
Mustaqim. (Dok. Persebaya Surabaya)
JawaPos.com — Mustaqim, sosok yang tak terlupakan dalam sejarah sepak bola Indonesia, khususnya bagi warga Surabaya dan para penggemar Persebaya.
Dikenal sebagai mesin gol yang ditakuti lawan, Mustaqim telah mengukir prestasi gemilang bersama Macan Kemayoran pada era 1980-an.
Bersama dengan rekan setimnya, Syamsul Arifin, Mustaqim membawa performa luar biasa yang menjadi momok bagi lawan-lawannya. Kehadirannya di kotak penalti selalu dianggap sebagai ancaman serius, karena kans kecil pun bisa berubah menjadi gol saat dia beraksi.
Di pentas Perserikatan, Mustaqim memainkan peran kunci dalam sejumlah prestasi gemilang Persebaya Surabaya. Salah satu momen paling fenomenal adalah saat Persebaya meraih gelar juara pada musim 1987/1988.
Namun, tidak hanya itu, Mustaqim juga turut menyumbangkan trofi dari turnamen seperti Piala Tugu Muda, Piala Persija, dan Piala Hamengkubuwono.
Meski telah mencapai kesuksesan bersama Persebaya, gairah kompetisi masih membara dalam diri Mustaqim. Dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karier bersama Petrokimia Gresik pada musim 1989/1990. Namun, keberadaannya di sana tidak bertahan lama, dan Mustaqim memilih untuk kembali ke kampung halamannya.
Kembali ke Surabaya, Mustaqim bergabung dengan Assyabaab pada periode 1990/1991. Di sini, dia menunjukkan ketajamannya sebagai pencetak gol terbanyak Divisi I, mengukir prestasi individu yang membanggakan.
Tidak puas dengan gelar individu, Mustaqim kemudian berpindah ke Mitra Surabaya selama empat tahun hingga 1994. Namun, semangat juangnya belum mereda, dan dia kembali bergabung dengan Assyabaab yang kali ini berkolaborasi dengan Salim Group Surabaya, menjadi Assyabaab Salim Group Surabaya atau ASGS.
Setelah dua tahun bersama ASGS, Mustaqim memutuskan untuk mengakhiri karier bermainnya dan beralih profesi menjadi seorang pelatih. Meski prestasinya sebagai pelatih tidak segemilang saat masih menjadi pemain, Mustaqim tetap memberikan kontribusi yang berarti dalam perkembangan sepak bola Indonesia.
Sebagai seorang pelatih, Mustaqim mengalami berbagai tantangan dan rintangan dalam meniti karier. Namun, tekad dan semangatnya tidak pernah padam, dan dia terus berusaha memberikan yang terbaik bagi tim-tim yang dia latih seperti mengawalinya sebagai asisten pelatih Persebaya Surabaya pada 1997-1999.
Prestasi Mustaqim sebagai pelatih mungkin tidak sebesar ketika dia masih menjadi pemain, tetapi jejaknya tetap dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia. Keberaniannya untuk terus berkarya, baik sebagai pemain maupun pelatih, adalah inspirasi bagi generasi muda untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan berjuang menggapai cita-cita mereka.
Dengan segala pengalaman dan prestasi yang dia raih, Mustaqim tetap menjadi salah satu ikon dan legenda dalam sejarah Persebaya Surabaya. Namanya akan selalu dikenang dan dihormati oleh para penggemar sepak bola, sebagai sosok yang telah mengukir prestasi gemilang dalam sejarah panjang klub kebanggaan warga Surabaya tersebut.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
