Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Januari 2024, 01.43 WIB

Mitos Stadion Angker dan Ajakan Paul Munster Mendukung Persebaya Surabaya

HIJAUKAN STADION GBT: Bonek dan Bonita ketika memadati Stadion GBT. Paul Munster hingga Bruno Moreira mengharapkan kehadiran mereka saat menjamu PSIS Semarang, Selasa (30/1). (Persebaya) - Image

HIJAUKAN STADION GBT: Bonek dan Bonita ketika memadati Stadion GBT. Paul Munster hingga Bruno Moreira mengharapkan kehadiran mereka saat menjamu PSIS Semarang, Selasa (30/1). (Persebaya)

JawaPos.com - Stadion, tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menyaksikan pertandingan sepak bola. Bagi suporter setia, Bonek, stadion telah bertransformasi menjadi pusat rekreasi yang penuh kenangan dan kegembiraan.

Perbedaan budaya antara Eropa dan Amerika dalam menikmati olahraga tampaknya telah menyatu dalam sebuah fenomena yang menyenangkan, stadion sebagai destinasi rekreasi.

Pertama-tama, mari kita telaah perbedaan budaya dalam mengekspresikan kecintaan pada olahraga. Eropa dan Amerika memiliki pandangan yang berbeda terkait durasi pertandingan. Di Amerika, pertandingan seringkali diperpanjang dengan time-out, membuat suasananya berlangsung hingga empat jam atau lebih. Di sisi lain, di Eropa, khususnya dalam sepak bola dan bola basket, pertandingan biasanya tidak lebih dari 90 atau 100 menit.

Namun, tidak hanya durasi pertandingan yang menentukan pengalaman para penggemar. Sebelum dan setelah pertandingan, suasana di stadion juga menjadi krusial. Di Amerika, budaya ‘kongkow’ muncul, di mana suporter berkumpul untuk memanggang dan berbagi makanan dan minuman di tempat parkir stadion.

Suasana pesta ini bisa berlangsung tiga hingga empat jam sebelum pertandingan dimulai dan kadang-kadang bahkan berlanjut hingga dua jam setelah pertandingan berakhir.

Eropa mengadopsi ide serupa dengan menggelar pertemuan di pub, bar, dan restoran sekitar stadion. Penganut sepak bola dan bola basket Eropa dapat menikmati hidangan dan minuman sambil berdiskusi dan menikmati atmosfer sebelum dan setelah pertandingan.

Fenomena ini dapat ditemukan di 36 stadion Eropa terpopuler, di mana setidaknya ada 10 tempat dalam radius sepuluh menit berjalan kaki yang dijadikan tempat pertemuan.

Namun, yang menarik adalah bagaimana stadion di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, semakin berkembang menjadi pusat rekreasi yang menawarkan lebih dari sekadar pertandingan.

Paul Munster, pelatih Persebaya Surabaya, memahami betul pentingnya kehadiran suporter. Dalam menghadapi PSIS Semarang, Munster mengajak Bonek, pendukung setia Persebaya, untuk memenuhi Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).

"Penting bagi kami untuk bermain di hadapan Bonek. Mereka adalah pemain ke-12, mari penuhi GBT, dukung kami berjuang mengejar kemenangan," ajak Munster dengan semangat.

Paul Munster, yang sebelumnya melatih Bhayangkara FC, sudah merasakan atmosfer GBT sebagai tim tamu. Kini, sebagai tuan rumah, Paul Munster yakin bahwa stadion yang penuh akan memberikan keuntungan bagi Persebaya Surabaya.

Ajakannya tidak hanya sekadar seruan biasa, tapi merupakan undangan untuk merayakan stadion sebagai pusat rekreasi yang menyenangkan.

Dalam tiga minggu kepemimpinannya, Paul Munster telah membawa banyak perubahan dalam tim. Latihan keras, kegiatan team bonding, dan uji coba melawan Persik Kediri adalah sebagian dari persiapan menyeluruh untuk menghadapi PSIS Semarang.

Paul Munster ingin melibatkan Bonek dalam setiap langkah perjalanan Persebaya Surabaya menuju kemenangan.

Sebagai pelatih yang memahami pentingnya dukungan suporter, Paul Munster tidak hanya mengundang Bonek ke stadion untuk mendukung tim, tetapi juga untuk merasakan sendiri atmosfer kebersamaan dan kegembiraan di GBT. Pesta sepak bola bukan hanya terjadi di lapangan, tapi juga di tribun dan sekitar stadion.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore