
Pak Midun saat berfoto bersama para suporter PSIM Jogja Brajamusti dan The Maident di Wisma PSIM Jogja. (Radar Jogja)
JawaPos.com — Dua tahun yang lalu, tepat pada 1 Oktober 2022, sepak bola Indonesia dikejutkan dengan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Insiden ini menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah sepak bola Tanah Air, merenggut 135 nyawa dan melukai ratusan lainnya.
Tragedi itu terjadi ketika penonton panik karena tembakan gas air mata dari aparat kepolisian setelah laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Penonton berdesak-desakan di pintu 13 stadion, mencoba menyelamatkan diri dari gas air mata yang menyelimuti tribun. Akibatnya, ratusan suporter terhimpit, hingga menyebabkan kematian tragis.
Jumat, 7 Oktober 2022, hasil pemeriksaan tim investigasi kepolisian menyebutkan bahwa tragedi bermula saat panitia pertandingan Arema FC mengirimkan surat ke Polres Malang.
Surat tersebut meminta rekomendasi pelaksanaan laga antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu, 1 Oktober 2022 pukul 20.00 WIB.
Namun, Polres Malang mengajukan perubahan jadwal pertandingan menjadi pukul 15.30 WIB dengan alasan keamanan. PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) menolak permintaan tersebut karena alasan penayangan langsung dan masalah ekonomi. Akhirnya, pertandingan tetap digelar pada malam hari dengan pengamanan ekstra.
Jumlah personel pengamanan ditingkatkan menjadi 2.034 petugas dari semula hanya 1.073. Hasil rapat koordinasi memutuskan bahwa hanya suporter Arema, Aremania, yang diperbolehkan hadir di stadion. Pertandingan berakhir dengan kekalahan Arema dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3, memicu ketidakpuasan dari sebagian suporter.
Beberapa penonton memasuki lapangan, memprotes kekalahan tim kesayangan mereka. Situasi semakin memanas, sehingga Persebaya Surabaya harus dievakuasi menggunakan kendaraan taktis. Di saat yang sama, jumlah penonton yang memasuki lapangan terus bertambah, membuat aparat kepolisian bertindak menggunakan kekuatan.
Sebanyak 11 anggota polisi melepaskan tembakan gas air mata, dengan rincian tujuh tembakan ke tribun selatan, satu ke tribun utara, dan tiga ke lapangan. Gas air mata yang diarahkan ke tribun penonton menimbulkan kepanikan, membuat penonton berlarian menuju pintu keluar. Sayangnya, beberapa pintu, termasuk pintu 13, masih tertutup dan terhalang besi tegak, mempersulit penonton untuk keluar.
Ribuan suporter berdesakan di pintu-pintu stadion, menyebabkan banyak yang terhimpit hingga kehilangan nyawa. Total 135 orang meninggal dunia, dan tragedi Kanjuruhan menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan bagi dunia sepak bola Indonesia.
Kepolisian menetapkan enam tersangka dalam kasus ini, termasuk Direktur Utama PT LIB (AHL), Ketua Panpel (AH), dan Security Officer (SS). Mereka dianggap lalai dalam tugasnya, termasuk tidak melakukan verifikasi keamanan stadion dan membiarkan penonton melebihi kapasitas stadion yang hanya mampu menampung 38.000 orang.
Selain itu, tiga dari enam tersangka merupakan anggota kepolisian yang diduga memerintahkan penembakan gas air mata ke arah tribun. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar operasional keamanan dalam pertandingan sepak bola di Indonesia.
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menemukan sejumlah kejanggalan dalam proses penyelidikan dan peradilan tragedi ini. Mulai dari pernyataan bahwa penggunaan gas air mata sudah sesuai SOP hingga dugaan adanya upaya menghalangi penegakan hukum, termasuk penggantian rekaman CCTV oleh kepolisian.
Pak Midun, seorang yang peduli dengan Tragedi Kanjuruhan, menjadi salah satu tokoh yang terus mengawal kasus ini hingga ke Jakarta. Dia menyuarakan keadilan bagi para korban Tragedi Kanjuruhan, dengan dukungan penuh dari berbagai kalangan, termasuk suporter Persebaya Surabaya, Bonek.
Dalam sebuah perjalanan emosional dari Malang menuju Jakarta, Pak Midun merasakan solidaritas yang luar biasa dari para suporter sepak bola di berbagai daerah. Terutama saat melintasi Surabaya, dukungan dari Bonek membuatnya terharu dan merasa tidak sendirian dalam perjuangan panjang ini.
"Saya merasa hidup di dimensi yang lain. Saat melewati Surabaya, rivalitas seakan tidak ada. Mereka menyambut saya dengan luar biasa, menyediakan minuman, bahkan menemani perjalanan. Saya tidak pernah membayangkan akan mendapat dukungan sebesar ini," ungkap Pak Midun, dikutip dari Instagram @panditfootball.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
