Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 November 2024 | 19.03 WIB

Perjalanan Panjang Rizky Ridho, dari Persebaya Sampai ke Titik Kebintangan Sekarang Menuju Klub Luar Negeri

Rizky Ridho berpotensi gantikan Mees Hilgers. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Rizky Ridho berpotensi gantikan Mees Hilgers. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Bakat besar Rizky Ridho bersanding dengan jiwa kepemimpinan membuatnya selalu dipercaya menjadi kapten sejak di SSB. Sangat pantas bermain di luar negeri, tapi sahabat dan eks pelatih mengingatkan agar memilih klub yang bisa memberi dia menit bermain.

BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Surabaya

---

EMPAT tahun lalu, Rizky Ridho masih mengetuk banyak pintu di Surabaya untuk mengantarkan ayam potong. Dalam sehari pernah sampai 25 ekor yang dia antar ke berbagai alamat di ibu kota Jawa Timur itu.

”Lumayan capek sih, tapi nggak masalah,” kata Ridho kepada Jawa Pos pada 17 Mei 2020.

Pandemi Covid-19 menghantam dan kompetisi harus dihentikan ketika itu. Untuk mengisi kekosongan, pemain berposisi bek tengah tersebut membantu usaha ayam potong kakak sepupunya, Abdul Yusuf Faisal.

Tugasnya mempromosikan ayam potong di akun Instagram-nya yang kala itu masih memiliki sekitar 36 ribu follower. ”Kalau ada orderan, Ridho sendiri yang mengirim ke pelanggan,” tutur Suyoto, ayah bek Persija Jakarta tersebut, saat dihubungi Jawa Pos kemarin (20/11).

Kini, empat tahun berselang, Ridho berada di titik yang mungkin diimpikan banyak koleganya: kapten di salah satu klub terbesar di tanah air dan pilihan reguler di tim nasional (timnas). Kemenangan 2-0 skuad Garuda atas Arab Saudi dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Selasa (19/11) malam adalah testimoni terbaru kematangannya sebagai bek.

Titik tinggi yang diraih lewat perjalanan panjang penuh kegigihan dan komitmen. Dan, di usia yang baru 23 tahun tepat di hari ini, masih bisa lebih tinggi pula yang bisa diraih jebolan El Faza, klub internal Persebaya Surabaya, tersebut.

Jiwa Kepemimpinan Ridho natural born leader. Suyoto mengenang bagaimana sang anak selalu dipercaya menjadi kapten sejak masih di sekolah sepak bola (SSB).

Anak kedua dari tiga bersaudara itu mulai meniti jalan sepak bola di SSB Simo Putra, Surabaya, ketika usianya masih 9 tahun. Tiga tahun berselang, dia bergabung dengan El Faza.

Di klub tersebut, baik di tim U-15, U-17, maupun U-20, ban kapten tak pernah lepas dari lengannya. Sebagai sesama bek, Mat Halil, mantan penggawa Persebaya sekaligus pemilik El Faza, menyebut Ridho sudah menunjukkan bakat besar di lini pertahanan sedari belia.

”Reading the game-nya sangat bagus. Cara intersep, delay bola, dan membagi bola juga sangat bagus. Bola atas pun selalu unggul,” katanya.

Kemampuan itu, lanjut Halil, didukung dengan banyak faktor eksternal. Kepemimpinan salah satunya. ”Biasanya, ada pemain yang secara performa bagus, tapi attitude-nya kurang. Ridho ini berbeda, sangat sopan, sangat disiplin, dan tidak pernah telat latihan,” bebernya.

Dari El Faza, Ridho sempat membela Persikoba Batu di Piala Soeratin 2018. Dia harus pergi pulang dari Surabaya–Batu naik bus umum. Dengan uang saku hanya Rp 100 ribu per pekan, dia harus menomboki biaya perjalanan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore