Persebaya Surabaya minta maaf secara terbuka setelah oknum Bonek terungkap melakukan nyanyian rasis kepada tim lawan. (Persebaya)
JawaPos.com-Persebaya menegaskan anti terhadap tindakan rasisme. Sebab, hal itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, apalagi di era sepak bola modern saat ini.
Maka dari itu, begitu muncul tindakan rasisme yang dilakukan oknum Bonek terhadap tim lawan, Persebaya langsung meminta maaf. Kasus rasisme terungkap saat pihak Persebaya mengumumkan permintaan maaf secara terbuka di media sosial resmi klub, dimana tindakan tidak terpuji tersebut terjadi saat laga Launching Game menghadapi PSS Sleman akhir pekan lalu (19/7).
"Persebaya Surabaya dengan ini meminta maaf secara luas kepada kelompok, kota, atau etnis lain yang pernah menjadi korban nyanyian rasis dan kebencian selama Team Launching Game melawan PSS Sleman pada 19 Juli lalu. Persebaya juga berkomitmen untuk memerangi tingkah laku buruk itu di musim baru ini dan musim-musim berikutnya," tulis Persebaya dalam pernyataan resminya.
Bagi Persebaya, tidak ada ruang bagi tindakan rasisme, baik di arena sepak bola, maupun di tengah hubungan antara masyarakat khususnya di Surabaya. Hal itu karena ada banyak suku yang tinggal di Kota Pahlawan.
"Surabaya tumbuh bersama masyarakatnya yang heterogen. Hampir semua suku dan etnis hidup berdampingan dalam harmoni, bersama selamanya. Surabaya sudah menjadi rumah besar bagi orang Jawa, Madura, Melayu, Sunda, Bugis, Ambon, Papua, Arab, Tionghoa, maupun etnis lainnya," ungkap Persebaya masih dari unggahan yang sama.
Meski begitu, hingga artikel ini ditulis, pihak Persebaya belum merilis pernyataan terkait hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada para oknum Bonek yang melakukan rasisme tersebut.
Berkaca dari kejadian beberapa tahun lalu, Persebaya pernah menjadi sasaran rasisme yang menimpa bek Green Force kala itu, Yohanes Kandaimu.
Pada 20 Oktober 2023, saat laga Bali United kontra Persebaya, center back Green Force, Yohanes Kandaimu mendapat perlakuan rasis oknum pendukung Bali United.
Dia sangat menyayangkan tindakan keji yang menimpa dirinya itu, karena Indonesia yang heterogen menjadi rumah ideal dan nyaman bagi berbagai etnis.
"Kami fokus bermain tadi tapi ada satu hal yang ngomong warna kulit. Kami ini cinta Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke kami bersaudara," ujar Kandaimu seperti dikutip dari Radar Surabaya.
Oknum penonton rasis yang menempati salah satu kursi di tribun penonton VVIP itu sempat diglendang keluar Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Kasus ini membuktikan bahwa sejumlah oknum suporter di Indonesia masih belum paham betapa buruknya tindakan rasisme. Kampanye memerangi dan menentang rasisme harus terus disuarakan oleh klub agar penonton mereka juga sadar bahwa rasisme sangat bertentangan dengan kemanusiaan.
"Karena kami yakin, Football for Humanity, Persebaya untuk Semua, sebagai tema Anniversary Persebaya ke-98, bukan hanya slogan semata, tapi semangat dan nilai yang harus kami jalankan," tutup unggahan tersebut.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
