Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Januari 2024 | 20.04 WIB

Kenangan Timnas di Piala Asia 2007, ”Pesan" dari Teletubbies: Kejutan Itu Mungkin

Piala Asia 2023 yang digelar di Qatar resmi dibuka pada Jumat (12/1) malam. - Image

Piala Asia 2023 yang digelar di Qatar resmi dibuka pada Jumat (12/1) malam.

JawaPos.com - Di hadapan para wartawan di media center Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Syamsudin Umar menyebut kemenangan Indonesia atas Bahrain berkat semangat pantang menyerah. Juga, kegigihan para gelandang "Teletubbies”.

"Saya cuma berseloroh saja ketika itu. Tapi, seloroh itu punya alasan kuat,” kenang Syamsudin tentang momen setelah laga pertama grup D Piala Asia 2007 itu ketika dikontak Jawa Pos lewat telepon.

Syamsudin asisten Ivan Kolev, pelatih Indonesia di ajang tersebut. Indonesia menundukkan Bahrain 2-1, kemenangan kedua Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di putaran final Piala Asia. Yang pertama dipetik di edisi sebelumnya, 2-1 atas Qatar.

Para Teletubbies yang dimaksud Syamsudin adalah Firman Utina, Syamsul Chaeruddin, dan Eka Ramdani. Kebetulan, postur tiga gelandang tersebut mirip: berpostur kecil.

Tapi, kata Syamsudin, ketiganya tampil istimewa yang membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan. Firman yang turun sejak menit awal menjadi pengatur serangan. Syamsul yang baru dimasukkan pada menit ke-34 bertipe perusak serangan lawan dan perebut bola. Adapun Ebol –sapaan akrab Eka Ramdani– yang baru dimainkan pada menit ke-31 menggantikan tugas Mahyadi Panggabean menjadi penyeimbang antara menyerang dan bertahan.

Padahal, lanjut Syamsudin, gelandang lawan kekar-kekar. ’’Tapi, kami nyatanya bisa menguasai lini tengah. Di tengah seperti tidak kelihatan, tapi begitu ada bola ketiga gelandang kita muncul,’’ imbuhnya.

Elie Aiboy, salah satu pilar lini depan skuad Garuda di Piala Asia 2007, juga mengenang timnas saat itu punya gaya permainan khas. Sadar kalah postur dibandingkan Bahrain serta dua lawan lainnya di grup D, Arab Saudi serta Korea Selatan, Kolev menekankan pasukannya untuk bermain bola-bola bawah. Umpan-umpan pendek yang dikombinasikan dengan kecepatan via sayap salah satu kekuatan tradisional Indonesia.

’’Kami menjalankan instruksi pelatih dengan baik. Bola-bola pendek, tidak main bola atas,’’ ungkap mantan pemain Semen Padang tersebut.

Indonesia memang akhirnya gagal lolos ke babak berikutnya. Tapi, semua mengenang skuad Piala Asia 2007 sebagai salah satu timnas terbaik di era modern. Mampu bersaing ketat dengan tiga raksasa Asia, bahkan mencatat kejutan meraih kemenangan di laga perdana.

Pelajaran penting dari Piala Asia 2007 yang dihelat di empat negara Asia Tenggara itu, asal mempersiapkan diri dengan baik, didukung kemauan bekerja keras, dan strategi yang pas, Indonesia, kata Syamsudin, bisa bersaing di Asia. Termasuk di Piala Asia 2023.

Di matanya, materi pemain saat ini jauh lebih bagus daripada eranya dulu. Namun, menurut dia, kemampuan individu saja tidak cukup.

’’Kalau bisa berkonsentrasi penuh, tidak banyak membuat kesalahan, dan bertanding dengan jiwa cinta tanah air yang tinggi serta semangat pantang menyerah, saya optimistis Indonesia bisa bersaing. Apalagi, secara permainan, Indonesia juga bisa memainkan bola,’’ katanya. (fiq/c17/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore