
DEMI PERSEBAYA: Dari kiri Mat Halil, Dimas Galih, Rachmat Affandi, dan Rendi Irwan.
JawaPos.com- Semangat yang redup telah menyala lagi. Impian yang sempat melayang kini terbangun kembali. Semangat dan impian itulah yang akan dirintis sejumlah penggawa yang balik kandang. Motivasi boleh berbeda-beda. Tapi, tujuan mereka sama. Membawa Persebaya Surabaya kembali ke kasta tertinggi.
MAT HALIL
Kejar Happy Ending
Mat Halil tidak kuasa menahan haru. Kepastian yang begitu lama dia tunggu akhirnya terjawab pada 8 Januari lalu. PSSI telah memulihkan status Persebaya Surabaya. Ya, inilah kabar yang dinanti pemain 37 tahun itu. Sebab, bagi Halil, Persebaya adalah cinta pertama sekaligus terakhirnya.
Terakhir? Ya, di usianya yang sudah tergolong gaek, Persebaya mungkin bisa menjadi pelabuhan terakhir bagi Halil. Pria yang biasa bermain di posisi fullback kiri itu pun berharap bisa mempersembahkan kado manis buat Persebaya di pengujung karirnya. ’’Itu (pensiun) memang sudah sempat saya pikirkan. Tetapi, tidak ada yang tahu masa depan,’’ kata Halil. ’’Yang penting, sekarang saya fokus dulu membawa Persebaya naik (promosi) tahun depan,’’ sambung salah seorang pemilik klub internal El Faza tersebut.
Meski belum berpikir soal rencana pensiun, Halil tetap berharap karirnya di Persebaya tak mandek hanya sebagai pemain. Sebab, dia juga punya impian untuk menangani sebuah tim. Motivasi itu muncul setelah dua rekannya, Dedy Sutanto dan Jefri Prasetiyo, kini masuk dalam backroom staff Persebaya. Dedy menjadi asisten pelatih kiper dan Jefri sebagai asisten pelatih tiga.
’’Kalau bisa, saya ingin menangani klub yang di dalamnya juga ada mereka berdua (Dedy dan Jefri),’’ timpalnya. Alasannya, Halil sudah nyetel dengan dua rekannya tersebut. Maklum, selama Persebaya vakum dari kompetisi, ketiganya selalu terlibat dalam pembentukan skuad Green Force. ’’Saya bisa pensiun dan melatih dengan tenang kalau Persebaya sudah kembali ke kasta tertinggi. Kalau itu terjadi, pensiun juga bisa lega,’’ ujar Halil, lantas tertawa.
Dimas Galih
Wujudkan Mimpi Masa Kecil
Dimas Galih sebetulnya punya modal untuk membela salah satu klub Liga 1 tahun ini. Sebab, tahun lalu dia tercatat sebagai kiper utama di Persegres Gresik United. Namun, sejumlah tawaran menggiurkan dari klub Liga 1 dia tampik. Itu dilakukan setelah status Persebaya Surabaya dipulihkan PSSI. ’’Sejak awal saya memang ingin bermain di Persebaya,’’ kata Dimas.
Kiper 24 tahun itu mengakui bahwa bermain bersama Persebaya adalah impiannya sejak kecil. ’’Sejak saya masih diantar ibu saat di AL Rayyan hingga sekarang, kecintaan tidak pernah berubah,’’ timpalnya. ’’Nah, begitu tahu hak Persebaya dikembalikan, saya tidak pikir panjang untuk kembali ke sini demi menjadi bagian dari kebangkitan,’’ lanjut kiper asli Surabaya tersebut.
Dimas sebetulnya juga mengawali karir profesionalnya di Persebaya. Tepatnya, pada 2011, saat Persebaya masih bermain di Indonesian Premier League (IPL). Namun, saat itu Dimas masih berstatus sebagai pemain junior sehingga jam terbangnya di lapangan sangat minim. Persebaya saat itu lebih sering menurunkan dua kiper senior Endra Prasetya dan Dedy Sutanto.
Nah, kondisinya berbalik sekarang. Dimas kini berstatus sebagai kiper senior, yang tentu bakal menjadi panutan dua kiper junior Miswar Saputra dan Samuel Reimas. ’’Mimpi saya bisa membela Persebaya di kompetisi profesional memang sudah terwujud enam tahun lalu (2011). Tapi, sensasinya lebih menantang sekarang meski Liga 2,’’ tuturnya.
Rachmat Afandi
Menunggu Deja Vu

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
