
Ketua Umum PSSI Erick Thohir (tengah) mengumumkan daftar Komite Tetap dan Ad Hoc 2023-2027.
JawaPos.com–Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir menegaskan akan tetap mengawal dan mengusut tragedi Kanjuruhan. Peristiwa itu telah menewaskan korban 135 orang.
Erick Thohir menyampaikan, PSSI tidak tinggal diam, melainkan terus berusaha menghadirkan keadilan bagi para korban sembari melakukan transformasi sepak bola nasional.
”Kami terbuka. Saya pastikan PSSI hadir. Kami hadir untuk perbaiki sepak bola, saya tidak ingin PSSI disebut terus berdiam diri,” ucap Erick Thohir dikutip dari laman resmi PSSI, Rabu (26/7).
Menteri BUMN itu sadar upaya yang dilakukan tidak ada yang dapat mengobati rasa kehilangan keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Dia memahami, tidak ada hal apapun yang dapat mengimbangi kesedihan mendalam para keluarga korban.
Erick mengatakan, sejak sebelum menjadi ketua umum PSSI telah membantu secara pribadi dengan membuat konser amal yang dananya disumbangkan seluruhnya kepada keluarga korban tragedi Kanjuruhan.
”Kehilangan keluarga bukan hal mudah, itu perlu diakui. Apapun effort-nya tidak ada imbangannya. Saya bikin konser amal ke Bekasi, kita kumpulkan dana sumbangan, dan sumbangannya telah kami sampaikan, bahkan keluarga korban pun kami undang. Apakah itu bisa cukup? Tentu tidak,” ucap Erick.
Selain memberikan dukungan moril, Erick menegaskan, PSSI mendukung langkah hukum yang saat ini tengah berjalan. PSSI mendukung penegakan sanksi hukum yang maksimal.
”Kami akan dorong adanya hukuman maksimal, tanpa harus berpolemik siapa. Kita ada sistem pengadilan, pengadilan lah yang memproses. Kami tidak dapat mengintervensi sistem peradilan, tetapi kami mendorong sanksi itu,” ucap Erick.
Erick mengatakan, tragedi Kanjuruhan menjadi momentum perbaikan sepak bola secara menyeluruh. Salah satunya mantan Bos Inter Milan itu menyebut, perbaikan sepak bola nasional untuk membenahi sebanyak 22 stadion direnovasi agar memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pencinta sepak bola hadir di lapangan.
Erick menambahkan tragedi Kanjuruhan tidak boleh terulang. Perbaikan akses suporter di seluruh stadion dilakukan untuk memastikan suporter pulang dengan selamat.
”Memang ada yang menginginkan agar stadion ini tidak direnovasi. Namun, keputusan harus diambil, Stadion ini mau diapakan. Karena pemerintah pusat telah memasukkan Stadion Kanjuruhan sebagai salah satu dari 22 stadion yang dibangun,” ucap Erick.
Erick juga menyampaikan, dampak tragedi Kanjuruhan sangat besar pada langkah-langkah perbaikan persepakbolaan Indonesia. Diawali dengan kehadiran FIFA ke Indonesia.
Presiden FIFA Giani Infartino bertemu Presiden Joko Widodo. Saat itu Indonesia menyampaikan keinginan untuk membangun sepak bola secara serius.
Kemudian, diputuskan bahwa selama kompetisi liga, untuk sementara tidak dihadiri suporter dari tim tamu. Keputusan tersebut diambil untuk mencegah terulangnya kembali tragedi Kanjuruhan.
”Dengan kerendahan hati kami memohon suporter bersabar. Kami tidak bermaksud mengekang. Itu bagian dari regulasi,” ucap Erick.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
