ini membuka pintu bagi Suhatman Imam untuk terlibat dalam proyek ambisius yang diprakarsai oleh Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) untuk mengirim pemain muda ke Italia.

Ide besar ini berasal dari Suhatman Imam sendiri, yang melihat potensi besar dalam mengirim pemain muda ke Italia untuk bermain di lingkungan yang profesional dan terorganisir dengan baik. Bersama PSSI, Suhatman Imam berhasil mewujudkan impian ini dengan mengirim 24 pemain muda ke Italia pada 1993, dalam apa yang kemudian dikenal sebagai program PSSI Primavera.

Ketika itu Suhatman Imam diberi kepercayaan untuk melatih tim Primavera di Italia, yang merupakan kompetisi yang menitikberatkan pada pengembangan pemain muda. Hasilnya, banyak pemain berkualitas lahir dari program tersebut, termasuk Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Yeyen Tumena, Sugiantoro, dan lainnya.

Pengalaman Suhatman Imam di Italia tidak hanya memberikan wawasan baru dalam hal taktik dan strategi permainan, tetapi juga membuka matanya terhadap potensi besar yang dimiliki oleh sepak bola Indonesia. Dia menyadari bahwa prinsip Catenaccio atau pertahanan grendel ala Italia bisa diterapkan dengan sukses di Indonesia untuk mengatasi masalah kebocoran pertahanan.

Kembali ke Tanah Air, Suhatman Imam berkolaborasi dengan rekan lamanya, Emral Abus, untuk mewujudkan visi dan konsep yang dimilikinya. Namun, pekerjaannya sebagai pegawai bank menghalangi langkahnya untuk langsung mengimplementasikan ide-ide tersebut di Semen Padang, klub asalnya.

Namun, dengan dukungan Emral Abus dan kesadaran akan pentingnya menerapkan konsep baru dalam sepak bola Indonesia, Suhatman Imam mencari sosok lain untuk merepresentasikan visi dan konsepnya. Pilihannya jatuh kepada Nil Maizar, seorang putra Minang yang pernah menjadi pemain Semen Padang di bawah bimbingan Suhatman Imam.

Ketika itu, Semen Padang yang sebelumnya dilatih oleh Nil Maizar yang kemudian dipanggil untuk menangani Timnas Indonesia dan akhirnya dilanjutkan oleh Suhatman Imam berhasil menghasilkan prestasi gemilang bagi Semen Padang, setelah keluar menjadi juara Liga Primer Indonesia pada 2011/2012 dengan kemenangan telak 3-1 atas Persiraja Banda Aceh di GOR Haji Agus Salim, Padang, Sumatera Barat pada 24 Juni 2012.

Di tengah perjalanan kariernya, Suhatman Imam juga menjalani pengalaman singkat sebagai pelatih Persebaya Surabaya pada 2007. Meskipun tidak mencapai target yang diharapkan, pengalamannya bersama Green Force menambah kedalaman pengalaman dan pengetahuannya dalam dunia pelatihan sepak bola.

Kisah Suhatman Imam adalah kisah tentang keberanian untuk bermimpi besar dan berusaha mewujudkannya, bahkan dalam situasi yang sulit dan penuh tantangan. Dedikasinya terhadap sepak bola Indonesia, dari Semen Padang hingga Persebaya Surabaya, tidak pernah pudar, dan warisannya tetap hidup dalam perjalanan para pemain dan pelatih yang terinspirasi olehnya.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore