Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Januari 2025 | 19.02 WIB

Perjuangan Hidup Harmadi: Dari Stopper Tangguh Persebaya Surabaya Era 1980-an hingga Sukses Buka Warung Kopi

Harmadi (kiri) sosok stopper andalan Persebaya Surabaya di era 1980-an. (YouTube Omah Balbalan)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya pernah memiliki sosok stopper tangguh yang menjadi andalan di era Perserikatan pada awal 1980-an. Dialah Harmadi, anak Desa Sepande, Sidoarjo, yang dikenal dengan permainan lugasnya di lini pertahanan.

Karier sepak bolanya dimulai saat direkrut oleh Assyabaab, tim amatir yang berlaga di kompetisi internal Persebaya Surabaya pada 1982. Harmadi mulai mencuri perhatian dengan kemampuannya menjaga pertahanan tim dan menunjukkan potensi sebagai stopper masa depan.

Pada 1984, namanya semakin melambung setelah menjadi bagian dari Persebaya Surabaya yang berpartisipasi dalam Piala Jusuf, turnamen bergengsi di Makassar. Penampilannya yang konsisten membuatnya menjadi pemain yang tak tergantikan di lini belakang Green Force.

Bersama Nuryono Haryadi, Harmadi menjadi tembok kokoh Persebaya Surabaya pada musim 1986/1987. Saat itu, Persebaya Surabaya berhasil melaju hingga final Perserikatan, namun harus menyerah 0-1 dari PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Karno.

Meski gagal meraih trofi juara, Harmadi tetap menjadi pemain yang sangat diandalkan Persebaya Surabaya. Sayangnya, kebersamaan Harmadi dengan tim kebanggaan warga Surabaya itu harus berakhir lebih cepat.

Pada musim berikutnya, Harmadi terpaksa meninggalkan Persebaya Surabaya setelah pemilik Assyabaab, M. Barmen, memutuskan untuk melepasnya ke klub Galatama asal Gresik, Petrokimia Putera. Keputusan itu menjadi pukulan berat bagi Harmadi yang sangat mencintai Green Force.

Harmadi sempat menunjukkan kekecewaannya dengan meninggalkan mes tim dan pulang ke kampung halamannya di Desa Sepande. Namun, akhirnya ia menerima keputusan tersebut setelah pengurus Assyabaab datang menjemputnya langsung ke rumah.

"Tapi, saya akhirnya terpaksa mengikuti keputusan itu setelah pengurus Assyabaab datang menjemput saya di rumah," kenang Harmadi di kanal YouTube Omah Balbalan.

Di Petrokimia Putera, Harmadi berada di bawah asuhan pelatih kawakan Bartje Matulapelwa. Sayangnya, penampilannya tidak seoptimal yang diharapkan karena merasa tidak nyaman di klub tersebut.

Harmadi akhirnya memutuskan mundur dari Petrokimia tanpa mendapatkan surat keluar resmi, yang membuat statusnya menjadi terkatung-katung. Pergantian pelatih ke Ronny Pattinasarani pun tidak menggoyahkan keputusannya untuk meninggalkan klub.

"Surat keluar akhirnya saya dapatkan setelah Suryanaga menyodorkan Maura Hally sebagai pengganti saya," kata Harmadi.

Setelah setahun vakum dari dunia sepak bola, Harmadi kembali ke lapangan hijau atas ajakan tim amatir Sidoarjo, Blitar Jaya. Dalam sebuah laga uji coba melawan Suryanaga, pelatih Zulkifli melihat potensinya dan menawarinya bergabung dengan klub internal Persebaya Surabaya itu.

Bergabungnya Harmadi dengan Suryanaga membawa berkah karena klub tersebut berhasil mengurus surat keluar dari Petrokimia. Surat tersebut diterbitkan setelah Suryanaga menyodorkan Maura Hally sebagai pengganti Harmadi.

Kembalinya Harmadi ke Suryanaga membuka jalan untuk kembali membela Persebaya Surabaya pada musim 1989/1990. Di musim itu, Persebaya Surabaya kembali melaju ke final Perserikatan, namun takluk dari Persib Bandung dengan skor 0-2 di Stadion Gelora Bung Karno.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore