
Menjelajahi sejarah pemain legendaris Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia di Pra Olimpiade 1976 Waskito. (Dok. PSSI)
JawaPos.com — Waskito, nama yang mungkin terdengar asing bagi sebagian pecinta sepak bola modern, namun tak bisa dipungkiri bahwa dia adalah salah satu pilar penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Waskito dikenal sebagai second striker andalan Timnas Indonesia pada era 60-an hingga akhir 70-an.
Lahir pada 29 Februari 1948, Waskito memulai karier sepak bolanya dari Diklat Salatiga, salah satu akademi sepak bola yang terkenal di Indonesia pada masanya. Bakat alaminya membawa Waskito menembus tim utama Persebaya Surabaya, salah satu klub legendaris Indonesia, dan menjadikannya sosok yang sangat diandalkan di lini serang.
Bersama Persebaya Surabaya, Waskito menjadi bagian dari generasi emas yang turut mengangkat nama klub tersebut di kancah sepak bola nasional. Kehebatannya di lapangan membuatnya dipanggil untuk membela Timnas Indonesia dalam berbagai ajang internasional, salah satunya adalah Pra Olimpiade 1976.
Era 70-an menjadi salah satu periode paling bersejarah bagi Timnas Indonesia. Saat itu, Indonesia berjuang keras untuk bisa tampil di Olimpiade Montreal 1976 melalui jalur kualifikasi. Waskito, yang kala itu masih di usia puncaknya, menjadi bagian penting dari skuad Garuda yang dipimpin oleh pelatih asal Belanda, Wiel Coerver.
Bersama rekan-rekannya seperti Risdianto, Ronny Pasla, dan Iswadi Idris, Waskito membantu Timnas Indonesia melangkah hingga babak final Pra Olimpiade. Mereka menghadapi Korea Utara dalam laga dramatis di Stadion Utama Senayan, disaksikan oleh lebih dari 120.000 penonton.
Sayangnya, mimpi Indonesia untuk tampil di Olimpiade harus pupus setelah kalah adu penalti dengan skor 2-4 dari Korea Utara. Meski begitu, perjuangan Waskito dan timnya pada saat itu meninggalkan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh rakyat Indonesia.
Salah satu momen paling berkesan dari karier Waskito di Timnas Indonesia adalah duetnya dengan Risdianto, yang menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawannya.
Kolaborasi keduanya di lini depan kerap menghasilkan gol-gol penting bagi Timnas Indonesia, salah satunya ketika mereka berhasil menaklukkan Malaysia di babak penentuan grup Pra Olimpiade.
Sebagai seorang pemain, Waskito dikenal sebagai sosok yang cerdas di lapangan. Kecepatan, kemampuan dribbling, serta ketajamannya di depan gawang membuatnya menjadi ancaman nyata bagi pertahanan lawan.
Meski tidak selalu tampil mencetak gol, perannya sebagai second striker sangat vital dalam menyuplai bola dan membuka ruang bagi Risdianto maupun rekan-rekannya yang lain.
Namun, kesuksesan Waskito di Timnas Indonesia bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Perjalanannya menuju puncak karier dipenuhi dengan perjuangan keras, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Sebagai pemain yang memulai karier dari bawah, Waskito selalu menunjukkan dedikasi tinggi dan semangat pantang menyerah dalam setiap pertandingan yang dia lakoni.
Setelah karier cemerlangnya di Timnas Indonesia, Waskito kembali ke Persebaya Surabaya dan menjadi salah satu sosok yang dihormati di klub tersebut. Dia tidak hanya dikenal sebagai pemain berbakat, tetapi juga sebagai panutan bagi pemain muda yang ingin mengikuti jejaknya.
Sayangnya, setelah masa kejayaannya, nama Waskito perlahan mulai tenggelam di tengah perubahan zaman. Sepak bola Indonesia terus berkembang, namun kenangan akan Waskito tetap abadi di hati para suporter setia Persebaya Surabaya dan pencinta sepak bola Tanah Air yang menyaksikan perjuangannya di lapangan.
Waskito mungkin bukanlah sosok yang terlalu sering disebut-sebut dalam perbincangan sepak bola modern. Namun, jejaknya sebagai salah satu legenda besar sepak bola Indonesia tak bisa dihapus begitu saja. Dedikasi, loyalitas, dan kecintaannya pada sepak bola adalah warisan yang akan terus dikenang oleh generasi berikutnya.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
