
BERPRESTASI: Selain jago di lapangan, Rachmat Irianto juga jago di bidang akademik dengan menyelesaikan pendidikan S1 di UNESA. (www.unesa.ac.id)
JawaPos.com — Keberhasilan seorang atlet tidak hanya terlihat di atas lapangan, tetapi juga di ruang akademis. Hal ini dibuktikan oleh Rachmat Irianto, mantan gelandang Persebaya Surabaya, yang berhasil menorehkan prestasi gemilang di bidang akademik dengan menyelesaikan penelitian dalam bidang Sport Science.
Pada hari yang bersejarah di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rachmat Irianto berhasil mempertahankan skripsinya dalam sidang S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR). Meskipun dihadapkan pada ujian dari empat penguji yang tidak main-main, Rachmat Irianto mampu menjawab dengan percaya diri dan mengesankan.
Dalam penelitiannya, Rachmat Irianto mengangkat topik tentang profil atlet sepak bola dalam proses pencapaian prestasi. Ide ini bermula dari diskusi dengan dosen pembimbingnya dan menjadi fokus utama dalam penyusunan skripsi.
Proses pengerjaan skripsi tidaklah mudah, Rachmat Irianto menghabiskan berbulan-bulan untuk menyelesaikan penelitiannya, di sela-sela kesibukan latihan sepak bola yang memakan waktu dan tenaga.
"Pencapaian prestasi inilah yang saya tulis di skripsi. Ini awalnya saya runding dengan dosen pembimbing dan disepakati judul itu," ucap Rachmat Irianto dikutip dari laman resmi UNESA.
Meskipun menghadapi tantangan yang berat, Rachmat Irianto tidak pernah menyerah. Pemain yang akrab disapa Rian itu mengakui bahwa terkadang dia harus menulis dan menghapus kembali kalimat-kalimat dalam skripsinya karena belum puas dengan hasilnya. Namun, dengan ketekunan dan konsentrasi yang tinggi, Rachmat Irianto berhasil menyelesaikan skripsinya dengan baik.
"Skripsi ternyata berat dan saya pernah ada di fase menulis dihapus lagi, menulis lagi dan hapus lagi karena belum menemukan kalimat atau bagian sesuai yang diinginkan. Itu yang bikin lama. Kadang pengaruhnya di mood juga. Latihan butuh tenaga, skripsi butuh sedikit konsentrasi," ucapnya.
Pada saat sidang, Rachmat Irianto mengaku merasa deg-degan seperti sedang berlaga di lapangan. Namun, dia berhasil mengatasi semua tantangan dengan sikap santai dan penuh keyakinan. Para penguji yang terdiri dari akademisi dan pakar di bidangnya melemparkan berbagai pertanyaan yang menuntut pemikiran mendalam dari Rachmat Irianto. Namun, Rachmat Irianto mampu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan meyakinkan.
Salah satu penguji, Prof. (HC) Dr. Zainudin Amali, S.E., M.Si., menyoroti peran dan kontribusi Rachmat Irianto sebagai atlet sepak bola dalam penelitiannya. Sementara itu, Cak Hasan, Rektor UNESA, memberikan apresiasi atas prestasi Rachmat Irianto dalam dunia sepak bola dan menawarkan beasiswa lanjut studi (S2) di UNESA sebagai bentuk penghargaan.
Rachmat Irianto dengan rendah hati menerima tawaran beasiswa tersebut dan berencana untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2 di UNESA. Dia juga menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan diri sebagai seorang pelatih atau dosen di bidang olahraga.
"Main bola itu kan usianya gak menentu. Mungkin usia 24 atau 25 ada kejadian yang tidak kita inginkan, karier bisa saja usai. Atlet perlu adaptasi karier masa depan yang lebih baik, termasuk regenerasi atlet, salah satunya lewat pendidikan. Selain alasan itu, banyak alasan mengapa pendidikan itu penting bagi atlet," pungkas Rachmat Irianto.
Bagi Rachmat Irianto, sepak bola dan pendidikan memiliki peran yang sama pentingnya. Dia menyadari bahwa karir sebagai seorang atlet tidak selamanya abadi, dan pendidikan merupakan pondasi yang kuat untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Dengan ketersediaan beasiswa dan dukungan dari universitas, Rachmat Irianto yakin bahwa dia dapat mengembangkan diri dan memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat di masa yang akan datang.
Kisah prestasi Rachmat Irianto di bidang akademik menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama para atlet muda. Dia membuktikan bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan konsistensi, seseorang dapat meraih kesuksesan baik di lapangan olahraga maupun di ruang kelas universitas. Semangat dan dedikasi Rachmat Irianto mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki tekad dan keyakinan yang kuat.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
