
ALUMNI NGEBUL: Kurniawan Dwi Yulianto, salah satu jebolan terbaik Diklat Salatiga.
JawaPos.com- Ruangan kecil berukuran 3x4 meter yang berada di antara kamar nomor 3 dan 4 itu menyimpan banyak kenangan di benak Bambang Siswoyo Sidiq, kepala Diklat Salatiga 1992–2007. Meski gedung yang berdiri di pinggir Jalan Veteran, Salatiga, itu kini sudah tidak terawat, kenangan itu masih tersimpan rapi dalam hati dan ingatannya.
’’Biasanya di situ mereka menghabiskan waktu luang untuk menonton televisi,’’ kenang Bambang sembari menunjukkan ruangan itu kepada Jawa Pos. Mereka yang Bambang maksud adalah dua striker hebat yang pernah dimiliki Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto dan Bambang Pamungkas.
Kurniawan dan Bepe –sapaan Bambang Pamungkas– memang merupakan jebolan Diklat Salatiga. Selain itu, masih banyak nama beken pesepak bola nasional yang pernah menjadi bagian dari Diklat Salatiga yang sekarang telah tiada dan dilebur dengan PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) Jateng di Semarang sejak 2014 tersebut. Satu diantaranya adalah Gendut Doni.
Kompleks yang menjadi lokasi Diklat Salatiga memang masih ada, tapi tak lagi seperti dulu. Bangunannya masih berdiri, tetapi tak terawat. Rumput liar bertumbuhan di halaman dan debu menebal di dalam ruangan. Yang masih terawat hanya lapangan sepak bolanya.
Hanya letaknya tidak berada di kompleks Diklat Salatiga, tetapi di dalam area Yonif Mekanis 411/6/2/Kostrad, Salatiga. Lapangan Kurusetra namanya. ’’Dulu ada jalan kecil dari mes ke lapangan, tapi sekarang sudah tidak ada. Tertutup rerimbunan rumput liar dan jalannya pun sudah ditutup tembok,’’ kata Bambang.
Saat masih aktif, di teras bagian depan gedung terdapat tempat fitness dengan peralatan yang terbilang lengkap. Kini kosong melompong tanpa bekas. ’’Sejarah panjangnya sudah tidak ada lagi,’’ ujar pria yang pernah menjadi pelatih atletik nomor lempar tersebut.
Bangunan itu berdiri sejak 1963. Sebelum dinamai Diklat Salatiga, dulu tempat itu pusat pelatihan yang didirikan PSSI bersama Departemen Olahraga. Dikenal dengan TC Ngebul, diambil dari nama kawasan yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat tersebut.
Baru pada 1973 PSSI mengubah formatnya menjadi Diklat Salatiga, lalu berubah lagi menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Salatiga sejak 2008. Enam tahun setelah itu, PPLP Salatiga pun diboyong ke Semarang untuk dilebur dengan PPLP Jateng.
Setelah itu, hilanglah ciri khas Salatiga sebagai kawah candradimukanya para seniman sepak bola Indonesia pada masa lalu. Para pemain yang masuk generasi terakhir sebelum pindah ke Semarang, antara lain, Ravi Murdianto, Awan Setho Raharjo, dan Septian David Maulana.
Sejak 5 Januari 2014, PPLP Salatiga yang dulu bernama Diklat Salatiga dipindah ke Semarang. Mereka berlatih di kompleks olahraga Jatidiri milik pemerintah provinsi. Masalahnya, meski di ibu kota provinsi, fasilitasnya juga tidak meningkat.
Malah, para pemain ditempatkan di mes-mes yang gedungnya tua dengan sanitasi buruk dan terkesan kumuh. Lapangan latihan juga harus berbagi dengan PSIS Semarang dan Bhayangkara FC U-21. Kalau tidak kebagian, ya mereka yang harus mengalah dengan menyewa lapangan di luar kompleks olahraga Jatidiri.
’’Kalau boleh memilih, mending di sana (Salatiga). Udaranya segar, lokasi jauh dari keramaian, lapangan pun kami tidak harus berbagi dengan tim lain. Bedanya, kalau di sini (Semarang), anak-anak tidak perlu jauh-jauh ke sekolah,’’ tutur Andreas Kristianto, asisten pelatih sepak bola PPLP Jateng.
Diwawancarai secara terpisah, Kabid Keolahragaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jateng Effendi Hari menyatakan tidak ada perbedaan antara Diklat Salatiga, PPLP Salatiga, dan sekarang dilebur dengan PPLP Jateng. Hanya lokasinya yang berganti.
Model pelatihannya tetap sama. Menurut Effendi, peleburan ke PPLP Jateng itu era baru untuk sentralisasi pembinaan 23 cabor di Jateng. ’’Ini pun (peleburan PPLP Salatiga) atas keinginan Pak Gubernur (Ganjar Pranowo),’’ tuturnya.
Itu juga dilakukan untuk persiapan Jateng sebelum menjadi tuan rumah dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017. ’’Tidak cuma di pelatihannya yang sama, begitu juga pembiayaannya. Per tahun per atlet kira-kira mendapat sekitar Rp 45 juta untuk segala keperluan,’’ ungkap Fendy, sapaan akrabnya.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
