Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Februari 2024 | 23.11 WIB

Kisah Kelam yang Tak Terlupakan di Laga Persebaya Surabaya vs Persik Kediri

FOKUS: Persebaya Surabaya bersiap menghadapi anniversary game kontra Persik Kediri Sabtu, 17 Juni 2017. (JawaPos) - Image

FOKUS: Persebaya Surabaya bersiap menghadapi anniversary game kontra Persik Kediri Sabtu, 17 Juni 2017. (JawaPos)

PADA 17 Juni 2017, diperingati sebagai hari yang dinantikan oleh para pendukung Persebaya Surabaya dan Persik Kediri. Pertandingan antara kedua tim tersebut dijadwalkan sebagai bagian dari Anniversary Game, sebuah laga yang menandai momen istimewa dalam rentang waktu kompetisi Liga 2 2017 yang sedang berada dalam masa libur Ramadan.

Moch. Rizky Pratama Putra, Reporter JawaPos.com

---

Bagi banyak orang, pertandingan sepak bola mungkin hanya sebuah ajang olahraga biasa, tetapi bagi para Bonek dan Persikmania, pertemuan antara Persebaya dan Persik Kediri bukanlah sekadar pertandingan biasa. Di balik pertemuan ini, tersimpan kisah kelam yang belum terlupakan.

Bagi seorang pendukung Persebaya Surabaya, pertandingan ini tidak hanya menjadi agenda rutin di kalender, tetapi juga sebuah momen penting yang telah lama dinantikan. Tiket pertandingan sudah dibeli, semangat untuk hadir di stadion telah membara. Namun, di balik keramaian dan antusiasme tersebut, tersimpan cerita tragis yang terjadi tujuh tahun sebelumnya, yang mengiringi pertandingan antara Persebaya Surabaya dan Persik Kediri.

Pada 29 April 2010, dalam jadwal Liga Super Indonesia, pertandingan antara Persebaya Surabaya dan Persik Kediri dijadwalkan di Stadion Brawijaya, Kediri. Pertandingan ini memiliki makna yang sangat penting bagi kedua tim, karena keduanya berjuang untuk masuk ke zona play-off promosi-degradasi.

Namun, nasib berkata lain ketika Persik Kediri gagal mendapatkan izin dari kepolisian untuk menyelenggarakan pertandingan di kandangnya, Kediri. Meskipun kesempatan diberikan kepada Persik Kediri untuk memindahkan pertandingan ke Jogjakarta, tetapi pertandingan di sana juga gagal terselenggara.

Aturan Liga menyatakan bahwa jika tuan rumah gagal menyelenggarakan pertandingan, tim tamu akan dinyatakan menang walkover (WO). Namun, keputusan tersebut tidak langsung diberikan kepada Persebaya Surabaya oleh PT. Liga Indonesia. Persik Kediri mengajukan banding, dan PT. Liga memberikan kesempatan kepada Persik Kediri untuk menggelar pertandingan kandangnya kembali di Kediri. Namun, pertandingan kembali gagal terselenggara, bahkan setelah beberapa kali penjadwalan ulang.

Ketidakpastian ini memicu kekecewaan di antara para pendukung Persebaya Surabaya. Para Bonek merasa ada yang tidak beres dan memutuskan untuk melakukan protes dengan merayakan "kosongkan Surabaya, hijaukan Kediri". Namun, saat mereka tiba di Kediri, mereka malah disambut dengan stadion yang sepi. Persik Kediri gagal kembali menggelar pertandingan karena izin dari kepolisian tidak turun.

Keputusan yang terus menerus ditunda-tunda ini membuat Persebaya Surabaya akhirnya lelah. Mereka memutuskan untuk tidak datang ke Palembang untuk pertandingan yang dijadwalkan ulang dan harus menerima kekalahan WO. Sementara itu, Persik Kediri juga gagal naik peringkat, dan Pelita Jaya tetap bertahan di Liga Super Indonesia.

Efek dari kegagalan terselenggaranya pertandingan ini tidak hanya berdampak pada kedua klub, tetapi juga pemecatan Kapolresta Kediri saat itu dan hubungan yang tegang antara PSSI dan Persebaya Surabaya. Namun, dari kegagalan ini juga muncul dampak positif, yaitu persatuan antara suporter Persik Kediri dan Persebaya Surabaya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang perjuangan di luar lapangan. Pertandingan yang tertunda antara Persebaya Surabaya dan Persik Kediri menjadi sebuah memorabilia kelam yang tak terlupakan dalam sejarah Persebaya Surabaya.

Setelah mengingat kisah tersebut, Suporter sepak bola menyadari bahwa sepak bola tidak hanya tentang 90 menit di lapangan. Mereka berbagi kisah ini dengan rekan-rekan sesama pendukung Persebaya Surabaya, ingin menyampaikan bahwa perjuangan Persebaya Surabaya untuk kembali bersaing di kompetisi sepak bola Indonesia layak untuk diperjuangkan.

Kisah ini menyadarkan bahwa sepak bola adalah lebih dari sekadar olahraga, tetapi juga tentang nilai-nilai, perjuangan, dan solidaritas di antara para penggemar. Semangat yang dibawa oleh pertandingan antara Persebaya Surabaya dan Persik Kediri bukan hanya tentang mencetak gol atau memenangkan pertandingan, tetapi tentang melampaui rintangan dan menjaga semangat sportivitas dalam menghadapi cobaan yang muncul. Momen ini menjadi sebuah pelajaran berharga tentang kekuatan solidaritas dan tekad yang tak tergoyahkan dalam menghadapi tantangan, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore