Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Agustus 2024 | 23.04 WIB

Panpel Persebaya Surabaya Antisipasi Flare hingga Larangan Membawa Makanan dan Minuman dari Luar Stadion

Persebaya Surabaya tengah bersiap menghadapi Team Launching Game menghadapi Persik Kediri. (Instagram/@officialpersebaya) - Image

Persebaya Surabaya tengah bersiap menghadapi Team Launching Game menghadapi Persik Kediri. (Instagram/@officialpersebaya)

JawaPos.com — Keamanan dan kenyamanan pertandingan sepak bola selalu menjadi prioritas utama bagi panitia pelaksana (panpel) setiap klub. Namun, keputusan panpel Persebaya Surabaya untuk melarang penonton membawa makanan dan minuman dari luar stadion Gelora Bung Tomo pada laga Team Launching Game antara Persebaya Surabaya dan Persik Kediri, yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Agustus 2024 pukul 16:00 WIB, memicu protes dari kalangan suporter setia, Bonek.

Keputusan ini diambil sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi masuknya flare dan barang-barang terlarang lainnya ke dalam stadion.

Ram Surahman, salah satu tokoh panpel Persebaya Surabaya, memberikan penjelasan melalui kanal Youtube Specials ID35. Dalam video tersebut, dia menguraikan langkah-langkah yang akan diambil untuk menjaga ketertiban dan keamanan di dalam stadion.

Menurut Ram, salah satu langkah yang akan diambil adalah memberdayakan para Bonek secara ekonomi melalui pelaku UMKM dan pedagang asongan. "Untuk mengantisipasi flare dan barang-barang yang dilarang untuk masuk. Pertama, kami nanti akan gerakkan atau memberdayakan Bonek secara ekonomi. Jadi, nanti di ring dua itu pelaku UMKM maupun asongan itu (yang rata-rata Bonek) ada namanya area pasar Bonek," jelas Ram.

Larangan membawa makanan dan minuman dari luar stadion bukan hanya sekadar langkah keamanan, tetapi juga sebagai upaya untuk mendukung perekonomian komunitas Bonek. Ram menjelaskan bahwa semua makanan dan minuman harus dibeli di area pasar Bonek yang disediakan di ring dua stadion.

Keputusan ini diambil untuk mengurangi risiko penyelundupan flare yang sering kali disembunyikan dalam kemasan makanan dan minuman. "Kaitannya dengan itu, maka nanti semua makanan dan minuman dilarang masuk dari luar. Dari ring tiga menuju ring dua itu, kita ada laporan screening, karena minuman dan makanan tidak boleh masuk. Selain membudayakan ekonomi Bonek lewat pasar Bonek, ini juga sebagai antisipasi masuknya flare lewat makanan dan minuman yang biasanya dari ring tiga menuju ring dua," tambah Ram.

Namun, keputusan ini tidak sepenuhnya disambut positif oleh Bonek. Di akun Instagram @persebayafans.27, banyak netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebijakan ini. Beberapa dari mereka mengeluhkan kesulitan membawa anak-anak kecil ke stadion tanpa bisa membawa makanan dari rumah. "Anakku lak luwe gak iso bontot," tulis salah satu netizen, mengungkapkan kekhawatiran tentang anaknya yang tidak bisa membawa bekal makanan dari rumah.

Keluhan serupa juga datang dari netizen lain yang merasa larangan ini akan menyulitkan keluarga yang datang bersama anak-anak. "Nek bontot Sego teko omah Jarno Talah…sakno seng gwo kelaurga anak bjo e...msok hampir 2 jam lebih ga mbadok…keluwen cak," ujar netizen lainnya, menyoroti waktu yang cukup lama di dalam stadion tanpa bisa membawa makanan dari luar.

Kebijakan ini memang menjadi dilema bagi panpel dan Bonek. Di satu sisi, larangan ini diharapkan dapat meminimalisir potensi gangguan keamanan yang disebabkan oleh flare, yang sering kali diselundupkan ke dalam stadion melalui berbagai cara.

Namun, di sisi lain, banyak suporter yang merasa dirugikan karena tidak bisa membawa makanan dan minuman sendiri, terutama bagi mereka yang membawa anak-anak kecil.

Kritikan juga muncul terkait penjualan makanan dan minuman di dalam stadion. Beberapa netizen merasa bahwa harga makanan dan minuman yang dijual di dalam stadion cenderung lebih mahal, sehingga kebijakan ini dianggap tidak berpihak kepada suporter. "Sing kulino mbontot yo kobong cak," komentar salah satu netizen dengan nada sarkastis.

Selain itu, ada juga netizen yang meminta panpel untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut, khususnya untuk keluarga yang membawa anak kecil. "Tolonglah di cabut larangan bawa makanan ini, kita nribun bawa anak2 jika dilarang iaok ngereog anakku, tolong pertimbangkan kebijakan ini, harusnya panpel lebih ketat pengecekannya bukan malahelarang bawah makanan. KECEWA," tulis netizen lainnya.

Panpel Persebaya Surabaya tentunya memiliki alasan kuat untuk memberlakukan kebijakan ini. Keamanan adalah prioritas utama, terutama mengingat insiden flare yang pernah terjadi di beberapa pertandingan sebelumnya. Namun, keluhan dan masukan dari para suporter juga patut dipertimbangkan, terutama dalam hal kenyamanan dan kemudahan akses makanan bagi keluarga yang membawa anak-anak kecil.

Diharapkan, panpel Persebaya Surabaya dapat mencari solusi terbaik tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memperhatikan kenyamanan para suporter. Salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan adalah dengan menyediakan area khusus di luar stadion, di mana suporter dapat membawa makanan dari rumah dan menikmatinya sebelum memasuki stadion.

Selain itu, panpel juga bisa memastikan bahwa harga makanan dan minuman yang dijual di dalam stadion tetap terjangkau bagi semua kalangan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore