Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 16.41 WIB

Sejarah Panjang M Pamoedji dan Kontribusinya Terhadap Sepak Bola Kota Surabaya, Persibaja

MENELUSURI JEJAK: Peserta Babad Balbalan Suroboyo menelusuri jejak tokoh penting Kota Surabaya dan Persibaja, M. Pamoedji di makamnya, Karang Tembok, Simokerto, Kota Surabaya. - Image

MENELUSURI JEJAK: Peserta Babad Balbalan Suroboyo menelusuri jejak tokoh penting Kota Surabaya dan Persibaja, M. Pamoedji di makamnya, Karang Tembok, Simokerto, Kota Surabaya.

JawaPos.com - Surabaya merupakan sebuah kota yang kaya akan sejarah dan kebanggaan. Di tengah keriuhan kota ini, terdapat satu cerita yang melekat erat dengan identitasnya - cerita tentang Persebaya Surabaya.

Dalam perjalanan panjang klub ini, satu nama yang menjadi landasan penting adalah M. Pamoedji, seorang tokoh yang bukan hanya Residen, tetapi juga sosok yang memberikan kontribusi monumental terhadap sepak bola di kota ini.

Pada 1950 dilansir dari guide book Babad Balbalan Suroboyo, M. Pamoedji diangkat sebagai Residen, sebuah posisi yang tidak hanya memegang tanggung jawab pemerintahan, administrasi, dan peradilan kota, tetapi juga memiliki dampak besar pada dunia olahraga, khususnya sepak bola.

Dalam sorotan ini, kami akan mengupas perjalanan M. Pamoedji dan bagaimana kontribusinya telah membentuk sejarah sepak bola Surabaya, terutama melalui Persibaja.

M. Pamoedji tidak hanya seorang administrator yang berdedikasi, tetapi juga seorang pemimpin dalam dunia sepak bola. Menjabat sebagai Voorzitter (ketua umum) Persibaja pada 1950/1951, dia bersama The Boen Hwan sebagai wakil ketua, mengarahkan Persibaja menuju kejayaan yang menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan dalam kompetisi PSSI pada 1951.

Peran M. Pamoedji bukan hanya sekadar jabatan, melainkan sebuah dedikasi penuh cinta pada sepak bola dan Surabaya. Persibaja di bawah pimpinan beliau bukan hanya menciptakan sejarah dengan meraih kampioenschap PSSI pada t1951, tetapi juga membawa semangat juang yang menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya.

Babad Balbalan Suroboyo, sebuah inisiatif dari Bonek Campus Unesa, menjadi pintu gerbang bagi para pencinta sepak bola, terutama Bonek, untuk menjelajahi dan memahami akar sejarah Persebaya Surabaya. Acara ini, yang dilaksanakan pada Sabtu (3/2), memberikan kesempatan langka untuk menggali lebih dalam tentang perjalanan panjang klub ini.

Mengusung konsep sastra babad, "Babad Balbalan Suroboyo" bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga membuka lembaran baru dalam sejarah Persebaya.

Surabaya, dengan segala tempat bersejarahnya, menjadi panggung utama acara ini. Dan, Museum Olahraga Surabaya, Lapangan THOR, Makam M. Pamoedji, dan Wisma Persebaya menjadi saksi bisu awal terbentuknya Persebaya Surabaya.

Tour guide berpengalaman, Fery Widyatama, seorang penulis buku yang menggali secara mendalam perjalanan sepak bola Bumiputera di Surabaya, memandu peserta melalui setiap sudut kota yang menyimpan rahasia sejarah Persebaya. Dalam babad ini, kita tidak hanya menyimak kisah-kisah masa lalu, tetapi juga merasakan getirnya perjalanan klub ini.

M. Pamoedji, dalam perannya sebagai Residen dan Voorzitter, menciptakan pondasi yang kukuh bagi Persibaja. Keterlibatannya tidak hanya sebatas administratif, melainkan juga menjadi pionir dalam membangun semangat kebersamaan dan dedikasi tinggi dalam dunia sepak bola Surabaya.

Melalui peristiwa-peristiwa bersejarah seperti "Babad Balbalan Suroboyo", kita dapat memahami bahwa Persebaya Surabaya bukan hanya sekadar klub sepak bola. Dia adalah bagian dari identitas Surabaya yang tumbuh dan berkembang melalui masa-masa sulit dan penuh kejayaan.

Dalam kata-kata Fery Widyatama, pemandu perjalanan dalam Babad Balbalan Suroboyo, mengatakan. "Menjadi Residen dan Ketua Persibaja pada tahun 1950, Pamoedji diangkat menjadi Residen (kini setingkat walikota) di Kota Surabaya yang memiliki wewenang untuk menjalankan tugas-tugas pemerintahan, administrasi, fiskal, peradilan, dan lain sebagainya, termasuk juga pada bidang olahraga sepak bola. Sepak terjang Pamoedji dalam perkembangan Persibaja tentu tidak bisa dihilangkan dalam memori mengingat beliau pernah menjabat sebagai voorzitter (ketua umum) pada 1950/1951 menggantikan Dr. Aminudin. Bersama dengan The Boen Hwan (wakil ketua), Persibaja menjelma menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan dalam upaya merebut kampioenschap PSSI tahun 1951.”

Babad Balbalan Suroboyo bukan hanya tentang merenungkan masa lalu, tetapi juga tentang merangkul masa depan. Dengan memahami sejarah, Bonek, sebagai penggemar setia Persebaya, dapat membawa nilai-nilai dan semangat klub ke dalam perjalanan mendukung tim kesayangan mereka.

Persebaya Series #3" tidak sekadar acara, melainkan sebuah study tour sejarah yang berbeda. Para peserta bukan hanya diajak menyaksikan sejarah, tetapi juga merasakannya. Tour guide berpengalaman akan memandu mereka melalui kisah-kisah menarik yang melibatkan tempat-tempat bersejarah tersebut.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore