Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Maret 2024 | 18.56 WIB

Kisah Mahrus Afif, Kiper Skuad Juara Persebaya Surabaya di Piala Utama 1990 yang Sempat Berbisnis Ayam dan Kayu

MEMORI MANIS: Mengenang memori manis Mahrus Afif yang berhasil mengantarkan Persebaya Surabaya juara di Piala Utama 1990. (Youtub Omah Balbalan) - Image

MEMORI MANIS: Mengenang memori manis Mahrus Afif yang berhasil mengantarkan Persebaya Surabaya juara di Piala Utama 1990. (Youtub Omah Balbalan)

JawaPos.com — Mahrus Afif, seorang nama yang mungkin tidak begitu dikenal oleh generasi muda penggemar sepak bola, namun memiliki cerita yang patut untuk disimak.

Kariernya sebagai kiper utama Persebaya Surabaya terbilang singkat, tetapi penuh dengan perjuangan dan prestasi yang menginspirasi. Mari kita telaah perjalanan hidup Mahrus Afif, dari masa-masa gemilang bersama Persebaya Surabaya hingga keberhasilannya dalam dunia bisnis dan kepelatihan.

Mahrus Afif, lahir pada 1966, memulai kiprahnya sebagai kiper utama Persebaya Surabaya pada awal 1987. Namun, perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Dia selalu berada di bawah bayang-bayang I Putu Yasa, kiper senior dan ikonik dari Timnas Indonesia pada masa itu. Namun, segalanya berubah pada 1990.

Pada tahun itu, Persebaya Surabaya berkiprah dalam ajang Piala Utama, sebuah kompetisi yang mempertemukan empat tim terbaik dari Perserikatan dan Galatama. Mahrus Afif menjadi pilihan utama sebagai kiper dalam skuad Persebaya Surabaya. Bersama timnya, dia berhasil meraih gelar juara setelah melewati perjalanan yang penuh dengan tantangan.

Di babak penyisihan, Persebaya Surabaya menunjukkan performa yang trengginas dan berhasil menjadi juara Grup A, bersaing dengan klub-klub tangguh seperti Pelita Jaya, PKT Bontang, dan PSM Makassar. Mahrus Afif menjadi sosok kunci dalam menjaga gawang timnya tetap aman dan solid.

Puncak keberhasilan datang saat Persebaya Surabaya melaju ke final dan menghadapi juara Galatama, Pelita Jaya. Pada laga final yang digelar pada 27 November 1990, Persebaya Surabaya berhasil mengalahkan Pelita Jaya dengan skor 3-2, mengukuhkan gelar juara bagi tim asuhan mendiang Rusdi Bahalwan. Prestasi ini menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam karier Mahrus Afif sebagai kiper.

Namun, seperti halnya dalam sepak bola, tidak semua cerita berakhir bahagia. Setelah musim tersebut, Mahrus Afif memutuskan untuk pensiun dari dunia sepak bola pada usia yang masih muda, 25 tahun. Keputusan ini diambil karena cedera lutut kambuhan yang membuatnya sulit tampil optimal di lapangan.

"Saat itu saya berpikir lebih baik berkarier sebagai karyawan PDAM Surabaya daripada tak bisa optimal di sepak bola," kenang Mahrus Afif dalam kanal YouTube Omah Balbalan.

Meskipun berakhir sebagai pemain, Mahrus Afif tidak berhenti mengabdikan dirinya pada sepak bola. Dia beralih profesi menjadi pelatih dan berhasil mencatatkan beberapa prestasi signifikan dalam karier kepelatihannya. Mulai dari menjadi bagian dari tim pelatih Persebaya Surabaya dan Jawa Timur, hingga meraih medali emas sebagai asisten pelatih tim sepak bola Jawa Timur pada PON 2008.

Di samping karier sepak bola dan kepelatihan, Mahrus Afif juga mencoba peruntungannya dalam dunia bisnis. Dia pernah membuka usaha peternakan ayam dan penjualan kayu, namun kedua usaha tersebut tidak berjalan dengan lancar. Meskipun begitu, Mahrus Afif tetap tegar dan kembali fokus pada pekerjaannya sebagai karyawan PDAM Surabaya.

"Bisnis kayu ini saya hentikan karena pengaruh pandemi COVID-19. Saya pun kembali fokus menghabiskan sisa masa kerja saya di PDAM Surabaya," jelas Mahrus Afif.

"Saya sudah tidak kuat bermain sepak bola. Pernah saya menerima ajakan main bersama mantan pemain, tapi kaki saya bermasalah pada keesokan harinya," pungkas Mahrus Afif.

Kisah Mahrus Afif adalah contoh nyata dari seorang yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dari kiper handal hingga pelatih yang sukses, dan dari pengusaha yang berjuang hingga karyawan yang setia, perjalanan hidup Mahrus Afif menginspirasi kita untuk terus berusaha dan tidak pernah menyerah pada impian kita.

Sebagai penutup, kisah Mahrus Afif menunjukkan bahwa dalam hidup ini, kita tidak selalu bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita merespons dan mengatasi setiap rintangan yang datang. Seperti pepatah mengatakan, "Ketika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka."

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore