
ON FIRE: Striker Madura United Peter Odemwingie benar-benar berpengaruh di timnya.
JawaPos.com- Marquee player. Kalau melihat 15 pemain yang memiliki status itu di Liga 1, pencinta sepak bola tanah air mungkin masih bertanya-tanya, tolok ukurnya sebenarnya apa. Kalau berdasar manual liga, marquee adalah pemain yang masuk skuad tim nasional dalam tiga putaran Piala Dunia terakhir.
Kalau belum masuk kategori itu, setidaknya dalam kurun waktu delapan tahun terakhir dia pernah bermain di liga elite Eropa seperti Premier League Inggris, La Liga Spanyol, Serie A Italia, Eredivisie Belanda, Ligue 1 Prancis, Bundesliga Jerman, Super Lig Turki, dan Primeira Liga Portugal.
Selain aturan itu, Wakil Ketua PSSI Joko Driyono menuturkan, pemain bisa disebut marquee player apabila anggaran klub telah melebihi salary cap. Tahun ini PSSI telah menetapkan batasan salary cap di setiap klub per musim sebesar Rp 15 miliar. Apabila klub ingin menambah pemain lagi, sementara batas salary cap sudah terpenuhi, persyaratan marquee player berlaku.
Dengan aturan tersebut, pemain yang sangat terkenal pun belum tentu masuk sebagai marquee player jika klub masih bisa memenuhi salary cap. Joko mencontohkan, Wayne Rooney belum tentu terdaftar sebagai marquee player apabila dikontrak Rp 2 miliar–Rp 3 miliar. ”Kebijakan tiap-tiap tim. Selama belum melampaui salary cap,belum disebut marquee,” ujar Joko.
Lalu, bagaimana kasus Persib Bandung yang punya Michael Essien dan Carlton Cole? Begitu juga PSM Makassar yang punya Wiljan Pluim dan Steven Paulle. Dua pemain tersebut juga sebenarnya bisa masuk definisi marquee player karena sama-sama pernah main di level tertinggi liga masing-masing.
”Di Persib yang di-notice sebagai marquee adalah Essien, sedangkan Carlton masih dalam regulasi karena tetap masuk salary cap. Marquee player bukan distempel oleh PSSI, tapi distempel oleh klub lebih dulu,” ujar pria asal Ngawi itu.
Jadi, menurut Joko, aturan marquee player saat ini sudah merupakan gabungan antara nilai pemain di pasar (di atas salary cap) dan kualitas (delapan liga Eropa). Meskipun begitu, PSSI pasti tetap mengevaluasi. ”Tentu masalah-masalah yang ada akan kami jadikan evaluasi,” ujar Joko.
Lalu, bagaimana kasus pemain marquee yang ternyata belum berkontribusi kepada tim? Apakah regulasi pemain yang berlaku sekarang ini sudah tepat? Apakah aturan pernah main di delapan liga teratas Eropa tidak terlalu melebar?
Joko mengungkapkan, batasan pemain dari delapan liga Eropa dalam kurun delapan tahun terakhir sebenarnya sudah merupakan usaha untuk menjaga kualitas. ”Bisa jadi, ada pemain yang tidak terjangkau (terkenal, Red) tapi memiliki kualitas yang lebih baik daripada mayoritas pemain yang ada di klub,” ujar Joko. (rpd/io/dit/rid/c11/ham)

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
