
Dwi Kuswanto Penjaga Gawang Persela Lamongan. Allex Qomarulla/Jawa Pos
JawaPos.com – Insiden yang melibatkan Dwi Kuswanto dan Wahyudi Hamisi pada laga Persela Lamongan kontra Borneo FC di Stadion Surajaya, Lamongan, Senin malam (29/7) memicu kericuhan yang mengakibatkan pertandingan terhenti sekitar 25 menit. Apa sebetulnya yang terjadi. Berikut wawancara Jawa Pos dengan kiper Persela Dwi Kuswanto.
Apa yang membuatmu melakukan tindakan tersebut? Padahal, saat itu kemenangan Persela sudah di depan mata.
Pertama-tama, melalui kesempatan ini saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada manajemen, pelatih, dan rekan-rekan pemain karena ulah saya poin penuh menjadi hilang. Saya juga minta maaf kepada suporter telah membuat mereka kecewa. Kenapa saya melakukan itu? Saya lepas kontrol karena anak muda (Wahyudi Hamisi) berani membentak. Saya langsung emosional. Saya terprovokasi ulah dia.
Photo
Persela Lamongan
Apa yang sebenarnya dikatakan Hamisi sehingga kamu begitu emosional?
Dia berkata kasar. Tidak enak didengar. Maaf, saya tidak bisa mengungkapkannya. Yang jelas, dia sangat tidak sopan.
Kamu sudah ketemu Hamisi setelah pertandingan?
Saat berjalan di lorong menuju ruang ganti, kami bertemu. Dia meminta maaf kepada saya. Tapi, saya memilih menjauh daripada saya tambah emosional.
Tapi, kamu sadar bahwa ulahmu sangat merugikan tim?
Saya sangat menyesal telah melakukan tindakan tersebut. Apalagi, kemenangan yang sudah dalam genggaman Persela menjadi terlepas. Sekali lagi saya lepas kontrol. Itu murni karena saya emosional. Pemain sekelas Zinedine Zidane saja marah besar karena diprovokasi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sekali lagi, saya minta maaf. Apa yang terjadi kemarin tentu menjadi pelajaran penting bagi saya.
Banyak yang akhirnya menuduh kamu sengaja melakukan itu agar Persela tidak menang.
Di IG (Instagram) banyak yang menuduh saya macam-macam. Ada yang menulis komentar: rekeningmu sudah bertambah? Terus terang tuduhan-tuduhan itu sangat menyakitkan. Semua tuduhan tersebut tidak benar. Saya bermain memakai hati. Tidak main-main. Kartu merah ini merupakan yang pertama dalam karir saya. Itu bukti saya tidak main-main.
Sekali lagi, semua tuduhan yang dialamatkan ke saya tidak benar. Sangat menyakitkan. Kalau memang mau main-main, saya bisa melakukannya sejak dulu. Sebab, dulu kesempatannya begitu terbuka. Tapi, saya tidak pernah melakukan itu. Kalau saya melakukannya, karir saya pasti pendek.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
