
USIA DINI: Pemain SSB kelompok umur 8 tahun bertanding di Festival Gapura Parung Panjang, Kabupaten Bogor, pada Minggu (15/12). (Ilham Safutra/JawaPos.com)
JawaPos.com - Persepakbolaan Indonesia menunjukkan perkembangan beberapa tahun terakhir. Negara ini tidak pernah kehabisan calon-calon bintang baru untuk dipersiapkan di tim nasional. Hanya saja, membangun sepak bola tidaklah instan. Butuh waktu dan proses yang panjang. Semua itu bermula dari akar rumput (grassroots).
Bagian dari sepak bola akar rumput itu adalah sekolah sepak bola (SSB). Kehadiran SSB merupakan bentuk rancanga besar (grand design) pembinaan dan pembibitan sepak bola usia dini. Ada ribuan jumlah SSB di Tanah Air. Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar) pun tidak sedikit. Satu di antaranya, Gapura Soccer School Indonesia (GSSI) atau disebut juga dengan SSB Gapura.
Pada Minggu (15/12), GSSI menggelar Festival Gapura 1 Dekade Championship 2024 di lapangan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Sebuah festival sepak bola usia dini untuk empat kelompok umur (KU). Mulai dari KU 6, KU 8, KU 10, dan KU 12. Festival itu diikuti oleh 15 SSB yang tersebar di Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Dengan empat KU dan 15 SSB maka terdapat 39 tim yang berlaga.
CEO GSSI Mustakim menuturkan, membentuk persepakbolaan nasional yang berkualitas menjadi beban dan tugas dari PSSI sebagai federasi. Selama ini muara dari desain sepak bola nasional itu hadirnya tim nasional berkualitas, pemain-pemain profesional yang bermain di Liga 1 atau liga-liga luar negeri.
"Semua itu tidaklah instans. Butuh proses. Pemain profesional itu lahir dengan proses pendidikan dan pembinaan di usia muda," ujar Mustakim yang ditemui JawaPos.com di Parung Panjang, Bogor, Minggu (15/12).
Menurut Mustakim, SSB adalah bagian kecil dari persepakbolaan nasional. Ada ribuan atau puluhan ribu SSB di Indonesia. Dari semua SSB itu, anak-anak usia dini mulai dibina dan didik mengenali sepak bola. Esensi dasar dari SSB itu mengajarkan anak-anak untuk disiplin, membangun karakter diri, dan bersepak bola secara riang gembira. "Sepak bola di usia dini itu adalah riang gembira. Bukan menjadi sang juara. Juara itu nanti di umur 15 tahun ke atas," tegasnya.
Dia berharap anak-anak yang sudah tergabung di SSB, bisa konsisten berlatih. Kelak 10 tahun mendatang siswa SSB itu akan menjadi pemain profesional yang berkiprah di klub-klub nasional. "Syarat menjadi pemain profesional itu harus sabar dan tidak instan. Butuh konsistensi dan disiplin," katanya.
Tidak Semua Klub Profesional di Liga 1 Punya Akademi
Mustakim yang merupakan founder GSSI mengaku bangga dengan 10 tahun pencapaian SSB yang dibinanya. Sebab, selama 10 tahun klub yang memiliki jenjang pendidikan KU dari 6 hingga 15 tahun itu sudah bisa berkontribusi untuk pemain-pemain yang berkompetisi secara profesional. Salah satunya Mario Jardel, pemain Persita Tangerang. Lalu ada beberapa pemain yang dididik di SSB Gapura kini yang sudah berusia di atas 17 tahun sudah bermain di beberapa klub Liga 2 dan 3.
Menurut mantan pengurus Askab PSSI Bogor itu, tanggung jawab melahirkan pesepak bola bagus ada di klub profesional, SSB, dan pembinaan dari pemerintah. Nah, untuk klub yang berlaga di Liga 1, Liga 2, maupun Liga 3, tidak semuanya memiliki akademi. Tidak sedikit klub-klub yang mengklaim profesional itu tidak mempersiapkan bibit calon pesepak bola yang baik dari usia dini. "Mereka yang tidak punya akademi malah mencari pemain hampir jadi atau yang sudah jadi di klub akar rumput atau SSB," bebernya.
Alasan klub mencari pemain dari klub akar rumput atau SSB, kata Mustakim, klub itu mau instan. Tidak mau berproses. Hanya beberapa klub-klub besar liga 1 yang memiliki akademi.
Baca Juga: Efek Positif dengan Adanya Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia, Pemain SSB Jadi Termotivasi
Gapura FC di Liga 3
Selain membina anak-anak untuk SSB hingga usai 15 tahun, GSSI juga memiliki tingkatan klub yang berlaga di Liga 3, yaitu Gapura FC. Selama ini Gapura FC selalu berpartisipasi untuk Liga 3 tingkat provinsi. Untuk bisa lolos nasional hingga promosi ke Liga 2 butuh biaya yang tidak sedikit. "Kami memiliki sumber daya yang terbatas. Maka, Gapura FC itu hanya tampil sampai Liga 3," beber Mustakim.
Meski demikian, pemain Gapura FC berpeluang untuk berkiprah di klub-klub liga 2 atau liga 1. Sebab, mereka "dipasarkan" oleh manajemen Gapura FC ke klub-klub profesional yang membutuhkan bibit-bibit muda dari desa-desa.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
