
In this picture taken on October 1, 2022, a group of people carry a man after a football match between Arema FC and Persebaya Surabaya at Kanjuruhan stadium in Malang, East Java. - At least 127 people died at a football stadium in Indonesia late on Octobe
JawaPos.com-Korban dalam tragedi Kanjuruhan terus bertambah. Dinas Kesehatan Kabupaten Malang melansir, jiwa yang melayang dalam peristiwa pasca pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang tadi malam (1/10) mencapai 131 orang.
Jumlah itu luar biasa besar untuk ukuran tragedi di stadion sepak bola. Hanya kalah dari bencana di Estadio Nacional di Lima, Peru yang berlangsung pada 24 Mei 1964. Laga antara Peru melawan Argentina tersebut memakan korban meninggal dunia hingga 328 orang.
Untuk ukuran jumlah, tragedi Kanjuruhan sudah melewati salah satu bencana paling mengerikan di Accra Sports Stadium, Ghana, 9 Mei 2001. Dalam laga antara Accra Hearts melawan Asante tersebut, sebanyak 126 orang meninggal dunia.
Yang memilukan, dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang terdapat korban yang masih balita. Yakni Gibran Rata Elfano yang masih berusia 2 tahun dan 10 hari. Mendiang Gibran berasal dari Pakisaji, Kabupaten Malang.
Korban meninggal juga banyak yang berusia remaja. Misalnya Audi Nesia Alfiari asal Kedungkandang dan Halkin Al Mizan warga Sumberpucung yang berusia 12 dan 13 tahun.
Dalam konferensi pers dini hari tadi, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengatakan bahwa awal mula terjadinya kerusuhan adalah kekecewaan yang memuncak dari Aremania. Sebab, untuk kali pertama dalam 23 tahun terakhir, Arema dikalahkan Persebaya di Malang dengan skor 2-3.
Rasa kekecewaan yang dalam itulah yang membuat Aremania turun ke tengah lapangan.
Menurut Kapolda, awalnya hanya sedikit yang turun ke lapangan dan mencari pemain dan ofisial Arema. "Mereka bertanya, mengapa bisa kalah melawan Persebaya?" kata Nico.
Setelah itu, polisi melakukan pengamanan kepada pemain dan pencegahan agar aksi kekerasan tidak meluas. Polisi lalu menghalau penonton agar tidak menginvasi lapangan dan mencari para pemain.
Dalam proses penghalauan tersebut, polisi kemudian menembakkan gas air mata. Dari sinilah awal mula terjadinya bencana besar tersebut. Penonton yang panik karena semburan gas air mata berhimpit-himpitan di pintu keluar dan akhirnya banyak yang meninggal karena lemas.
"Itu (penembakan gas air mata, Red) dilakukan karena mereka mulai menyerang petugas dan merusak mobil," ucap Nico.
Dalam pernyataan resminya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memerintahkan kepada Menteri Pemuda Olahraga, Kapolri, dan Ketua Umum PSSI untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang penyelenggaraan pertandingan sepak bola dan prosedur pengamanannya.
"Khusus kepada Kapolri saya minta untuk melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini. Saya juga memerintahkan PSSI untuk menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan," kata Jokowi.
"Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini. Dan saya berharap ini adalah tragedi sepak bola terakhir sepak bola di tanah air. Jangan sampai ada lagi tragedi kemanusiaan seperti ini lagi di masa depan," imbuh Jokowi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
