Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Maret 2024 | 20.15 WIB

Menelusuri Jejak Rivalitas Galatama dan Perserikatan Jelang Derbi Jatim Arema FC vs Persebaya Surabaya

RIVALITAS: Derbi Jatim Arema FC vs Persebaya Surabaya bisa jadi representasi rivalitas Galatama dan Perserikatan di era sebelum Liga Indonesia 1994. - Image

RIVALITAS: Derbi Jatim Arema FC vs Persebaya Surabaya bisa jadi representasi rivalitas Galatama dan Perserikatan di era sebelum Liga Indonesia 1994.

JawaPos.com — Sejarah sepak bola Indonesia dipenuhi dengan berbagai kompetisi yang telah memberikan warna dan dinamika tersendiri dalam perkembangan olahraga ini di tanah air. Dua kompetisi yang memiliki peran sentral dalam sejarah sepak bola Indonesia adalah Galatama dan Perserikatan.

Sebelum akhirnya kedua kompetisi ini melebur menjadi satu dalam bentuk Liga Indonesia pada tahun 1994, Galatama dan Perserikatan telah membentuk rivalitas dan memberikan kontribusi besar dalam perkembangan sepak bola lokal.

Galatama lahir sebagai respons terhadap kebutuhan klub-klub sepak bola untuk mandiri secara finansial. Sebagai 'anak baru', Galatama berdiri sebagai alternatif baru bagi klub-klub yang ingin lebih mandiri dalam pengelolaan dan pendanaan mereka. Di sisi lain, Perserikatan memiliki akar yang lebih dalam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebagai kompetisi amatir, Perserikatan mengadopsi format Belanda dalam pengelolaan sepak bola di Indonesia.

Sebelum Galatama resmi diperkenalkan, PSSI telah membentuk klub profesional pada tahun 1976 dengan 8 klub. Namun, status pemain tetap amatir. Keinginan untuk membentuk klub-klub profesional kemudian terhenti ketika Ali Sadikin terpilih sebagai ketua umum PSSI periode 1977-1981. Meskipun telah ada rencana untuk mengesahkan pemain sebagai profesional, keputusan ini ditunda dan PSSI memperkenalkan program baru, termasuk Galatama.

Galatama sendiri memiliki sejumlah masalah, mulai dari kurangnya tim peserta hingga maraknya isu skandal pengaturan skor dan kerusuhan penonton. Hal ini membuat banyak peserta mengundurkan diri, bahkan kompetisi ini akhirnya berhenti. Namun, sejarah Galatama tidak bisa dilupakan karena memberikan kontribusi dalam proses profesionalitas sepak bola di Indonesia.

Di sisi lain, Perserikatan juga memiliki sejarah panjang dalam perkembangan sepak bola Indonesia. Format amatir yang diadopsi Perserikatan menekankan pada fanatisme kedaerahan dan telah menjadi bagian integral dari budaya sepak bola Indonesia sejak tahun 1920-an.

Rivalitas antara Galatama dan Perserikatan mencerminkan dinamika dan kompleksitas perkembangan sepak bola Indonesia pada masa itu. Meskipun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola kompetisi, keduanya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Meskipun Galatama dan Perserikatan telah menjadi bagian dari masa lalu sepak bola Indonesia, kenangan dan jejaknya tetap membentuk identitas dan mempengaruhi perkembangan sepak bola di tanah air. Saat ini, dalam persiapan jelang laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, nostalgia akan rivalitas antara Galatama dan Perserikatan mungkin masih terasa di antara para penggemar sepak bola yang mengingat masa-masa tersebut.

Dengan demikian, sejarah Galatama dan Perserikatan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sepak bola Indonesia, dan melalui nostalgia akan masa lalu ini, kita dapat menghargai dan memahami perjalanan panjang sepak bola Indonesia menuju profesionalisme dan kemajuan yang lebih besar.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore