
Syamsul Arifin saat bermain dengan cucunya di rumah.
Sosoknya tak menunjukan Syamsul Arifin pemain besar. Wajar banyak orang hanya tahu namanya dibandingkan wajahnya.
Sidiq Prasetyo, Surabaya
"Ayo ke Masjid dulu. Sudah adzan dan waktunya salat. Ngobrolnya nanti usai dari masjid." Itulah yang diucapkan Syamsul Arifin ketika ditemui di rumahnya di kawasan Tenggilis, Surabaya.
Jarak rumahnya dengan masjid sangat dekat. Tak lebih dari 50 meter. Syamsul memang sosok yang religius. Bukan hanya sekarang tapi sejak muda, termasuk saat masih aktif sebagai pesepakbola.
Dari sepak bola pula, Syamsul mendapat ketenaran. Memulai karirnya di kampung halamannya di Kabupaten Malang, dia kemudian terpantau bakatnya oleh wasit yang memimpin pertandingan dalam sebuah pertandingan uji coba di Pasuruan.
"Pada 1976, saya diajak ke Surabaya oleh wasit itu. Katanya ada klub baru yang bagus dan bosnya kaya," kenang Syamsul yang ketika itu sudah bergabung dengan klub daerahnya, Persekam Kabupaten Malang.
Tawaran itu pun diterima. Syamsul pun berangkat ke Kota Pahlawan. "Latihannya waktu itu belum setiap hari. Oleh Wenas (A.Wenas, bos Mitra) kalau malam saya jadi petugas tiket di gedung bioskop miliknya," ujar Syamsul.
Di Mitra, ungkapnya, Wenas juga mengumpulkan pemain-pemain bagus. Mereka, jelas Syamsul, bukan hanya dari Surabaya.
"Bahkan banyak juga dari luar Jawa Timur. Ada dari Solo dan Sragen di Jawa Tengah," tutur Syamsul.
Dengan materi itu, wajar akhirnya Mitra menjuarai kompetisi Persebaya. Para pemainnya pun juga direkrut oleh Persebaya dan mengantarkan klub itu menjuarai Kompetisi Perserikatan pada 1977.
"Saya masuk di Tim B Persebaya. Persaingannya memang ketat untuk bisa masuk Tim A," kata Syamsul.
Setahun kemudian, 1978, Wenas mendidikan NIAC Mitra. Syamsul pun masuk ke klub itu. Di ajang kompetisi semiprifesional itu, kualitas Syamsul semakin moncer.
Di musim pertama Galatama 1978/1990, dia menjadi pencetak gol terbanyak. Sebanyak 30 gol dia jaringkan ke gawang lawan.
"Saya juga menjadi juara bersama NIAC Mitra di Kompetisi Galatama musim 1980-1982 dan 1982-1983," jelasnya.
Namun di musim 1985, Syamsul harus meninggalkan NIAC Mitra. Keinginan Wenas melakukan regenerasi membuatnya dengan berat hati pergi dari klub yang sangat dicintainya itu.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
