Pelatih Bali United, Johnny Jansen. (Istimewa)
JawaPos.com - Pelatih Bali United asal Belanda, Johnny Jansen, menyoroti kondisi nyata yang masih terjadi dalam proses perekrutan pemain asing di sepak bola Indonesia, khususnya tim yang berlaga di kompetisi BRI Super League.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam wawancara yang dikutip dari media Belanda, Leeuwarder Courant, yang menyinggung lemahnya sistem pencarian bakat di banyak klub Tanah Air.
Menurut Jansen, mayoritas klub di Indonesia, termasuk Bali United yang saat ini ia latih, belum memiliki tim scouting khusus yang bekerja secara terstruktur.
Proses rekrutmen pemain asing masih didominasi oleh rekomendasi agen pemain serta penilaian melalui video aksi yang tersedia di platform seperti YouTube.
Model perekrutan seperti ini dinilai memiliki banyak celah. Tanpa observasi langsung di lapangan, klub kesulitan menilai kualitas pemain secara menyeluruh.
Video highlight umumnya hanya menampilkan momen terbaik seorang pemain, tanpa memperlihatkan konsistensi permainan, kemampuan bertahan, pengambilan keputusan, hingga sikap profesional di dalam dan luar lapangan.
Situasi tersebut dianggap menjadi salah satu alasan mengapa cukup banyak pemain asing di BRI Super League yang gagal memenuhi ekspektasi.
Tidak sedikit pemain asing yang akhirnya tampil di bawah standar, sulit beradaptasi dengan gaya bermain tim, atau tidak cocok dengan kebutuhan pelatih.
Akibatnya, klub harus melakukan pergantian pemain asing di tengah musim atau dicoret saat kompetisi masih berlangsung.
Dalam kompetisi yang semakin kompetitif, keberadaan pemain asing seharusnya menjadi elemen penting untuk meningkatkan kualitas permainan tim.
Namun, tanpa proses scouting yang matang, perekrutan justru berubah menjadi langkah spekulatif yang berisiko tinggi.
Jansen membandingkan kondisi tersebut dengan sistem di Eropa, di mana scouting menjadi bagian penting dari manajemen klub.
Pemantauan pemain dilakukan secara langsung dan berkelanjutan, tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga karakter, mentalitas, riwayat cedera, serta kemampuan beradaptasi dengan filosofi permainan tim.
Fenomena pemain asing yang dinilai “zonk” sendiri bukan hal baru di sepak bola Indonesia.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
