Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Januari 2025 | 18.04 WIB

Ricky Nelson Ungkap Alasan Mengapa Pemain Muda Indonesia Tak Berkembang

Ricky Nelson dan pemain Persija Dony dan Hannan. (Instagram Ricky Nelson)

 

JawaPos.com - Indonesia merupakan negara dengan penggemar olahraga terbesar dan banyak pada bidang sepak bola. Sepak bola Indonesia kerap menghadirkan nama-nama baru di kancah nasional mulai dari tim kelompok umur maupun senior.

Timnas Indonesia kelompok U-15 hingga U-19 kerap memunculkan bibit-bibit bertalenta emas, sebut saja Evan Dimas, Bagus Kahfi, Maldini Pali, dan pemain yang pernah membawa Garuda Muda berjaya.

Evan Dimas dan Maldini Pali pernah membawa Indonesia U-19 meraih juara pada 2013. Begitupun dengan Bagus Kahfi pernah membawa Indonesia juara AFF U-16 pada 2017 bersama dengan sang pelatih Fakhri Hussaini.

Timnas Indonesia kelompok umur seperti di atas, sempat menjadi secercah harapan bagi masa depan sepak bola Indonesia. Performa dan penampilan mereka dinilai layak untuk bersaing melawan negara kuat. Bahkan, di antara pemain yang membawa Indonesia juara itu diberikan julukan bagaikan seorang pemain bintang dunia di usia yang masih belia.

Namun, pada beberapa musim setelahnya atau ketika berada di tim profesional yang lebih senior, beberapa di antara pemain yang pernah berjaya di kelompok umur seolah kehilangan kemampuan mereka atau mengalami penurunan dari segi permainan maupun fisik.

Dikutip dari Bincang Bola Akmal, Rabu (15/1), Ricky Nelson seorang pelatih berpengalaman di sepak bola Indonesia membeberkan alasan mengapa tim kelompok umur mendominasi prestasi, sedangkan ketika naik ke tingkat yang lebih tinggi seakan meredup.

"Di usia muda memang pelatih fokus pada fisik, kuat berlari, individual. Kita menang, dan jujur saja banyak individualnya, sedangkan tim luar negeri masuk pada fase pengetahuan bagaimana cara bermain," ucap asisten pelatih Persija itu.

Ricky Nelson memberikan bocoran jika di Indonesia lebih berfokus pada kekuatan fisik ketika melatih anak usia muda. Berbeda dengan sepak bola di luar negeri di masa sebelum usia 16 tahun lebih pada fase pengetahuan cara bermain yang benar.

Ricky Nelson selain menjadi pelatih, ia juga menjadi direktur pengembangan Persija muda. Ia bertanggung jawab pada pembinaan pemain muda di Persija Elite Pro Academy.

Persija sendiri telah menghasilkan bibit muda untuk Persija dan penyumbang pemain muda ke Timnas Indonesia, seperti Cahya Supriadi, Dony Tri, Rayhan Hannan dan masih banyak lagi.

Ricky Nelson mengungkapkan bahwa Luis Milla mengatakan permasalahan pesepak bola Indonesia pada taktikal individu. Bukan pada skill dan teknik, bagaimana pengetahuan pemain terakait pengambilan keputusan.

"Masalah pemain Indonesia adalah taktikal individual, dia tidak tahu waktu passing, kontrol, kapan lari dengan bola dan berlari tanpa bola," ucapnya.

Perihal pengetahuan pengambilan keputusan timing masih menjadi kendala pesepak bola Indonesia. Hal ini menyebabkan tak maksimalnya pola permainan.

Ricky Nelson menambahkan bahwa sejak bermain di Sekolah Sepak Bola, rata-rata pesepak bola lebih diajarkan bermain dengan kekuatannya saja. Hanya diajarkan setidaknya 30% permainan yang benar. Itu yang membuat pesepak bola terlambat memahami cara bermain yang benar sesuai taktik sejak dini.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore