
Egy Maulana Vikri memilih Gdansk, Polandia, dengan pertimbangan utama keberadaan masjid untuk tempat ibadah.
JawaPos.com - Egy Maulana Vikri sempat mengungkapkan salah satu pertimbangan dalam memilih klub di Eropa adalah keberadaan masjid. Alasannya, agar memudahkan dia beribadah di samping aktivitasnya sebagai pesepak bola. "Pilihan pertama itu masjid. Saya lihat agamanya di sana seperti apa. Terlebih lagi di Eropa banyak rasis. Saya ingin nyaman dan mendapat kesempatan bermain. Di sana (Gdansk) banyak masjidnya," urai Egy beberapa waktu lalu.
Lalu, apakah dengan memilih klub Polandia, Lechia Gdansk, Egy sudah membuat langkah tepat? Apalagi, kabarnya Polandia merupakan salah satu negara Eropa dengan diskriminasi terhadap Islam yang masih cukup tinggi. Populasi umat Islam di Polandia pun berdasarkan survei Ipsos, tak sampai 1 persen dari total penduduknya.
Selain itu, berdasarkan hasil jajak pendapat yang pernah dilakukan CBOS terhadap warga Polandia pada 2015, sebanyak 64 persen menganggap orang-orang muslim tidak toleran terhadap adat istiadat dan nilai-nilai selain milik mereka sendiri. Lalu, sekitar 51 persen berpikir bahwa umat muslim umumnya menerima penggunaan kekerasan terhadap penganut agama yang berbeda.
Di balik stereotype negatif tentang Islam, ada sebuah fakta lain terungkap. Dilansir opendemocracy.net, populasi umat muslim di Polandia justru cenderung mengalami peningkatan pesat. Kabar bahwa penganut Islam di Polandia tak sampai 1 persen pun dibantah.
Sebuah hasil survei menyakini bahwa populasi Islam di Polandia sejatinya sudah mencapai 7 persen. Hal itu diungkapkan seorang peneliti post-doctoral dari University of York bernama Kasia Narkowicz, serta Asisten Profesor di Departemen Studi Eropa, di Krakow University of Economics, Konrad Pedziwiatr.
Dalam artikelnya di Open Democracy, Narkowicz dan Pedziwiatr membantah bahwa populasi umat muslim di Polandia hanya 35.000 dari total 38 juta. Mereka percaya, ada sekitar 2,6 juta penganut islam di Polandia, menjadikan populasinya menjadi salah satu yang terbesar di Eropa setelah Prancis, Jerman, dan Inggris.
Tak cuma itu, jumlah populasi Islam di Polandia pun dipercaya akan meningkat hingga 13 persen pada 2020. Jika terbukti, berarti jumlah umat muslim di Polandia akan melampaui Italia, Spanyol, Belanda, bahkan Inggris yang memiliki peningkatan cukup dinamis dalam satu dekade terakhir.
Jika ditarik ke belakang, Islam memang memiliki sejarah panjang di Polandia yang berasal dari abad ke-14. Sebelum Polandia menghilang dari peta Eropa pada akhir abad ke-18, terdapat hampir 30 masjid dan rumah ibadah di sana.
Pada waktu itu, Polandia memiliki keberagaman etnik dan agama dengan kelompok-kelompok Tatar, Yahudi, Armenia, Ukraina, dan Jerman, yang tinggal berdampingan dengan orang Polandia dan Lithuania. Namun setelah Perang Dunia Kedua, hanya sekitar 10 persen permukiman muslim yang bertahan di dalam batas baru negara. Polandia lantas menjadi salah satu negara homogen yang paling religius di Eropa.
Namun, di tengah diskriminasi Islamfobia yang masih marak, berbagai kelompok solidaritas keberagaman etnik dan agama pun gencar melakukan "perlawanan". Seperti uraian Narkowicz dan Pedziwiatr, Islam di Polandia memang mengalami peningkatan signifikan. Gdanks, pun disebut sebagai salah satu wilayah yang memiliki populasi muslim tertinggi di Polandia.
Di Gdanks terdapat monumen untuk mengenang salah satu pemimpin Islam di Polandia, Dariusz Jagiello, yang peresmiannya pada November 2010 dihadiri Presiden Bronislaw Komorowski. Gdansk pun menjadi salah satu kota yang memiliki masjid indah sebagai tempat ibadah umat muslim selain di Warsaw, Bialystok, Wroclaw, Lublin, dan Poznan.
Masjid di Kota Gdansk dibangun oleh muslim Tatar di Polandia pada 1990. Masjid Gdansk memiliki multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan dan Informasi Islam. Uniknya, Masjid di kota Gdansk ini berdekatan dengan sebuah Gereja Katholik Roma, sehingga terkadang suara azan dari menara masjid bersahutan dengan dentang lonceng gereja.
Sayangnya masjid ini memiliki sejarah yang cukup kelam. Pada 2013, masjid ini sempat dibakar oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. ""Ini sangat tidak menyenangkan bagi kami, sangat berbahaya. Api tidak hanya membakar masjid kita tapi juga hati dan jiwa kita," ujar Imam Masjid Gdansk, Hani Hraish kepada harian Gazeta Wyborcza.
Terlepas darin kisah kelam masjid di Gdansk, agaknya keputusan Egy untuk berlabuh di Lechia Gdanks bisa dibilang sudah cukup tepat. Kentalnya sejarah Islam membuat keinginannya untuk bisa fokus meniti karir dan juga beribadah, bisa dijalankan beriringan. Masyarakat Indonesia pun antusias serta turut mendoakan karir Egy di pentas sepak bola Eropa, khususnya di Polandia.
Semoga sukses, Egy! Harumkan nama Indonesia di pentas Eropa!

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
