Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Juni 2024 | 21.28 WIB

Pengeroyokan Wasit oleh Pemain Liga 1 di Turnamen Tarkam, PSSI Lepaskan Tanggung Jawab ke Asprov Jateng

TANGGUNG JAWAB: PSSI melepaskan tanggung jawab kejadian pengeroyokan oleh pemain tim Liga 1 di Liga Tarkam kepada Asprov PSSI Jateng. (Forum Wasit Indonesia) - Image

TANGGUNG JAWAB: PSSI melepaskan tanggung jawab kejadian pengeroyokan oleh pemain tim Liga 1 di Liga Tarkam kepada Asprov PSSI Jateng. (Forum Wasit Indonesia)

JawaPos.com — Insiden mengejutkan terjadi dalam sebuah Turnamen Antarkampung (Tarkam) di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang melibatkan beberapa pemain Liga 1. Pengeroyokan terhadap wasit yang bertugas menimbulkan kericuhan besar dan memicu perhatian publik serta otoritas sepak bola di Indonesia.

Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, memberikan komentar terkait insiden tersebut. Menurutnya, kasus ini sepenuhnya diserahkan kepada Asprov PSSI Jawa Tengah untuk ditangani.

"Itu kan sudah ditangani PSSI Jawa Tengah di bawah kewenangan mereka. Namanya Tarkam kan, semua turnamen di provinsi atau kabupaten lapor ke PSSI setempat, kita serahkan saja ke mereka," ujar Arya Sinulingga saat ditemui usai menghadiri acara Sphere of Momentum Special Collaboration With Timnas Indonesia di Sogo, Plaza Senayan, Jakarta, Senin (3/6/2024).

Menurut informasi yang beredar, beberapa pemain Liga 1 terlibat dalam kerusuhan itu, termasuk Hery Susilo, Bayu Pradana, Wahyu Wijiastanto, dan beberapa pemain lainnya. Linimasa media sosial ramai dengan kericuhan pertandingan turnamen Tarkam yang melibatkan sejumlah pemain aktif dari klub profesional di Liga 1, beberapa di antaranya adalah eks pemain Timnas Indonesia.

Insiden ini terungkap melalui sejumlah video yang diunggah di media sosial, termasuk akun Instagram @Forumwasitindonesia. Dalam video tersebut, terlihat jelas bahwa insiden kericuhan tidak hanya melibatkan perselisihan antarpemain, tetapi juga pengeroyokan terhadap wasit yang bertugas. Peristiwa ini terjadi dalam pertandingan yang mempertemukan PS Putra Bakti melawan PS Ar Rafi pada babak final Turnamen Sepak Bola Bener Bersatu Cup 3, yang memperebutkan Piala Bupati Kabupaten Semarang.

Pertandingan yang berakhir ricuh ini diketahui berlangsung di Lapangan Pule, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Tim Putra Bakti FC Patemon diperkuat oleh sejumlah pemain Liga 1 seperti Bayu Pradana, Bagas Kaffa, Bagus Kahfi, Wahyu Prasetyo, Joko Ribowo, Komarudin, hingga Ilham Mahendra. Selain itu, mantan kapten Timnas Indonesia, Wahyu Wijiastanto, juga membela Putra Bakti FC Patemon di Piala Bupati Semarang.

PSSI pusat, melalui Arya Sinulingga, menegaskan bahwa kasus ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Asprov PSSI Jawa Tengah. Segala rekomendasi dari Asprov PSSI Jateng akan diterapkan, termasuk kemungkinan sanksi kepada para pemain yang terbukti melakukan pengeroyokan terhadap wasit. "Nanti rekomendasi dari Asprov PSSI Jateng. Kan itu di luar Liga 1, Liga 2, Liga 3, di luar kompetisi yang dibangun kami," jelas Arya.

Pengeroyokan wasit adalah pelanggaran serius yang merusak citra sepak bola Indonesia. Insiden ini menggarisbawahi pentingnya disiplin dan etika dalam olahraga, terutama bagi para pemain profesional yang seharusnya menjadi teladan. Keputusan PSSI pusat untuk menyerahkan kasus ini ke Asprov PSSI Jawa Tengah didasarkan pada fakta bahwa kejadian tersebut terjadi di wilayah Jawa Tengah dan dalam turnamen yang bukan merupakan kompetisi resmi yang dikelola oleh PSSI pusat.

Keputusan ini juga menegaskan pentingnya otoritas regional dalam menangani insiden yang terjadi di wilayah mereka. PSSI pusat percaya bahwa Asprov PSSI Jawa Tengah memiliki kapasitas dan wewenang untuk menyelidiki dan mengambil tindakan yang diperlukan terhadap para pelaku insiden tersebut.

Kejadian ini tentunya mengecewakan banyak pihak, terutama para pencinta sepak bola yang berharap melihat turnamen lokal sebagai ajang untuk mengembangkan bakat-bakat muda dan memberikan hiburan yang sehat. Sebaliknya, insiden pengeroyokan ini mencoreng semangat sportivitas dan fair play yang seharusnya dijunjung tinggi dalam setiap pertandingan sepak bola.

Bagi para pemain yang terlibat, insiden ini bisa berakibat serius bagi karier mereka. Sanksi yang dijatuhkan oleh Asprov PSSI Jawa Tengah bisa mencakup larangan bermain dalam jangka waktu tertentu, denda, atau bahkan pemecatan dari klub mereka. Hal ini memberikan pelajaran penting bagi semua pemain untuk selalu menjaga sikap dan perilaku mereka, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Selain itu, insiden ini juga mengingatkan pentingnya peran wasit dalam menjaga jalannya pertandingan. Wasit harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan dan intimidasi agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. PSSI dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola di Indonesia perlu terus memperkuat perlindungan dan pelatihan bagi wasit untuk memastikan mereka dapat bekerja dalam lingkungan yang aman dan adil.

Ke depan, PSSI pusat diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan Asprov di seluruh Indonesia untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Sosialisasi mengenai pentingnya sportivitas dan disiplin dalam sepak bola perlu ditingkatkan, tidak hanya di kalangan pemain, tetapi juga pelatih, ofisial, dan suporter.

Pada akhirnya, sepak bola adalah olahraga yang harus menyatukan, bukan memecah belah. Insiden seperti ini mencoreng nilai-nilai dasar olahraga dan merusak semangat kebersamaan yang seharusnya ditanamkan dalam setiap kompetisi.

Oleh karena itu, seluruh pihak yang terlibat dalam sepak bola Indonesia harus bekerja sama untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore