Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Maret 2024, 23.22 WIB

Menelusuri Kisah Truk Bonek yang Ambruk Setelah Laga Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang

FOTO BERSEJARAH: Truk yang ditumpangi Bonek ambruk karena kelebihan muatan pasca pertandingan Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang pada 1995. (Sholihuddin/Jawa Pos) - Image

FOTO BERSEJARAH: Truk yang ditumpangi Bonek ambruk karena kelebihan muatan pasca pertandingan Persebaya Surabaya vs PSIS Semarang pada 1995. (Sholihuddin/Jawa Pos)

JawaPos.com — Sebuah kejadian tragis terjadi pada 17 Mei 1995. Insiden itu mengubah sebuah momen hening yang menjadi sorotan dunia.

Truk yang semestinya menjadi sarana pengangkutan bagi puluhan suporter sepak bola, malah menjadi pusat perhatian setelah terguling di tengah perjalanan.

Peristiwa itu tidak hanya menyedot perhatian karena ketidakberuntungan yang menimpa para penumpangnya, tetapi juga karena momen itu tertangkap dalam sebuah foto yang akhirnya meraih penghargaan tertinggi dalam dunia jurnalistik foto, World Press Photo 1995, kategori spot news.

Pada sore hari itu, suasana di Surabaya begitu kental dengan semangat suporter sepak bola. Pertandingan antara Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari menjadi magnet bagi ribuan pendukung yang memenuhi jalanan.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada ketegangan yang mewarnai momen-momen menjelang dan sesudah pertandingan.

Seorang wartawan Jawa Pos, Sholihuddin, mengenang momen itu dengan penuh rasa. Dia sengaja memilih tempat yang strategis untuk mengambil foto-foto, terutama mengingat risiko yang sering dihadapi oleh para fotografer ketika berada di tengah kerumunan suporter. Lokasi di depan Mapolsekta Genteng, Jalan Ambengan, menjadi pilihan yang bijak. Dari sana, dia bisa menciptakan jarak yang cukup aman untuk mengabadikan momen tanpa harus khawatir akan gangguan yang mungkin terjadi.

Namun, keputusannya untuk berada di tempat yang aman tidak membuatnya melewatkan momen penting yang terjadi. Ketika Kodam V/Brawijaya dan Polda Jatim mengerahkan truk untuk mengangkut puluhan suporter agar pulang lebih cepat, Sholihuddin dengan sigap mengambil posisinya.

Dia menyaksikan bagaimana suporter berebut tumpangan, dan bagaimana truk-truk itu akhirnya berangkat dengan beban yang melampaui kapasitasnya.

Namun, satu truk, yang kemudian menjadi pusat perhatian dunia, tidak beruntung. Truk milik kodam itu dipenuhi oleh puluhan suporter yang berebut naik. Kepadatan penumpang membuat truk itu kehilangan keseimbangan, dan akhirnya terguling. Momen tragis itu terabadikan dalam sebuah jepretan yang akhirnya memenangkan penghargaan World Press Photo.

"Istilah Jawa-nya sampai munjung," kata Sholihuddin yang kala itu menjabat direktur Jawa Pos Radar Kediri.

Peristiwa tersebut menjadi titik fokus pada malam itu. Meskipun ada kemenangan penting bagi Persebaya Surabaya dalam pertandingan melawan PSIS Semarang, namun yang lebih mencuri perhatian adalah kejadian di jalanan yang berujung pada tergulingnya truk yang memuat puluhan suporter. Inilah ironi dari sebuah momen kebahagiaan yang berubah menjadi tragedi.

Bagi Persebaya Surabaya dan PSIS Semarang, pertandingan itu merupakan babak baru dalam persaingan mereka. Persebaya Surabaya berhasil mengalahkan rivalnya dengan skor 2-0, menambah pahitnya kekalahan bagi PSIS Semarang. Namun, semangat kompetisi itu seakan pudar ketika kejadian tragis di jalanan menjadi sorotan utama.

Sholihuddin, sang fotografer di balik jepretan dramatis itu, tidak hanya menjadi saksi mata, tetapi juga penjaga cerita. Melalui fotonya, dia berhasil mengabadikan momen yang tidak hanya memenangkan penghargaan, tetapi juga menyelipkan cerita tentang keberanian, kegembiraan, dan ketidakberuntungan.

Dia berhasil menangkap esensi dari sebuah momen yang sebelumnya hanya menjadi sejarah singkat di tengah keriuhan suporter.

Namun, di balik sorotan dunia itu, ada kisah-kisah kecil yang mungkin terlewatkan. Kisah tentang kekecewaan dan kehilangan yang dirasakan oleh para suporter yang menjadi korban dalam kecelakaan truk itu. Ada rasa sedih dan kekecewaan yang meluap-luap di tengah sorak sorai kemenangan tim kesayangan mereka. Namun, seperti yang sering terjadi dalam kisah-kisah tragedi, keberanian dan semangat untuk bangkit juga terpancar dari mereka.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore