Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 April 2025 | 03.24 WIB

PSIS Semarang Pecat Gilbert Agius, Keluar dari Laskar Mahesa Jenar dengan Tunggakan Gaji?

Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius. (dok. PSIS Semarang) - Image

Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius. (dok. PSIS Semarang)

JawaPos.com–PSIS Semarang mengambil langkah mengejutkan dengan memutus kontrak pelatih kepala Gilbert Agius, di saat musim Liga 1 2024/2025 memasuki fase penentuan. Keputusan ini diambil menyusul performa buruk tim yang kini berada di ambang degradasi.

Melalui situs resmi, manajemen PSIS mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan pelatih asal Malta tersebut setelah lebih dari dua tahun menjabat.

"PSIS Semarang dan Gilbert resmi mengakhiri kontrak kerja sama yang telah dibangun selama dua tahun tiga bulan. Manajemen mengambil keputusan untuk mengakhiri kontrak Gilbert Agius dikarenakan hasil selama Liga 1 2024/25," tulis pihak PSIS, Selasa (29/4).

Gilbert mulai menangani PSIS pada 15 Februari 2023. Di musim pertamanya, dia berhasil membawa Mahesa Jenar finis di posisi keenam klasemen akhir. Namun, pada musim ini, performa tim menurun drastis.

Dari 30 pertandingan, PSIS hanya mencatatkan enam kemenangan dan saat ini menempati peringkat ke-17 dengan 25 poin, empat angka di bawah zona aman.

Untuk mengisi kekosongan, PSIS menunjuk mantan pemainnya, Muhammad Ridwan, sebagai pelatih sementara hingga akhir musim.

"Hari ini kami mengambil keputusan untuk memberhentikan coach Gilbert karena hasil yang tidak sesuai harapan. Dan kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi coach Gilbert selama ini. Di sisa musim ini, coach Ridwan akan menjadi caretaker PSIS," kata Direktur Utama PT Mahesa Jenar Semarang, Agung Buwono.

Empat laga tersisa melawan Bali United, PSS Sleman, Malut United, dan Barito Putera akan menjadi ujian berat bagi PSIS untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Di balik keputusan pemecatan Gilbert Agius, muncul isu baru yang mengarah pada persoalan internal klub. Indikasi keterlambatan gaji diembuskan Roger Bonet alias Ruxi, mantan bek PSIS Semarang, melalui unggahan kritisnya di media sosial.

Dalam pernyataannya, Ruxi menuding bahwa hak pelatih tidak dihormati klub selama berbulan-bulan, bahkan sebelum pemecatan dilakukan.

"After many months of his rights not being respected, they now put the responsibility onto him by sacking him. Shame. More respect for players and coaches. Please @appi.official @pt_lib. (Setelah berbulan-bulan haknya tidak dihormati, sekarang mereka malah melemparkan tanggung jawab kepadanya dengan memecatnya. Memalukan. Lebih hormati pemain dan pelatih. Tolong @appi.official @pt_lib)," ujar dia.

Unggahan tersebut langsung memantik spekulasi bahwa pemecatan Agius bukan semata karena performa buruk, melainkan bisa jadi karena konflik internal yang lebih kompleks, seperti tunggakan hak finansial.

Pernyataan Ruxi membuka ruang diskusi tentang tata kelola klub. Jika benar ada tunggakan gaji atau hak yang belum dipenuhi, masalah yang dihadapi PSIS bukan sekadar di lapangan, melainkan juga terkait manajemen internal.

Pemecatan Gilbert Agius pun kini tak hanya dilihat sebagai keputusan teknis, tapi juga sebagai cerminan dari ketidakberesan pengelolaan klub. Kini, PSIS harus berjuang tidak hanya demi bertahan di Liga 1, tetapi juga memulihkan citra dan kepercayaan dari para pemain, pelatih, dan pendukung, yang menginginkan klub dikelola secara profesional dan transparan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore