
Ketua Panser Biru, Wareng, ketika di tribune. (Instagram)
JawaPos.com - Kekalahan telak PSIS Semarang dari Persiku Kudus pada laga perdana Pengadaian Championship benar-benar menyulut reaksi keras dari Ketua Umum Panser Biru Kepareng atau biasa dipanggil Wareng.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Jatidiri, Minggu (14/9/2025) pukul 19.00 WIB, berakhir dengan hasil yang memalukan bagi Laskar Mahesa Jenar setelah dikalahkan dengan skor telak 4-0 di rumah mereka sendiri.
Menariknya, kritik kali ini bukan ditujukan pada performa pemain di lapangan, melainkan pada kebijakan manajemen PSIS. Ketua umum Panser Biru Wareng, meluapkan kekecewaannya lewat akun Instagram pribadinya @kepareng_wareng.
Dalam unggahannya, Wareng menyoroti inkonsistensi manajemen dalam mengatur kebijakan tiket dan cara perlakuan kepada kelompok suporternya sendiri.
“Yang boikot dimusuhi, yang menjebol (masuk stadion tanpa tiket) malah dilindungi. Kita (Panser Biru) boikot biar PSIS berbenah. Mereka yang jebol itu apa tidak merugikan PSIS? Mbok yok aturen,” tulis Wareng.
Tak berhenti di situ, Wareng juga mengkritisi mekanisme pembelian tiket yang dinilai memberatkan suporter. “Orang beli tiket dibuat susah harus bawa KTP, ditanya polisi, padahal manajemen masih bagi-bagi tiket komplimen. Suporter dilarang, penonton dibikin susah, malah muntir dikasih tiket gratis, kwak” sindirnya.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar dari anggota Panser Biru lainnya. Banyak yang setuju dengan kritik yang disampaikan Wareng. Salah satunya akun @d00wskiii yang menuliskan, “Tuku tiket kon duduhke KK (kartu keluarga) nembe ki jan pekoke manajemen. Ngopo rak kon nguduhke surat tanah sing iso digadaike?”
Kritik ini menambah panjang konflik antara manajemen PSIS dengan Panser Biru yang sudah berlangsung sejak musim lalu. Saat itu, Laskar Mahesa Jenar masih berlaga di Liga 1, Panser Biru memutuskan untuk melakukan boikot. Bahkan, surat tuntutan yang dikirimkan beberapa kali ke jajaran manajemen hingga kini belum juga mendapat jawaban.
Sebagai bentuk protes, Panser Biru tidak hanya berhenti pada boikot stadion. Musim lalu mereka sempat mendatangi rumah CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, untuk melakukan aksi tabur bunga dan melantunkan doa Surat Yasin. Aksi simbolik itu mereka buat sebagai ucapan kritik terhadap kebijakan klub yang dinilai tidak profesional dalam mengelola tim.
Kini, dengan PSIS terpuruk di kompetisi Pengadaian Championship dan harus menelan kekalahan memalukan di laga perdananya, suara-suara kritis dari Panser Biru semakin lantang. Bagi mereka, masalah terbesar bukan hanya performa tim di lapangan, tetapi juga bagaimana manajemen mengelola klub dan menjaga hubungan dengan kelompok pendukungnya sendiri.
Ke depan, bola panas kini berada di tangan manajemen PSIS Semarang. Apakah mereka akan kembali membuka ruang dialog dan merangkul kembali Panser Biru, atau justru membiarkan konflik ini terus berlarut-larut? Suporter sendiri tampaknya akan mengeluarkan kritik yang semakin keras melihat prestasi tim PSIS yang kian merosot.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
