Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Maret 2024 | 17.16 WIB

Achmad Junaidi, Tukang Angkut Kayu yang Pernah Jadi Pemain Termahal Persebaya Surabaya Berbandrol Rp 150 Juta

Achmad Junaidi kini melatih Persipro Probolinggo. - Image

Achmad Junaidi kini melatih Persipro Probolinggo.

Sebagai tim besar di Indonesia, Persebaya tak segan mendatangkan pemain-pemain dengan bandrol mahal. Salah satunya Achmad Junaidi. Siapa dia?

Sidiq Prasetyo, Surabaya

PADA 2001-2002, Achmad Junaidi kerap ke Terminal Bungurasih. Biasanya, momen itu terjadi sehari sebelum Persebaya Surabaya libur latihan. Junaidi, biasa dia dipanggil, memilih naik bus untuk pulang ke rumahnya di Kabupaten Probolinggo.

Dia menganggap bus lebih aman dan nyaman. Meski, dengan statusnya, Junaidi bisa membeli mobil. ''Nggak terasa sudah 23 tahun ya. Gak terasa waktu berjalan cepat,’’ kata Junaidi memulai percakapan.

Saat itu, Junaidi tengah berlimpah harta. Bagaimana tidak, lelaki kelahiran 1972 itu merupakan pemain termahal yang didatangkan Persebaya untuk persiapan Kompetisi Liga Indonesia musim 2002/2003.

''Saya didatangkan dari Arema dengan harga Rp 150 juta. Pelatih Persebaya Hartono yang mengajak saya karena beliau paham betul saya,’’ ungkap Junaidi.

Junaidi dan Hartono pernah bekerja sama di Mitra Surabaya. Di tangan lelaki yang akrab disapa Sinyo Hartono itu, Junaidi menjadi penyerang subur.

''Musim 1996/1997, saya mencetak 15 gol dan menjadi top skor kedua setelah pemain asing Barito Bako Sadissou dengan 17 gol,’’ kenang Junaidi.

Kedatangannya di musim 2002/2003 ke Persebaya itu juga kali kedua. Sebelumnya, di musim 1994/1995 dan 1995/1995, Junaidi juga pernah membela Persebaya.

''Hanya, saya banyak sebagai pemain pengganti. Ada gol yang saya ingat sampai sekarang yakni ke gawang Arema di Gelora 10 November sekaligus memastikan kemenangan menjadi 3-0,’’ ujar lelaki yang kini dikaruniai 4 anak itu.

Beda dengan periode dua yang dibandrol mahal, saat kali pertama membela Persebaya, Junaidi masih pemain ingusan. Niatnya ke Kota Pahlawan, adalah bergabung dengan klub Suryanaga, salah satu klub anggota internal Persebaya.

''Ada orang Probolonggo memberitahukan ke pimpinan klub Suryanaga ada pemain bagus. Kemudian, ketua Suryanaga menyuruh datang ke Surabaya,’’ papar Junaidi.

Tawaran tersebut tak bisa ditolak. Apalagi, Junaidi ingin mengembangkan karir dan ekonominya. Junaidi mengungkapkan, bahwa saat SMA dia sudah mencari uang. Banyak pekerjaan pernah dijalani. Salah satunya adalah mengangkut kayu untuk dibawa ke Pabrik Kertas Leces yang tak jauh dari desanya tinggal, Wonoasih.

''Namun, sebelum kompetisi internal Persebaya dimulai, saya dikirim Suryanaga seleksi Persebaya untuk Liga Indonesia 1. Alhamdulillah, saya masuk dan pelatih Persebaya adalah Mudayat yang juga menangani Suryanaga’’ jelas Junaidi.

Di Green Force, dia bertahan selama dua musim. Diakuinya, di Persebaya, persaingan sangat ketat. ''Ada Yusuf Ekodono dan Dodik Suprayogi di Liga Indonesia 1 dan Liga 1 ada pemain asing,’’ kata Junaidi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore