
Wayan Diana dan Gatot Mulbajadi usai berlatih dengan komunitas sepak bola Dolog Jatim.
Wayan Diana menjadi jaminan kokohnya pertahanan tim yang dibela. Itu sudah terbukti dengan mengantarkan Persebaya Surabaya menjadi juara Kompetisi Perserikatan dan NIAC Mitra di Kompetisi Galatama. Bagaimana kabarnya kini?
Sidiq Prasetyo, Surabaya
RAMBUT dan cambangnya sudah memutih. Bahkan, banyak yang tak menyangka jika dia dulunya bintang di sepak bola Indonesia. Tak sedikit pula yang hanya mengenal namanya, tapi tak pernah bertemu dengan sosoknya.
Dia adalah Wayan Diana atau nama lengkapnya I Wayan Diana. Ketika aktif menjadi pesepak bola, fisiknya sangat jauh berbeda dengan sekarang. Dulu, lelaki kelahiran Denpasar, Bali, 14 April 1955 itu tegap dan memanjangkan rambutnya.
Penampilannya semakin sangat dengan cambang yang dipelihara masih hitam. ''Saya lahir dan mulai mengenal sepak bola di Denpasar. Saat usia 18 tahun, saya sudah membela Perseden Denpasar,’’ kenang Wayan.
Dengan posisinya yang tinggi besar, Wayan mampu menjaga pertahahan Perseden dengan baik. Dari klub tersebut, bakat dan kemampuannya mulai dilirik banyak klub. Saat berlaga di Babak Delapan Besar Kompetisi Perserikatan di Jember, tawaran datang kepadanya.
''Seorang utusan Bupati Blitar mendatangi saya di hotel. Dia dapat tugas mengajak saya bergabung Blitar Putra,’’ kata Wayan.
Tawaran itu tak bisa ditolak. Selama 1973-1976, Wayan bergabung di klub tersebut. Dengan semakin matang dan pengalaman yang sudah banyak, Wayan kemudian pergi ke Kota Surabaya.
''Saya bergabung ke klub Assyabaab yang dihuni pemain-pemain bagus. Di situ sudah ada Abdul Kadir (legenda Tim Nasional Indonesia),’’ terang Wayan.
Baca Juga: Mengenang Perkesa, Klub Profesional Pertama di Sidoarjo: Didirikan di Jakarta, Pemain Mayoritas Papua, Berkandang di Gelora 10 November Surabaya
Tak butuh waktu lama baginya bisa masuk ke Persebaya Surabaya. Wayan lantas dikenang sebagai salah satu pemain yang mengantarkan Persebaya juara Perserikatan 1977. Dalam pertandingan final yang dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 28 Januari 1975, Persebaya mengalahkan seteru beratnya, Persija Jakarta, dengan skor ketat 4-3.
Gelar juara itu juga mengakhiri dahaga prestasi selama 25 tahun Persebaya tidak juara di Kompetisi Perserikatan. Kali terakhir, Persebaya juara di musim 1952 yang kebetulan juga bersaing dengan Macan Kemayoran, julukan Pesija.
''Pelatihnya Persebaya saat juara 1977 itu M. Basri dan dia juga yang mengajak saya bergabung ke NIAC Mitra untuk berkompetisi di Galatama,’’ papar Wayan.
Selain dia, ungkap Wayan, beberapa rekannya juga ikut bergabung ke NIAC Mitra. Ada nama Yudi Suryata, Rudy William Keeltjes, dan Djoko Malis. Klub milik A. Wenas ini semakin kuat dengan mendatangkan pemain-pemain bintang perserikatan dari daerah lain seperti Malawing dan Dullah Rahim dari PSM Makassar.
''Kami juara Galatama dua musim, 1980-1982 dan 1982-1983 dan kebetulan saya kaptennya. Setelah juara, Yudi, Rudy, dan Djoko pindah ke Yanita Utama tapi saya tetap bertahan di NIAC Mitra,’’ jelas Wayan yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.
Kesukesan bersama NIAC Mitra itu menjadi jalan baginya masuk ke Tim Nasional Indonesia. Tercatat, Wayan membela Pasukan Merah Putih di SEA Games 1983. Di tahun yang sama, Wayan juga menjadi kapten NIAC Mitra saat mengalahkan klub raksasa Eropa asal Inggris Arsenal dengan 2-0 dalam pertandingan uji coba di Gelora 10 Novemer Surabaya.
Baca Juga: Asam Lambung Kumat? Jangan Panik, Begini Kata Ahli Kesehatan tentang Pertolongan Pertama
Wayan bertahan di NIAC Mitra hingga 1985. Ketika itu, klub tersebut melakukan peremajaan dengan mengganti pemain-pemain lama dengan skuad baru seperti Jaya Hartono dan Hanafing.
Setelah itu, Wayan sempat membela Persebaya di musim 1985. Kiprahnya kemudian menjadi pelatih. Di antaranya di Diklat Mandau, diklat sepak bola untuk pesepak bola muda milik BUMN Pupuk Kaltim Bontang. ''Benar, saya pernah dilatih Pak Wayan di Diklat Mandau pada tahun 1997-1998,’’ tambah Jefri Dwi Hadi, mantan gelandang Persik saat juara 2006 dan Timnas Indonesia 2007.
Wayan juga pernah menangani klub perserikatan dari Kota Pasuruan, Persekap, musim 2005. Saat itu, klub tersebut berkompetisi di regional Jawa Timur. ‘’Pak Wayan pelatih dan manajernya ketika itu Michael Sanjaya, bosnya Suryanaga. Pemainnya banyak dari Surabaya,’’ tegas Ketua Askot PSSI Pasuruan Suhaimi.
Terakhir, Wayan lebih dikenal sebagai pelatih sekolah sepak bola (SSB). Klub milil legenda Persebaya, Mat Halil, El Faza, pernah dilatih. Terakhir, dia menjadi pelatih SSB di kawasan Mulyorejo yang masuk wilayah Surabaya Timur.
''Wayan juga melatih SSB di Lapangan Menanggal,’’ tandas rekan Wayan Gatot Mulbajadi. Menanggah adalah salah satu daerah di ujung selatan Kota Surabaya yang sudah berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
