Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 Maret 2024 | 23.34 WIB

Membedah Aroma Kental Orde Baru di Edisi Pertama Galatama 1979/1980 dan Moncernya Striker Lokal Indonesia

REUNI: Reuni pemain legenda Warna Agung berhadapan dengan legenda PSIS Semarang. (Warna Agung) - Image

REUNI: Reuni pemain legenda Warna Agung berhadapan dengan legenda PSIS Semarang. (Warna Agung)

JawaPos.com — Galatama 1979/1980, atau dikenal sebagai Galatama I, menjadi tonggak sejarah dalam dunia sepak bola Indonesia.

Musim pertama kompetisi sepak bola semi-profesional ini tidak hanya mencatatkan sejarah baru dalam lanskap olahraga Tanah Air, tetapi juga mengungkap aroma kental dari rezim Orde Baru yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia olahraga.

Kompetisi ini melibatkan sejumlah klub dari berbagai kota di Indonesia, dengan kebanyakan tim berasal dari klub anggota internal Perserikatan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Salah satu contohnya adalah klub Jayakarta, yang merupakan bagian dari Persija Jakarta.

Dalam musim perdana Galatama ini, peran pemerintah terutama dari pemerintahan Orde Baru sangatlah mencolok. Pembukaan kompetisi ini sendiri menjadi bukti nyata akan keterlibatan pemerintah, meskipun bukan Menteri Pemuda dan Olahraga yang membukanya.

Pada masa itu, jabatan Menteri yang secara khusus mengurus urusan olahraga belum ada. Namun, hal ini tidak mengurangi perhatian pemerintah terhadap perkembangan sepak bola di Indonesia. Kompetisi Galatama menjadi salah satu wujud dari perhatian tersebut.

Pembukaan musim perdana Galatama pada 1979 dilakukan oleh seorang menteri, namun bukan dari kementerian olahraga. Melainkan, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada saat itu yang membuka kompetisi ini.

Surono Reksodimedjo, yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, menjadi perwakilan pemerintah yang membuka secara resmi kompetisi Galatama musim pertama. Pembukaan ini merupakan langkah simbolis yang menandai dimulainya era sepak bola semi-profesional di Indonesia.

Di era awal Galatama itu, Menko Kesra Surono melakukan tendangan pertama untuk memulai kompetisi Galatama di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 17 Maret 1979.

Meskipun tidak secara langsung terlibat dalam pengelolaan olahraga, pemerintah Orde Baru sangatlah intens memantau perkembangan Galatama. Langkah ini sejalan dengan semangat pembangunan yang diusung oleh rezim Orde Baru di berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk olahraga.

Pertandingan pembuka Galatama antara Arseto (Jakarta) dan Pardedetex (Medan) pada 17 Maret 1979 menjadi momen bersejarah. Dalam pertandingan ini, Arseto berhasil menang 3-2 atas Pardedetex di Stadion Utama Senayan.

Abdul Kadir mencetak gol pertama dalam sejarah Galatama, yang terjadi pada menit keempat pertandingan tersebut. Meskipun Stadion Utama Senayan hanya menjadi tempat pembukaan, klub-klub dari Jakarta kemudian menggunakan Stadion Menteng sebagai markas mereka.

Galatama edisi pertama menampilkan klub-klub dari berbagai kota di Indonesia, dengan Jakarta menjadi penyumbang klub terbanyak, yaitu delapan tim. Meskipun demikian, keterlibatan klub dari luar Jakarta juga memberikan warna tersendiri bagi kompetisi ini.

Galatama 1979/1980 menjadi bukti konkret akan keterlibatan pemerintah Orde Baru dalam mengembangkan olahraga sepak bola di Indonesia. Dengan keterlibatan yang intens, Galatama menjadi awal dari era sepak bola semi-profesional di Indonesia yang turut membentuk sejarah olahraga Tanah Air.

Fakta Galatama edisi perdana 1979/1980:

Musim: 1979–1980

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore